budidaya tanaman secara vegetatif stek, cangkok, okulasi
BAB I
PENDAHULUAN
Pengetahuan tentang
konsep perbanyakan tanaman secara vegetatif sangat penting untuk diketahui agar
dapat dipahami pengertian perbanyakan tanaman secara vegetatif dan membedakan
pengelompokan dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif. Selain itu, juga
perlu didukung pengetahuan tentang arti penting dari perbanyakan tanaman secara
vegetatif agar dapat dipahami perlunya dilakukan perbanyakan tanaman secara
vegetatif ditinjau dari aspek anatomi, fisiologi, dan genetik. Pemahaman
tentang konsep perbanyakan tanaman secara vegetatif juga perlu didukung dengan
pengetahuan tentang teknik-teknik yang dapat digunakan dalam perbanyakan
tanaman secara vegetatif.
Perbanyakan tanaman
secara vegetatif juga perlu pemahaman tentang pengatahuan aspek-aspek pentingnya
meliputi aspek anatomi, fisiologi, dan genetik. Aspek anatomi perbanyakan
tanaman secara vegetatif berkaitan dengan pengetahuan struktur internal dari
akar, batang, dan daun untuk memahami
proses terbentuknya akar adventif pada stek dan cangkok dan terbentuknya
penyatuan sambungan pada penyusuan, okulasi, dan sambungan. Aspek fisiologi
perbanyakan tanaman secara vegetatif yang perlu diketahui adalah peranan secara
fisiologis berbagai hormon tanaman dalam mempengaruhi proses pertumbuhan hasil
perbanyakan tanaman. Aspek genetik perbanyakan tanaman secara vegetatif
berkaitan dengan keseragaman dan keragaman secara genetik tanaman yang
diperbanyak secara vegetatif. Ketiga aspek tersebut apabila dipahami dengan
benar diharapkan akan menunjang keberhasilan dalam pelaksanaan perbanyakan
tanaman secara vegetatif.
Perbanyakan tanaman
secara vegetatif merupakan suatu cara-cara perbanyakan atau perkembangbiakan
tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk, daun, umbi
dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan
induknya. Perbanyakan tanaman secara vegetatif tersebut tanpa melalui
perkawinan atau tidak menggunakan biji dari tanaman induk. Prinsipnya adalah
merangsang tunas adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang
menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus.
Perbanyakan tanaman
secara vegetatif dapat dilakukan secara alamiah yaitu perbanyakan tanaman tanpa
melalui perkawinan atau tidak menggunakan biji dari tanaman induk yang terjadi
secara alami tanpa bantuan campur tangan manusia. Perbanyakan tanaman secara
vegetatif alamiah dapat terjadi melalui tunas, umbi, rizoma, dan geragih
(stolon). Perbanyakan tanaman secara vegetatif juga dapat dilakukan secara
buatan yaitu perbanyakan tanaman tanpa melalui perkawinan atau tidak
menggunakan biji dari tanaman induk yang terjadi secara buatan dengan bantuan
campur tangan manusia.
Perbanyakan secara
vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting,
pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang
ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang
memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat
dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek dan kultur jaringan.
Keunggulan perbanyakan
ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon
induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif
lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah
membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya.
Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara
perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit
secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat
diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil.
Perbanyakan tanaman
dengan cara stek merupakan perbanyakan tanaman dengan cara menanam bagian-bagian
tertentu dari tanaman. Bagian tertentu itu bisa berupa pucuk tanaman, akar, atu
cabang. Proses penyetekan tanaman itu sendiri cukup mudah. Kita tinggal
memotong tanaman yang terpilih dengan menggunakan pisau yang tajam untuk
menghasilkan potongan permukaan yang halus. Pemotongan stek bagian ujung
sebaiknya berada beberapa milliliter dari mata tunas. Sedangkan pemotongan stek
bagian pangkal harus meruncing. Ketika membuat potongan meruncing. Hendaknya
kita usahakan potongan itu sedikit menyentuh again mata tunas, dengan demikian
nantinya stek yang diharapkan akan berhasil ( Aak, 1991 ).
Perbanyakan dengan cara
stek adalah perbanyakan tanaman dengan menumbuhkan potongan/bagian tanaman
seperti akar, batang atau pucuk sehingga menjadi tanaman baru. Stek pucuk umum
dilakukan untuk perbanyakan tanaman buah-buahan. Dengan kata lain stek atau potongan adalah menumbuhkan bagian atau
potongan tanaman, sehingga menjadi tanaman baru (Yustina, 1994).
BAB II
ACARA I PERBANYAKAN
TANAMAN DENGAN STEK
2.1 Dasar Teori
Penyetekan
merupakan suatu perlakuan pemisahan, pemotongaan beberapa bagian dari tanaman
seperti; akar, batang, daun dan tunas dengan tujuan bagian-bagian tanaman tersebut
menghasilkan tanaman baru. Teknis sangat mudah. Perbanyakan dengan stek umumnya
dilakukan pada tanaman dikotil, pada monokotil masih jarang. Dapat menghasilkan
tanaman baru dalam jumlah yang banyak walaupun bahan tanaman yang tersedia
terbatas dan dapat menghasilkan tanaman yang sifatnya sama dengan induknya.
Dapat diberikan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) untuk mempercepat tumbuhnya akar. Stek merupakan
cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian
batang, akar atau daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Sebagai
alternatif perbanyakan vegetatif bautan stek lebih ekonomis, lebih mudah tidak
memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan cara perbanyakan
vegetatif buatan lainnya.
2.1.1 Macam bahan stek
a.
Stek pucuk
b.
Stek batang (batang
basah/lunak)
c.
Stek batang (batang
kering/keras)
d.
Stek daun
e. Stek umbi
2.1.2 Macam Tanaman
a.
Tanaman teh-tehan (bahan stekan
pucuk)
b.
Tanaman Bigonia. Euphorbia,
Adenium (bahan stek batang basah)
c.
Tanaman Puring (bahan stek
batang keras)
d.
Tanaman Bigonia (bahan stek
daun)
e. Kentang, Bawang merah, Empon-empon (bahan stek umbi)
2.2 Bahan dan Alat
a.
Pisau (Cutter)
b.
Bak plastik pesemaian
c.
