tetrazolium
DAFTAR ISI
COVER......................................................................................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................................................................ii
Tetrazolium merupakan suatu cara
pengujian terhadap viabilitas benih secara cepat dan bersifat tidak langsung.
Pengujian ini menggunakan garam tetrazolium. Garam tetrazolium ini merupakan
senyawa kimia yang dapat direduksi secara enzymatic didalam jaringan benih yang
masih hidup. Reduksi senyawa ini akan merubah senyawa formazan yang berwarna
mwerah cerah.
Garam tetrazoluim merupakan bahan yang
tidak berwarna, di dalam jaringan-jaringan sel hidup, zat ini ikut serta dalam
proses reduksi. Dengan proses hidrogenida, dalam sel hidup terbentuklah
triphenyl formazan yang berwarna merah stabil dan bersifat tidak difus. Dan ini
kemungkinan untuk dapat membedakan sel hidup yang berwarna merah dari bagian
sel mati yang tidak berwarna. Dari posisi dan ukuran daerah berwarna dan tidak
berwarna pada embrio dan atau endisperm dapat ditentuka apakah benih tersebut
digiolongkan sebagai vabel atau non viabel.
Reaksi tetrazolium akan sangat baik
apabila berada pada suhu udara sekitar 40oC dan dalam larutan denagn pH 7.
Dasar dari pertimbangan uji tetrazolium adalah keterbatasan waktu, benih
bersifat dorman dan kepentingan riset. Kriteria pewarnaan untuk uji tetrazolim
meliputi : jika warna merah cerah maka jaringan masih hidup, warna merah jambu
maka jaringan sudah lemah, jika warna merah tua maka jaringan rusak, dan jika
tidak berwarna maka jaringan sudah mati.
Prinsip kerja uji Tetrazolium adalah
berdasarkan perbedaan warna dari benih setelah direndam dalam larutan
Tetrazolium. Jaringan dalam benih itu hidup akan menghasilkan suatu reaksi pada
benih dengan menimbulkan Kriteria pewarnaan : merah cerah, jaringan masih hidup
; merah jambu, jaringan sudah lemah ; merah tua, jaringan rusak ; tak berwarna,
jaringan sudah mati.
1.
Agar
mahasiswa mampu mendeteksi viabilitas benih dengan metode cepat uji
tetrazolium.
2.
Agar
dapat mahasiswa mempelajari morfologi internal benih dan bagian-bagian benih
yang kritis untuk perkecambahan benih.
Viabilitas
adalah kemampuan benih tumbuh normal dalam kondisi yang optimum (Anonim 2008). Viabilitas adalah
kemampuan benih berkecambah dan menghasilkan kecambah normal dalam kondisi
lingkungan yang optimum. Viabilitas suboptimum (vigor) merupakan kemampuan
benih untuk tumbuh menjadi tanaman yang berproduksi normal dalam keadaan
optimum atau mampu disimpan dalam kondisi simpan yang suboptimum dan tahan
simpan lama dalam keadaan yang optimum. Uji Viabilitas Dapat melalui indikasi
langsung ataupun indikasi tidak langsung, yaitu Uji Daya Kecambah (%) uji
viabilitas langsung (menguji kinerja pertumbuhan /perkecambahan benih) dan Uji
Secara Biokimia uji viabilitas tidak langsung (gejala kehidupan atau kapasitas
metabolisme). Contoh: Uji Tetrazolium, Uji FeCl3, Uji DHL (Daya Hantar
Listrik), dll (Sadjad 2004).
Vigor
dipisahkan antara vigor genetik dan vigor fisiologi. Vigor genetik adalah vigor
benih dari galur genetik yang berbeda-beda sedang vigor fisiologi adalah vigor
yang dapat dibedakan dalam galur genetik yang sama.Vigor fisiologi dapat
dilihat antara lain dari indikasi tumbuh akar dari plumula atau koleptilnya,
ketahanan terhadap serangan penyakit dan warna kotiledon dalam efeknya terhadap
Tetrazolium Test (Kamil 2006).
Uji
viabilitas benih atau daya hidup benih yang dicerminkan oleh dua informasi
masing-masing daya kecambah dan kekuatan tumbuh dapat ditunjukan melalui
gejala-gejala metabolisme benih dan/atau gejala pertumbuhan. Uji viabilitas
benih dapat dilakukan secara tak langsung, misalkan dengan mengukur
gejala-gejala metabolisme ataupun secara langsung dengan mengamati dan
membandingkan unsur-unsur tumbuh tertentu. stuktur pertumbuhan yang dinila dari
akar, batang, daun dan daun lembaga. Nilai hasil pengujian daya kecambah
merupakan nilai minimum. Harga tengah antara kedua nilai pengujian di
laboratorium akan menjadi nilai tumbuh di lapangan (Anonim 2008).
Viabilitas
benih didefinisikan sebagai kemampuan benih untuk berkembang atau daya kecambah
pada tanaman muda (misal perkecambahan) di bawah kondisi lingkungan yang
menguntungkan setelah dormansi. Pengeringan terlalu lama pada temperature yang
tinggi akan menyebabkan viabilitas benih mengalami degradasi pada enzim dan
hidrolisis pada pati. Semakin lama pada temperature tinggi akan menyebabkan
benih mati (Gine 2006).
Semua
kekurangan-kekurangan uji perkecambahan secara langsung dapat diatasi apabila
viabilitas benih dapat diukur dengan suatu penduga biokimia di aktivitas
metabolisme benih. Di dalam suatu uji biokimia tanda terjadinya proses reduksi
dalam sel hidup dihasilkan oleh reduksi di suatu indikator. Garam tetrazolium
merupakan bahan yang tidak berwarna, di dalam jaringan sel hi bahan ini akan
ikut serta dalam proses reduksi (Soejadi dan Sadiman 2007).
Praktikum
ini dilaksankan di Kampus 1, Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan
dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal 01 bulan Desember tahun 2018.
Bahan
yang digunakan dalampraktikum ini adalah jagung, kertas dan larutan
tetrazolium.
Alat
yang dipakai dalam praktikum ini adalah petridis, gelas ukur, pinset dan
pisau.
1.
Menyiapkan
benih jagung yang akan diuji ( benih lama dan baru ) dengan carabenih
dilembabkan terlebih dahulu selama 12 jam atau direndam selama 4 jam
2.
Menyiapkan
larutan tetrazolium konsentrasi 0,1 persen.
3.
Benih
jagung dibelah secara longitudinal kemudian direndam dalam larutan tetrazolium
konsentrasi 0.1 persen.
4.
Meletakkan
wadah perendaman didalam oven pada suhu 400 c dan diamkan kurang
lebih dua jam.
5.
Setelah
2 jam mencuci benih yang direndam dalam larutan tetrazolium dengan air.
6.
Mengevaluasi
dengan mengamati pola pewarnaan pada (sel/jaringan) benih.
7.
Menghitung
presentase benih yang hidup dan benih yang mati berdasarkan pola peawrnaan yang
terjadi.
8.
Sebagai
pembanding kecambahkan benih jagung masing-masing 50 butir untuk benih baru dan
benih rusak tiap kelompok.
9.
Menghitung
daya kecambah benih sampai hari ke-7
|
Perlakuan
|
Uji Tetrozolium
|
Uji Kertas Digulung
|
|
L1
|
85 %
|
89 %
|
|
L2
|
80 %
|
82 %
|
|
L3
|
76 %
|
89 %
|
|
L4
|
82 %
|
71 %
|
|
Rata-Rata
|
80,75 %
|
82,75 %
|
Uji tetrazolium merupakan pengujian
terhadap viabilitas benih secara cepat dan bersibenih secara cepat dan bersifat
tidak langsung. Pada hasil praktikum dapat dilihat benih jagung berwarna merah
cerah, merah sebagian dan merah muda. Menunjukkan bahwa benih memiliki
viabilitas tinggi, viabilitas rendah dan viabilitas rendah.