Plastik transparan
d.
Tanaman
e.
ZPT : Rotoon F dan Air
f.
Media Tanam : Pasir + Pupuk
kandang + Tanah
g.
Air
2.3 Teknik Pelaksanaan
a.
Siapkan aneka macam bahan stek,
setiap mahasiswa menyediakan 4 potong untuk setiap macam bahan stek (panjang
stek batang sekitar 10 cm atau kurang melihat oersediaan bahan). Untuk bahan
stek yang bergetah, atuskan dulu getahnya sampai tuntas. Lakukan pekerjaan
pertama untuk bahan bergetah ini, laliu diamkan agar sambil mengerjakan
pekerjaan lain bahan ini hilang getahnya.
b.
Perlakuan setiap potongan stek
dengan 2 macam ZPT yaitu Rotoon-F dan Air. Untuk Rotoon-F, buat pasta kemudian
oleskan tipis-tipis pada pangkal pohon bahan stek. Untuk airpangkal stek
dicelupkan 5 menit di dalam air (untuk tiap macam ZPT diberikan 2 macam
potongan stek).
c.
Siapkan media, masukkam ke
dalam bak plastik sampai volume stengahnya
d.
Siram media dengan air sampai
basah tetapi tidak menggenang
e.
Buat luang dengan tugal untuk
menanam bahan stek
f.
Tanam stek yang sudah
diperlukan dengan ZPT, masukkan dalam lubang lalu tekan media sekitar stek
dengan pelan tetapi mantap, sehingga kedudukan stek kuat
g.
Tutuplah bak plastik dengan
lembaran plastik trasnparan, jangan lupa memberi label pada bak persemaian
tersebut
h.
Lakukan pemeliharaan dan
pengamatan terhadap pekerjaan suadara, periksa kelembaban media, periksa
kondisi stek apabila terlihat kering, layu atau busuk segera diganti dengan
yang baru.
2.4 Hasil Pengamatan dan Pembahasan
2.4.1 Hasil Pengamatan
a.
Stek Batang Keras
|
Jumlah tanaman
|
Panjang Akar
|
Jumlah Tunas
|
|
Tanaman 1
|
5 cm
|
3 helai
|
|
Tanaman 2
|
5 cm
|
1 helai
|
|
Tanaman 3
|
8,5 cm
|
5 helai
|
|
Rata-rata
|
6,17 cm
|
3 helai
|
|
Jumlah tanaman
|
Panjang Akar
|
Jumlah Tunas
|
|
Tanaman 1
|
2,5 cm
|
-
|
|
Tanaman 2
|
3,cm
|
2 helai
|
|
Tanaman 3
|
3,5 cm
|
4 helai
|
|
Rata-rata
|
3 cm
|
3 helai
|
b.
Stek Batang Lunak
|
Jumlah tanaman
|
Panjang Akar
|
Jumlah Tunas
|
|
Tanaman 1
|
3 cm
|
-
|
|
Tanaman 2
|
4,5 cm
|
4 helai
|
|
Tanaman 3
|
3 cm
|
-
|
|
Rata-rata
|
3,5 cm
|
4 helai
|
|
Jumlah tanaman
|
Panjang Akar
|
Jumlah Tunas
|
|
Tanaman 1
|
3 cm
|
2
|
|
Tanaman 2
|
2 cm
|
-
|
|
Tanaman 3
|
3,5 cm
|
2
|
|
Rata-rata
|
2,83 cm
|
2 helai
|
c.
Stek daun
|
Jumlah Tanaman
|
Panjang Akar
|
Jumlah Tunas
|
|
Tanaman 1
|
5,5 cm
|
1 helai
|
|
Tanaman 2
|
5,5 cm
|
1 helai
|
|
Tanaman 3
|
-
|
-
|
|
Rata-rata
|
5,5 cm
|
1 helai
|
|
Jumlah Tanaman
|
Panjang Akar
|
Jumlah Tunas
|
|
Tanaman 1
|
5 cm
|
1 helai
|
|
Tanaman 2
|
5 cm
|
1 helai
|
|
Tanaman 3
|
4,5 cm
|
1 helai
|
|
Rata-rata
|
4,83 cm
|
1 helai
|
d.
Stek pucuk
|
Jumlah Tanaman
|
Panjang Akar
|
Jumlah Tunas
|
|
Tanaman 1
|
-
|
-
|
|
Tanaman 2
|
-
|
-
|
|
Tanaman 3
|
-
|
-
|
|
Rata-rata
|
-
|
-
|
|
Jumlah Tanaman
|
Panjang Akar
|
Jumlah Tunas
|
|
Tanaman 1
|
-
|
-
|
|
Tanaman 2
|
-
|
-
|
|
Tanaman 3
|
-
|
-
|
|
Rata-rata
|
-
|
-
|






2.4.2 Pembahasan
Salah satu faktor intern
yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon yang berfungsi
sebagai zat pengatur tumbuh. Faktor intern yang paling penting dalam
mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk pada stek adalah faktor genetik. Jenis
tanaman yang berbeda mempunyai regenerasi yang berbeda pula. Untuk menunjang
keberhasilan perbanyakan tanaman dengan cara stek, tanaman sumber seharusnya
memiliki sifat-sifat unggul serta tidak terkena hama dan penyakit. Selain itu,
manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan status fisiologi tanaman sumber juga
penting dilakukan agar tingkat keberhasilan stek tinggi. Kondisi lingkungan dan
status fisiologi yang penting bagi tanaman sumber diantaranya:
a.
Status air : Stek lebih baik diambil pada pagi hari dimana
bahan stek dalam keadaan turgid.
b.
Temperatur : Tanaman stek lebih baik ditumbuhkan pada suhu
12°C hingga 27°C.
c.
Cahaya : Durasi dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tanaman
sumber tergantung pada jenis tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya ditumbuhkan
pada kondisi cahaya yang tepat.
d.
Kandungan karbohidrat. Untuk meningkatkan kandungan
karbohidrat bahan stek yang masih ada pada tanaman sumber bisa dilakukan
pengeratan untuk menghalangi translokasi karbohidrat. Pengeratan juga berfungsi
menghalangi translokasi hormon dan substansi lain yang mungkin penting bagi
pengakaran. Sehingga terjadi akumulasi zat-zat tersebut pada bahan stek.