Perbedaan
warna pada benih karena tingkat viabilitas pada benih berbeda-beda. Pada
jaringan benih yang masih hidup, garam tetrazolium akan direduksi secara
enzimatik yang kemudian berubah menjadi senyawa formazen yang berwarna merah
cerah. Oleh karena itu, warna merah cerah diindikasikan sebagai benih yang
masih hidup dam memiliki viabilitas yang tinggi.
Uji tetrazolium merupakan metode
secara cepat dan tidak langsung karena dalam pengujiannya hanya memasukkan
benih pada garam tetrazolium tanpa perlakuan yang lain. Dengan menunggu
beberapa saat dapat diketahui viabilitas benih dengan warna yang ditunjukkan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama dapat diketahui apakah jaringan dalam benih
masih hidup atau sudah mati. Karena itu dikatakan metode secara cepat dan tidak
langsung.
Uji tetrazolium adalah uji cepat
viabilitas benih secara biokimia yang didasarkan kepada pewarnaan yang
menggunakan garam tetrazolium yang membentuk endapan formazan merah pada setiap
sel hidup dan warna putih pada sel mati. Kriteria pewarnaan yaitu (1)Merah
cerah : jaringan masih hidup (2) Merah jambu : jaringan sudah lemah (3) Merah
tua : jaringan rusak (4) Tidak berwarna : jaringan sudah mati (Balai teknologi
pembenihan 2005).
Pada praktikum kami melakukan juga
perbandingan uji daya kecambah dengan dua metode yaitu uji tertazolium dan uji
daya kecambah dengan kertas digulung, dan dilihat dari hasil praktikum yang
telah dilakukan perbedaan antara dua metode tersebut tidak jauh berbeda yaitu
pada uji tetrazolium daya kecambah benih 80,75 % dan uji daya kecambah benih
dengan metode kertas digulung 82,75 %.
Kesimpulan
Dari praktikum yang telah kami lakukan
menyipulkan bahwa :
a. Uji Tetrazolium bertujuan untuk
mengetahui viabilitas dari benih.
b. Uji tetrazolium disebut metode cepat
dan tidak langsung karena pengujian hanya memasukkan benih ke dalam garam
tetrazolium dan dilakukan dengan waktu yang singkat sedangkan dengan metode uji
kertas digulung waktu yang membutuhkan waktu yang lama. Dan dilihat darinya
perbandingan daya kecambah anatar dua metode tersebut tidak jauh berbeda.
c. Warna merah cerah menunjukkan benih
variabel, merah muda benih sudah lemah dan benih tidak berwarna menunjukkan
jaringan benih sudah mati.
Anomim 2008. Vigor dan Viabilitas. http://veganojustice.wordpress.com.
Diunduh pada tanggal 15 Desember 2018
Balai teknologi pembenihan 2005. Pedoman
Standardisasi Pengujian Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Tanaman Hutan. Jakarta:
BSN
Gine LO
2006. Principle of Seed Science and
Technology. USA: Burgess Publishing Co.
Kamil jurnalis . 2006 . Dasar Teknologi Benih. Padang : Angkasa Raya.
Soejadi G,
Sadiman I 2007. Identifikasi Tingkat Kemunduran Benih Kedelai Melalui daya
hantar listrik dan Viabilitas. Agrijurnal
VIII(2) : 38-49
Yuni 2011. Uji Tetrazolium. yuniartiweni.blogspot.com. Diakses pada
tanggal 15 Desember 2018
|
|
Hasil uji Tetrazolium
|
|
|
Kecambah normal
|
|
|
Kecambah abnormal
|
|
|
Warna sebagian lembaga benih menunjukkan benih sudah
mati sehingga jagung dikategorikan sudah mati
|
|
|
Warna merah cerah benih masih variabel sehingga jagung
dikategorikan masih baik
|
Komentar
Posting Komentar