Karbohidrat digunakan dalam pengakaran untuk membangun kompleks makromolekul.
Elemen struktural dan sebagai sumber energi. Walaupun kandungan karbohidrat
dalam bahan stek tinggi, tetapi jika rasio C/N rendah maka inisiasi akar juga
akan terhambat karena unsur N berkorelasi negatif dengan pengakaran stek
(Hartmann et al., 1997).
A.
Stek batang
Stek batang Batang yang
dipilih untuk stek batang adalah biasanya mempunyai umur kurang lebih satu
tahun. Cabang yang terlalu tua tentunya kurang baik untuk distek karena sulit
untuk membentuk akar sehingga memerlukan waktu lama, sedangkan cabang terlalu
muda (tekstur lunak) proses penguapan sangat cepat sehingga stek menjadi lemak
dan akhirnya mati (Rukmana, 1996).
Stek batang adalah stek yang
menggunakan bagian dari batang tanaman, sebagian orang menyebutkan dengan stek
cabang. Umumnya tanaman yang dikembangbiakan dengan stek cabang adalah tanaman
berkayu. stek cabang ini meliputi stek cabang yang telah tua dan cabang yang
setengah tua (Wudianto 2002).
Stek batang banyak digunakan
untuk memperbanyak tanaman hias dan tanaman buah. Syarat multah tanaman yang
akan diperbanyak secara stek batang adalah harus memiliki cambium batang,
cabang atau ranting yang ideal untuk bahan stek harus memenuhi syarat berikut :
tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda dengan umur tanaman sekitar 1 tahun
dan batangnya berwarna kehijaun, sehat yaitu bebas dari hama dan
penyakit,subur, dan tidak tergantung keadaan efisiensi atau kekurangan salah
satu unsure yang diperoleh tanaman, diameter bahan stek sekitar 0,5 cm dan
bahan stek harus memiliki cukup bakal tunas (Rahardja dan wahyu, 2003).
Penggunaan rotton f sangat
berpengaruh dan pembentukan jumlah daun sehingga pada stek batang keras panjang
akar yang menggunakan rotoon f didapatkan hasil 6,17 cm dan yang tanpa rotoon f
didapatkan hasil 3 cm sedangkan stek batang lunak panjang akar yang menggunakan
rotoon f didapatkan hasil 3,5 cm dan yang tanpa rotoon f didapatkan hasil 2,83
cm ini dapat dikatakan beda nyata
B.
Stek pucuk
Untuk penggunaan rotoon f
tidak didapatkan hasil dan tanpa rotoon
f juga tidak didapatkan hasil. Hal ini karena pada stek pucuk tidak ada satu
pun yang hidup hal ini di karenakan suhu yang terlalu lembab sehingga bahan
stek yang ditanaman menjadi busuk dan berjamur.
C.
Stek daun
Stek daun Stek daun adalah
pembiakan dengan pematangan sehelai daun dari tanaman induknya dengan maksud
mengusahakan perakaran dari bagian daun tersebut, stek daun banyak diterapakan
pada tanaman hias sukulen, daun lebal berdaging dan kandungan airnya juga
tinggi. Daun yang dipilih untuk stek ini harus telah cukup umurnya dan
mempunyai karbahidrat yang tinggi dan harus hijau (Setyati, 1995).
Perbanyakan dengan stek daun
yaitu menggunakan sehelai daun yang lengkap dengan tangkainya, sedangkan pada
tanaman lain seperti begonia diperbanyak dengan helai daun tanpa
tangkai.tanaman sukuren yang mempunyai daun berukuran besar, yaitu panjang
lebih dari 10 cm, dapat diperbanyak dengan memotong daunnya secara horizontal
menjadi bagian-bagian (Basir, 1998).
Untuk penggunaan rotoon f
didapatkan hasil 5,5 cm dan tapa rotoon f didapatkan hasil 4,83 cm ini
dikatakan beda nyata karena pengunaan rotoon f tidak berpengaruh terhadap
tumbuhnya akar.
Adapun beberapa factor yang
dapat menyebabkan berhasil atau tidaknya pembiakan vegetative dibedakan menjadi
dua yaitu factor luar dan factor dalam. Factor dalam meliputi :
a. jenis tanaman
beberapa jenis pohon kehutanan dapat dibiakkan dengan metode perbanyakan
vegetative, baik stek, okulasi maupun grafting tidak semua tanaman tidak bisa
dibiakkan dengan metode tersebut.
b. bahan bahan tanaman meliputi nutrisi yang
terkandung dalam bahan, ketersediaan air, kandungan hormone endogen dalam
jaringan bahan pembiakan vegetative, kehadiran hama dan penyakit serta umur
pohon induk dan umur bahan pembiakkan.
c. Dormansi bahan
tanam (dapat dipecahkan dengan pemberian kelembaban tinggi)
d. ZPT (dapat memacu
pertumbuhan akar dan tunas)
Sedangkan
factor luar yang mempengaruhi pembiakkan vegetative adalah
a. Suhu
Kisaran suhu yang baik untuk
pembentukan perakaran adalah 21 – 27 derajat celcius. Setiap jenis akan
mempunyai suhu yang berbeda – beda. bahan tanam tidak tahan dengan suhu tinggi
karena dapat menghambat pertumbuhan akar maupun tunas dan dapat merusak hormon
pada tanaman bahan.
b.
Kelembapan udara
Kadar air dalam udara dapat
mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan dengan biakan buatan.
Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan bahan dapat
mengurangi penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.
c. Cahaya
Pada awal pertumbuhan tunas dan akar dibutuhkan cahaya yang
tidak banyak, maka perlu diberi naungan untuk mengurangi evaporasi. Karena pada
biakan vegetative buatan memerlukan energy yang banyak untuk pembentukan sel.
d. Jamur dan
bakteri
Biasanya sangat peka terhadap keadaan yang lembab, bahan
tanam yang terlukai sangat rawan terhadap serangan jamur dan bakteri sehingga
menyebabkan kebusukan.
Mekanisme pembentukan akar
pada setek dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya media yang digunakan,
tanaman, serta hormon. Mekanisme perkembangan akar diawali dengan adanya
pergerakan auksin, karbohidrat dan rooting
cofactor (zat-zat yang dapat merangsang tumbuhnya akar) baik tunas maupun
daun. Pada stek batang ditempatkan pada tempat yang cocok bagi pembentukan akar
agar kalus dapat terbentuk. Kalus adalah masa yang tidak berbentuk yang mengalami ligninfikasi dan terdiri dari sel-sel parenkim pada berbagai tingkatan
lignifikasi. Pertumbuhan sel kalus berasal dari sel-sel muda pada daerah
kambium pembuluh, walaupun ada juga beberapa kalus ini yang terbentuk dari
sel-sel kortex dan empulur. Proses pembentukan akar terdiri dari bergabungnya
sel-sel yang mempunyai fungsi khusus, pembentukan bakal akar dari sel-sel
tertentu dari jaringan vaskular, dan dilanjutkan dengan munculnya akar
primordia yang keluar melalui jaringan batang.
Pada penyetekan yang
dilakukan ada 3 jenis tanaman yang terdiri dari tanaman cocor bebek, lidah
martua dan patah tulang. Dari ketiga tanaman tersebut tanaman yang hidup hanya
cocor bebek dan lidah martua. Hal ini terjadi karena adanya faktor-faktor yang
dapat menghambat pertumbuhan akar, misalnya faktor eksternal seperti kondisi
media yang kurang lembab atau perawatan yang tidak optimal atau juga berasal
dari faktor internal misalnya pada saat dilakukan penyetekan, batang yang
digunakan tidak dalam kondisi siap menumbuhkan akar, hal tersebut bisa
dikarenakan umur batang yang terlalu tua atau terlalu muda.
Media yang digunakan dalam
penyetekan adalah pasir dan kompos. Dari masing-masing media tersebut memiliki
kelebihan dan kekurangan tersendiri. Pasir memiliki tekstur dan aerasi yang
cocok bagi pertumbuhan akar, namun pasir tidak memiliki kandungan unsur hara
yang diperlukan bagi pertumbuhan lanjutan sehingga harus dilakukan penyapihan
sampai bibit siap tanam. Kompos merupakan hasil pelapukan dari bahan-bahan
organik yang ada di alam dengan bantuan organisme pengurai. Pada prinsipnya
kompos banyak mengandung bahan organik serta banyak mengandung unsur hara yang
dibutuhkan tanaman. Dari sifat-sifat media tersebut maka, dilakukan pencampuran
media agar diperoleh media yang lebih baik.
Pada penyetekan yang
dilakukan ada 4 jenis tanaman yang terdiri dari tanaman puring, euphorbia,
murbei dan adenium. Dari keempat tanaman tersebut tanaman yang mati semua hanya
tanaman murbei. Hal ini terjadi karena adanya faktor-faktor yang dapat
menghambat pertumbuhan akar, misalnya faktor eksternal seperti kondisi media
yang terlalu lembab atau perawatan yang tidak optimal atau juga berasal dari
faktor internal misalnya pada saat dilakukan penyetekan, batang yang digunakan
tidak dalam kondisi siap menumbuhkan akar, hal tersebut bisa dikarenakan umur
batang yang terlalu tua atau terlalu muda.
Media yang digunakan dalam
penyetekan adalah pasir dan kompos. Dari masing-masing media tersebut memiliki
kelebihan dan kekurangan tersendiri. Pasir memiliki tekstur dan aerasi yang
cocok bagi pertumbuhan akar, namun pasir tidak memiliki kandungan unsur hara
yang diperlukan bagi pertumbuhan lanjutan sehingga harus dilakukan penyapihan
sampai bibit siap tanam. Kompos merupakan hasil pelapukan dari bahan-bahan
organik yang ada di alam dengan bantuan organisme pengurai. Pada prinsipnya
kompos banyak mengandung bahan organik serta banyak mengandung unsur hara yang
dibutuhkan tanaman. Dari sifat-sifat media tersebut maka, dilakukan pencampuran
media agar diperoleh media yang lebih baik.
2.5 Kesimpulan
Dari
pratikum yang telah dilakukan maka dapat diperoleh suatu kesimpulan sebagai
berikut:
1)
Pemotongan ujung mata setek
yang ditancapkan yang paling efektif.
2)
Faktor dalam melakukan penyetekan
dipengaruhi dari factor media dan pemotongan ujung setek.
3)
Media tanam setek sebaiknya
dapat dengan mudah ditembus akar serta dapat menyediakan air, udara serta unsur
hara esensial yang dapat menunjang pertumbuhan akar.
BAB III
ACARA II PENCANGKOKAN
3.1 Dasar teori
Mencangkok
merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang bertujuan untuk
mendapatkan tanamn yang memiliki sifat yang sama dengan induknya dan cepat
menghasilkan. Pencangkokan dilakukan dengan menyayat dang mengupas kulit
sekeliling baytang, lebar syatan tergantung pada jenis tanaman yang dicangkok.
Penyayatan dilakukan sedemikian rupa sehingga lapisan kambiumnya dapat
dihilangkan (dengan cara dikikis). Setelah luka yang dibuat cukup kering,
Rotoon-F diberikan sebagai perlakuan agar bahan cangkok dapat berakar. Media
tumbuh yang digunakan terdiri dari tanah dan kompos dan dibalut dengan sabut
kelapa atau plastik. Bila batang diatas sayatan telah mengahasilakn sistem
perakaran yang bagus, batang dapat segera dipotong dan di tanam dilapang.
Menurut Rochiman dan Harjadi (1973).
Hal yang
perlu diperhatikan dalam pencangkokan tanaman adalah : (1) waktu mencangkok,
sebaiknya pada musim hujan karena tidak perlu melakukan penyiraman
berulang-ulang, (2) memilih batang cangkok, pohon induk yang digunakan adalah
umumnya tidak terlalu tua atau terlalu muda, kuat, sehat, dan subur serta
banyak dan baik buahnya, (3) pemeloiharaan cangkokakan, pemeloiharaan sudah
dianggap cukup bila media cangkokan cukup lembab sepanjang waktu.
3.1.1
Macam Tanaman
Tanaman yang akan dicangkok adalah
tanaman-tanaman buah yang ada dikebun percobaan, terdiri dari jambu, kakao,
melinji, murbei, mangga, dan tanaman hias seperti puring aneka macam,
walisongo, tanamn daun seledri.
3.2 Bahan dan Alat
a.
Pisau (cutter)
b.
Plastik transparan
c.
Tanaman
d.
ZPT : Rotoon-F
e.
Media tanam : Pasir + Pupuk
kandang + Tanah
f.
Air
3.3 Teknik Pelaksanaan
a.
Pilih cabang tanaman yang akan
dicanggkok, kriteria cabang adalah tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.
Diameter batang kurang lebih antara 1 cm – 3 cm, jangan terlalu besar, letak
cabang jangan terlalu tinggi untuk memudahkan pengerjaan.
b.
Kupaslah kulit cabang dengan
cara dikerat dulu sekeliling cabang sedalah kira-kira sampai terasa bagian
kayunya. Kerat lagi diatas atau dibawah keratan pertama berjarak sekitar 5-7
cm. Angkat kulit pada keratan tersebut lalu bersihkan bagian lendirnya yang
licin sampai kering.
c.
Usapkan lah selapis tipis ZPT
Rotoon-F pasta pada bagian kulit yang luka yang ada pada sisi atas (arah tajuk
tanaman), sisi bawah tidak diberi ZPT.
d.
Biarkan beberapa saat,
sementara itu siapkan media berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang,
serta plastik untuk membungkus cangkokan.
e.
Tutuplah bagian cabang yang
telah terkelupas dengan media lembab secukupnya dan dipadatkan, kemudian tutup
dengan plastik.
f.
Ikatlah ujung plastik penutup
media tadi erat-erat dan rapat menempel pada cabang. Selanjutnya melakukan
pengamatan dan media disiram bila cuaca kemarau.
3.4 Hasil Pengamatan dan Pembahasan
3.4.1 Hasil Pengamatan



Hasil
dari praktikum Perbanyakan vegetative dengan metode cangkok dinyatakan gagal
karena hanya sedikit akar yang muncul/tumbuh
3.4.2 Pembahasan
Pembiakan
dengan metode mencangkok biasanya dapat dilakukan pada tanaman-tanaman yang
mempunyai sifat berkayu (berkambium). Hal ini dimaksudkan agar memudahkan dalam
prosesnya dan mampu menumbuhkan perakaran pada sekitar lapisan korteks tanaman.
Mencangkok dapat dilakukan pada waktu apapun tapi lebih baik dilakukan pada
musim penghujan agar frekuensi untuk penyiraman secara manual dapat berkurang.
Dari segi
pemeliharaan, jika pencangkokan dilakukan pada musim kemarau sebaiknya bibit
disiram dua kali sehari. Pada musim penghujan penyiraman dilakukan seperlunya
sesuai dengan situasi untuk mempercepat pertumbuhan akar. Hal-hal yang dapat
menyebabkan tumbuhnya akar pada cangkokan yaitu terhentinya pasokan makanan
hasil fotosintesis pada batang sayatan dan ditunjang suasana media yang lembab
sehingga memacu tumbuhnya akar. sedangkan kegagalan dalam pencangkokan dapat
diakibatkan, batangnya terlalu tua, kurangnya air maupun kelebihan air yang
menyebabkan tumbuhnya jamur. Hal lain yang menyebabkan kegagalan adalah teknik
pencangkokan misalnya pada proses penyayatan terjadi luka pada batang yang akan
dicangkok, selain itu faktor suhu dan faktor lingkungan yang tidak sesuai
dengan pertumbuhan akar, dapat menjadi kendala utama dalam pencangkokan.
Pada
pencangkokan (layerage) pembentukan akarnya adalah bila bagian tepi atau ujung
batang terlukai dan bersentuhan dengan tanah cenderung akan berakar, karena
bagian vegetative ini masih berhubungan dan mendapatkan makanan dari induknya.
Pertumbuhan akar pada cangkokan dapat dipermudah dengan perlakuan seperti
pelukaan, pengikatan, etiolasi dan
penyalaharaan dari batang (disorientasi) yang mempengaruhi gerakan dan
penumpukan auksin serta karbohidrat pada bagian batang tersebut. Beberapa
faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pencangkokan antara lain adalah:
1) Waktu mencangkok, waktu terbaik melakukan pencangkokan pada musim
hujan, karena tidak perlu melakukan penyiraman berulang-ulang, selain itu
cangkokancepat berhasil.
2) Pemilihan batang cangkokan, batang cangkokan sebaiknya jangan
diambil dari pohon induk yang terlalu tua, sebab biasanya dahan pohon induk
kurang baik untuk dicangkok dan jangan diambil dari pohon yang terlalu muda
sebab belum diketahui sifat-sifatnya.
3) Pemeliharaan cangkokan, pembiakan dengan cara cangkokan harus dijaga
kelembabannya sepanjang waktu sampai dengan saat akan ditanam.
4) Faktor media, kondisi media meliputi ketersediaan unsur hara
penunjang pertumbuhan akar, kelarutan zat hara, pH, tekstur, jumlah bahan
organik.
5) Faktor cahaya matahari,
diperlukan tumbuhan untuk proses fotosintesis yang hasilnya ditransmisikan ke
seluruh jaringan melalui floem.
6) Fotosintesis, proses fotosintesis dapat pula mempengaruhi
perkembangan akar.
7) Teknik pencangkokan, pada batang yang dicangkok dihilangkan floemnya
menyebabkan zat-zat hasil fotosintesis tidak dapat sampai ke perakaran tetapi
terkumpul pada bagian atas cangkok, cadangan makanan tersebut digunakan tanaman
untuk pertumbuhan akarnya
Kriteria
tanaman yang dapat dicangkok adalah diameter batangnya tidak terlalu tipis atau
tidak terlalu tebal, dan umumnya harus memiliki kambium. Dan biasanya pohon
yang ditanam adalah pohon yang memiliki hasil dan hasilnya dapat dimanfaatkan
pada kehidupan sehari-hari, seperti buah-buahan, bunga-bungaan, dan lain
sebagainya.
Dari
praktikum pembiakan vegetatif tentang pencangkokan yang telah dilakukan
menggunakan tanaman mangga maka diperoleh hasil yang kurang baik. Dikatakan
kurang baik karena dari dua kali perlakuan yang telah dilakukan, hanya sedikit
akar yang tumbuh. Banyak hal yang kemungkinan terjadi yang menyebabkan cangkok
yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang tidak bagus tersebut. Kesalahan
yang paling besar mungkin terjadi dalam hal ini yaitu terdapat dalam
pelaksanaan percobaan (terutama mengelupaskan kulit tanaman serta membersihkan
kambium dan mengikat/membungkus tanaman). Dalam pengikatan, tidak jarang
praktikan (termasuk saya sendiri) sangat kurang berhati-hati dalam
melaksanakannya. Dalam hal mengikat/membungkus tanaman praktikan sering kali
tidak memperhatikan kedudukan posisi tanah, apakah sudah menempel apa belum dengan
batang tanaman. Selain itu pembersihan kambium dari batang tidak bersih
mengakibatkan tanaman yang sudah dikelupas kulitnya kembali lagi seperti sedia
kala.
Selain
kesalahan dalam hal pelaksanaan percobaan, kesalahan yang mungkin terjadi yang
mengakibatkan tanaman yang di cangkok tidak hidup adalah dalam hal
perawatan/penjagaan tanaman. Tidak jarang dalam menjaga tanaman praktikan
kurang berhati-hati atau dapat dikatakan kurang memperhatikan tanaman. Dalam
hal ini dapat terlihat dari ketidak rutinan praktikan untuk menyiram tanaman
yang di cangkok. Hal ini sangatlah berpengaruh terhadap keberhasilan percobaan
yang dilakukan, karena pada dasarnya memang cangkokan membutuhkan air agar
tanah tidak kering untuk keberlangsungan pertumbuhan akarnya.
3.5 Kesimpulan
Kesimpulan
yang dapat diambil dari praktikum mencangkok di kebun Praktek Mercu Buana
adalah sebagai berikut:
1) Mencangkok adalah cara memperbanyak tanaman dimana pembentukan akar
pada calon tanaman baru terjadi ketika masih melekat pada tanaman induknya.
2) Tanaman yang ideal untuk dapat dicangkok adalah tanaman yang
mempunyai kambium dan diameter batangnya tidak terlalu tipis atau terlalu
tebal.
3) Akar terbentuk dari bagian batang yang terlukai dan yang bersentuhan
langsung dengan tanah.
4) Jenis-jenis tanaman yang biasa dicangkok adalah pohon buah-buahan,
misalnya mangga, beberapa jenis jeruk (jeruk besar, jeruk nipis, jeruk manis
dan jeruk siem), berbagai jenis jambu (jambu biji, jambu air, jambu monyet),
belimbing manis, kelengkeng.
5) Faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses pencangkokan
diantaranya adalah batang yang dicangkok, waktu, faktor media, faktor cahaya matahari, proses fotosintesis,
pemeliharaan, dll.
BAB IV
ACARA III PENYAMBUNGAN PUCUK
4.1
Dasar Teori
Grafting dan Budding merupakan metode perbanyakan
vegetatif buatan. Grafting/penyambungan adalah seni menyambungkan 2 jaringan
tanaman hidup sedemikian rupa sehingga keduanya bergabung dan tumbuh serta
berkembang sebagai satu tanaman gabungan. Teknik apapun yang memenuhi kriteria
ini dapat digolongkan sebagai metode Grafting.
Sedangkan budding adalah salah satu bentuk dari grafting, dengan ukruran
batang atas tereduksi menjadi hanya satu mata tunas/teknik okulasi (Hartmann et
al, 1997). Tanaman sebelah atas disebut entris atau batang atas (scion), sedangkan tanaman batang bawah
disebut understam atau batang bawah (rootstock),
(Ashari 1995). Batang ataas berupa potongan pucuk tanaman yang terdiri atas
beberapa tuanas dorman yang akan berkembang menjadi tajuk, sedangkan batnag
bawah akan berkembang menjadi sistem perakaran (Hartmann, et al, 1997).
Perbanyakan tanaman dengan cara grafting
merupakan teknik perbanyakan yang mahal karena memerlukan banyak tenaga
terlatih dan waktu. Teknik ini dipilih dengan pertimbanagan untuk memperbanyak
tanaman yang suka/tidak dapat
diperbanyak dengan cara stek, perundukan, pemisahan, atau dengan
cangkok, menurut (Ashari 1995).
Banyak
jenis buah-buahan yang sukar diperbanyak dengan cara-cara tersebut , tetapi
mudah dilakukan penyambungan, misalnya pada manggis, mangga, belimbing, jeruk
dan durian. Alasan lain untik melakukan grafting adalah :
a. Memperoleh kentungan dari batang bawah tertentu, seperti perakaran
kuat, toleran terhadap lingkungan tertentu
b. Mengubah kultivar tanaman yang telah berproduksi, yang disebut top
working
c. Mempercepat kematangan reproduktif dan produksi buah lebih awal
d. Mempercepat pertumbuhan tanaman yang mengurangi waktu produksi
e. Mendapatkan bentuk pertumbuhan tanaman khusus dan memperbaiki
kerusakan pada tanaman
4.2
Bahan dan Alat
a.
Pisau (cutter)
b.
Plastik transparan
c.
Tanaman batang bawang dalam
polybag
d.
Entres dan mata tunas (calon
batang atas)
4.3 Teknik Pelaksanaan
4.3.1 Sambung Pucuk
1) Siapakan tanaman batang bawah dalam pot
2) Lakukan pemotongan pucuk batang bawah setinggi 20 cm dari tanah
3) Buatlah celah sedalam 3-4 cm pada bekas ptongan batang bawah
4) Siapkan batang atas berupa pucuk ranting tanaman yang sudah
diketahui kualitas produksinya sepanjang kurang lebih 20 cm
5) Buat irisan runcing dan pipih spserti mata kampak pada pucuk
tersebut
6) Masukan pucuk runcing pipih tersebut kedalam celah batang bawah
kemudian diikat dengan plastik transparan yang lentur
7) Letakkan tanaman sambungan terhadap pada lokasi yang teduh selama
kurang lebih satu bulan
8) Amati sambungan tersebut, pada minggu kedua buka ikatan untuk
dilihat apakah sudah terjadi pertautan. Bila tautan sudah rapat dan tanaman tetap hidup/hijau,
maka biarkan sambungan tersebut terbuka, berarti sambungan sudah berhasil. Bila
pertautan belum rapat, maka tutup kembali ikatan pada sambungan tersebut.
1.3.2
Sambung Mata Tunas (Okulasi)
1) Siapkan tanaman batang bawah dalam polybag yang telah berdiameter
sekitar 1 cm.
2) Buat sayatan pada kulit batang berbentuk huruf T, lalu lepaskan
lekatannya dengan batang pelan tapi kulit masih menempel.
3) Siapkan satu mata tunas yang diambil dari calon batang atas, buat
irisan persegi seluas kira-kira sama dengan luasan sayatan pada batang bawah.
4) Masukkan kulit batang yang disertai satu mata tunas kedalam sayatan
batang bawah, lalu ikat dengan tali plastik transparan dan lentur
5) Letakkan sambungan okulasi ditempat teduh.
6) Periksa setelah 2 – 3 minggu apakah mata tunas hidup, ditandai masih
hijau, tidak busuk atau kering. Lakukan penyiraman media bila perlu.
7) Setelah satu bulan periksa lagi apakah sudah terajadi pertautan
kulit batang atas dan batang bawah. Bila sudah, maka tali bisa dilepas,
tunas-tunas yang muncul pada batang bawah
dihilangkan. Mata tunas akan tumbuh menjadi tunas daun, dan artinya
penyambungan berhasil.
4.4
Hasil Pengamatan dan Pembahasan
4.4.1 Hasil Pengamatan
Hasil dari
praktikum Perbanyakan vegetative dengan metode sambung pucuk dinyatakan gagal
karena tidak tumbuh tunas dan batang tanaman menjadi coklat ketika kuli batang
di lukai/di kupas.


4.4.2 Pembahasan
Pada
praktikum kali ini dibahas mengenai perkembangbiakan tanaman secara vegetatif
dengan teknik grafting atau sambung. Grafting merupakan salah satu metode
perbanyakan vegetatif buatan. Grafting atau penyambungan dapat diartikan
sebagai teknik menyambung dua jaringan tanaman hidup sehingga keduanya
bergabung menjadi suatu individu baru. Prosedur penyambungan yang pertama
adalah memilih batang tanaman yang akan digunakan sebagai batang bawah dan
batang atas tanaman. Hal ini dikarenakan dapat mempengaruhi pertumbuhan dari
hasil penyambungan, dimana batang atas yang seharusnya dipakai adalah batanag
atas yang berasal dari pohon induk yang kuat dan bebas dari keabnormalan tumbuh
dan hama penyakit, berbatang lurus serta berdiameter lebih dari 1 cm, berasal
dari tanaman buah-buahan tanaman hias yang berkwalitas tinggi. Dan untuk
tanaman bagiaan bawahnya diharapkan dari tanaman yang kekuatan perakarannya
cukup dan tahan terhadap tanah yang tidak menguntungkan termasuk penyakit dalam
tanah, mempunyai adaptasi yang baik, mempunyai kecepatan tumbuh yang sesuai
dengan batang atas yang digunakan, dan tidak mengurangi kwalitas maupun
kwantitas tanaman yang terbentuk sebagai hasil sambungan. Oleh karena itu
keberhasilan dari teknik penyambungan sangat dipengaruhi oleh kompatibilitas
antara dua jenis tanaman yang disambung. Pada umunya semakin dekat keakraban
antar dua tanaman yang disambung maka presentasi keberhasilan dari penyambungan
adalah tinggi.
Keberhasilan
grafting ditentukan pula oleh kecepatan terjadinya pertautan antara batang atas
dan batang bawah. Pertautan ini ditentukan oleh proses pembelahan sel dan
bergabungnya kambium pada bagian yang akan bertautan. Berkembangnya sel pada
kambium sehingga kedua batang bisa menyatu dan menjadi individu sangat
dipengaruhi oleh kuatnya ikatan dan keadaan suhu. Oleh karena itu mengikat
sambungan sebaiknya dari bawah kemudian memutar keatas dan membuat ikatan
batang tersebut benar-benar kuat. Selain itu untuk menjaga agar suhu lingkungan
sambungan tetap terjaga dengan baik maka sambungan perlu ditutupi atau diberi
sungkup plastik. Sungkup tersebut juga melindungi sambungan dari penguapan
akibat sinar matahari, tetesan air hujan yang dapat merusak sambungan dan
gangguan akibat hama penyakit tumbuhan. Dan salah satu penyebab ada beberapa teknik sambungan yang gagal adalah
suhu yang tidak menentu. Hal ini juga dapat mengakibatkan kegagalan, karena
suhu sangat mempengaruhi penyambungan untuk mencegah pembusukan. Oleh karena
itu, penggunaan sungkup pada teknik grafting sangat diperlukan.
Menyambung
merupakan teknik mengembangbiakan tanaman secara vegetatif yang sudah umum
diketahui. Pernyataan diatas didukung oleh beberapa ahli perkembangbiakan
tanaman bahwa ada 119 teknik menyambung. Dari sekian banyak teknik tersebut
dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok, yaitu Approach Grafting (
penyusuan) penyambungan dimana batang atas dan batang bawah masing-masing
berhubungan dengan sistem perakaran masing-masing. Pada umumnya penyambungan
Approach Grafting digunakan bila sukar untuk mengunakan tanaman dengan
cara-cara lain, kemudian teknik sambung cara Inarching yakni penyambungan yang
bisa dilakukan pada pohon-pohon tua yang dekat dasarnya dikelilingi oleh
tanaman muda. Dalam penyambungan ini dimaksudkan agar pohon yang tua tersebut
dibantu pertumbuhannya dalam pengambilan zat-zat makanan oleh tanaman muda
(sebagai batang bawah). Cara yang ketiga adalah dengan Bridge Grafting yakni
penyambungan yang bermaksud menyatukan kembali atau menghubungakan kembali
jaringan yang terpisah akibat kerusakan batang. Cara yang umum dilakukan adalah
cara tatahan atau dengan cara saluran kerena sederhana dan sama rata.Sedangkan
cara yang terahir adalah metode Detached Scion Grafting, Pada penyambungan ini
hanya batang bawah yang berhubungan dengan akar dan batang atas diambil dari
bagian tanaman lain yang lepas dari akarnya. Macam dari Detached Scion Grafting
adalah sambung pucuk, sambung samping, dan sambung akar.
. Hal ini dikarenakan oleh
beberapa faktor misalnya,;
1. Pada saat
pembuatan celah batang kelengkeng dilakukan secara tanggung-tanggung
dikarenakan pisau sudah tudak tajam sehingga kambium menjadi rusak dan entress
tidak dapat tersambung
2. Pisau
okulasi yang digunakan sudah berkarat ataupun terkontaminasi oleh mikroba
3. Pada saat
penyungkupan atau pengikatan dengan plastik transparan tidak terlalu kuat yang
menyebabkan bagian tanaman jambu yang diokulasi kontak langsung dengan udara luar seperti terkena
air, ditumbuhi jamur dan hasilnya bagian yang diokulasi jadi hitam.
4. Kurangnya
penyiraman pada polybag.
4.5
Kesimpulan
Dari praktikum pembiakan
vegetatif tentang penyambungan pucuk yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1)
Keberhasilan dari suatu
perbanyakan vegetatif tentang okulasi sangat ditentukan dari tanaman yang
digunakan harus dari famili yang sama (antara batang bawah dan entres)
2)
Syarat yang harus dipenuhi oleh
tanaman batang bawah yaitu bahwa tanaman batang bawah harus dalam keadaan tidak
sedang flash.
3)
Batang bawah yang digunakan
dalam penyambungan pucuk harus memiliki perakaran yang kuat (tunggang) sehingga
diutamakan dari hasil pembiakan secara generatif
4)
Tanaman batang atas (entres)
yang akan digunakan harus memang berasal dari tanaman atau cabang yang unggul
(produksi tinggi) karena akan digunakan sebagai tanaman utama (individu baru)
5) Banyak hal yang mengakibatkan ketidakberhasilan dari suatu percobaan
penyambungan pucuk yang diantaranya dalam hal penempelan entres pada batang
bawah dan juga dalam hal pemeliharaan media tanam
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2012. [online] http://nopriastor.wordpress.com/2012/06/12/dasar-dasar- perbanyakan -tanaman-secara-vegetatif/.
Diakses pada tanggal 11 Januari 2017 pukul 15.00 WIB.
Anonim.
1984. Beberapa Cara Perbanyakan Vegetatif. Departemen Pertanian Balai Informasi
Pertanian. Ungaran.
Harmann,
H.T. and D.E Kester. 2004. Plant propagation principles and practices.
Prentice-Hall,Inc. Englewood Cliffs, New Jersey.727 p
Hormon
Tumbuh Akar Terhadap Keberhasilan Cangkok Ulin. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
4 (2):069 – 118
Jumin,
Hasan Basri. 1994. Dasar-Dasar Agronomi. PT. Raja Garfindo. Jakarta.
Nugroho
H. 1992. Perbanyakan, dan Perawatan Tanaman. Bogor : PT Gramedia.
Putri,
Kurniawati P. , D, Dharmawati F. , dan Suartana, M. 2007. Pengaruh Media
Tanaman
.
Sutarto,
ismiyati. 1994. Teknik Perbanyakan Vegatatif pada Tanaman Hias Semak, Perdu dan
Pohon. Jurnal Holtikultura : 6-7
Veergavathathan,
D., V.N. Madhava Rao and K.G. Shanmugavelu. 2009.Aphysiological analysis of shy
rooting behaviour of Jasminum auriculatum, Vahl. Cv. Parimullai stem cuttings.
South Indian Horticulture 33(3): 177- 181.
Wudianto,
Rini. 1991. Membuat Setek, Cangkok dan
Okulasi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Wudianto, Rini. 1998. Membuat Stek, Cangkok,
dan Okulasi. Jakarta: Penebar Swadaya.
LAMPIRAN
BLANKO
PENGAMATAN PERTUMBUHAN
PADA
PERBANYAKAN VEHGETATIF
Acara 1 : Perbanyakan
tanaman dengan setek
(Tanggal tanam : 14 Oktober 2017)
|
Macam setek
|
Bahan tanam
|
Hasil pengamatan
(lampirkan foto)
|
Tanggal pengamatan
|
|
Setek batang
kering
|
Puring
|
![]() |
8 januari 2018
|
|
Setek batang
basah
|
Euphorbia
|
![]() |
8 januari 2018
|
|
Setek pucuk
|
Murbei
|
![]() |
8 januari 2018
|
|
Setek daun
|
Adenium
|
![]() |
8 januari 2018
|
|
Setek
akar
|
-
|
|
-
|
BLANKO
PENGAMATAN PERTUMBUHAN
PADA
PERBANYAKAN VEHGETATIF
Acara 2 :
Pencangkokan dan perangsangan percabangan
(Tanggal pelaksanaan : 21 Oktober 2017)
|
Macam percobaan
|
Bahan tanam
|
Hasil pengamatan
(lampirkan foto)
|
Tanggal pengamatan
|
|
|
|
|
|
|
Pencangkokan
|
mangga
|
![]() |
8
januari 2018
|
|
Perangsangan
percabangan
|
-
|
-
|
-
|
BLANKO
PENGAMATAN PERTUMBUHAN
PADA
PERBANYAKAN VEGETATIF
Acara 3 :
Penyambungan dan Okulasi
(Tanggal pelaksanaan : 28 Oktober 2017)
|
Macam percobaan
|
Bahan tanam
|
Hasil pengamatan
(lampirkan foto)
|
Tanggal pengamatan
|
|
|
|
|
|
|
Penyambungan
|
kelengkeng
|
![]() |
8
januari 2018
|
|
Okulasi
|
-
|
|
-
|
BLANKO
PENGAMATAN PERTUMBUHAN
PADA
PERBANYAKAN VEHGETATIF
Acara 4 : Penyambungan dengan cara susuan
(Tanggal pelaksanaan :…………………………..)
|
Macam percobaan
|
Bahan tanam
|
Hasil pengamatan
(lampirkan foto)
|
Tanggal pengamatan
|
|
|
|
|
|
|
Penyambungan-penyusuan
|
|
|
|
|
|
|
|
|




Komentar
Posting Komentar