LAPORAN PRAKTIKUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN PENGENDALIAN GULMA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada umumnya dipandang dari manfaat yang didapat, tumbuhan dibagi menjadi dua yaitu, tanaman yaitu tumbuhan yang menguntungkan dan dibudidayakan dan tumbuhan yang merugikan. Tumbuhan yang menguntungkan yaitu tumbuhan yang dibudidayakan oleh manusia atau sengaja untuk ditanam karena mempunyai nilai ekonomis yang menjanjikan. Sedangkan tumbuhan yang merugikan atau tumbuhan yang tidak dikehendaki dalam dunia pertanian disebut gulma (weed). Pengertian gulma yang lain adalah tumbuhan yang belum diketahui manfaatnya secara pasti sehingga kebanyakan orang juga menganggap bahwa gulma mempunyai nilai negatif yang lebih besar daripada nilai ekonomisnya. Sehingga gulma tersebut harus dimusnahkan dari, agar tidak menimbulkan kerugian ± kerugian yang lainnya, yang nantinya dapat mengganggu kegiatan pertanian. Baik secara teknis, produksi, maupun secara ekonomis. Menurut wikipedia, (Wikipedia, 2011) gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Gulma merupakan salah satu kendala utama usahatani di lahan pasang surut. Gulma, yang merupakan pesaing tanaman dalam pemanfaatan unsur hara, air, dan ruang, ditaksir ada sekitar 120 jenis. Sebagian gulma juga menjadi tempat hidup dan tempat bernaung hama dan penyakit tanaman, serta menyumbat saluran air ( E.Sutisna Noor, 1997). Gulma secara langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya. Pengenalan suatu jenis gulma dapat dilakukan dengan melihat keadaan morfologinya, habitatnya, dan bentuk pertumbuhanya.
Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenal gulma rerumputan (grasses), teki-tekian (sedges), dan berdaun lebar (board leaf). Golongan gulma rurumputan kebanyakan berasal dari famili gramineae (poaceae). Ukuran gulma golongan rerumputan bervariasi, ada yang tegak, menjalar, hidup semusim, atau tahunan. Batangnya disebut culms, terbagi menjadi ruas dengan buku-buku yang terdapat antara ruas. Batang tumbuh bergantian pada dua buku pada setiap antara ruas daun terdiri dari dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun., contoh gulma rerumputan Panicium repens, Eleusine indica, Axonopus compressus dan masih banyak lagi. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan alang-alang. Ilmu yang mempelajari gulma, perilakunya, dan pengendaliannya dikenal sebagai ilmu gulma.
B.     Tujuan
1.      Agar mahasiswa mengetahui bagaimana cara penngendalian gulma dengan tepat.


















BAB II
DASAR TEORI
Gulma merupakan tumbuhan pengganggu tanaman yang tidak dikehendaki tumbuhnya di areal persawahan dan juga tumbuhan pengganggu tanaman pokok yang dapat menurunkan hasil produksi tanaman. Gulma yang hidup lebih dari dua tahun, berkembang biak dengan biji.
Persaingan akan terjadi apabila unsur penunjang pertumbuhan tersebut terbatas. Persaingan antara gulma dengan tanaman adalah persaingan inter spesifik (Inter specific competition). Gulma merupakan tanaman pengganggu yang kehadirannya tidak diinginkan. Kehadiran gulma ini dinilai merugikan karena secara estetika akan mengganggu keindahan taman dan secara fungsi akan mengurangi hara, pemanfaatan sinar matahari, air tanah, dan tempat tumbuh yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman utama. ( Jumin Hasan Basri. 1987). Persaingannya berupa :
1.      Persaingan dalam memperoleh air
Air di serap dari dalam tanah kemudian sebagian besar diuapkan (transpirasi), hanya sekitar 1% saja yang dipakai untuk proses fotosintesis. Untuk setiap kilogram bahan organik, gulma membutuhkan 330-1900 liter air. Kebutuhan yang besar tersebut hampir dua kali kebutuhan tanaman.
2.      Persaingan dalam memperoleh unsur hara
Gulma menyerap lebih banyak unsur hara dari pada tanaman. Pada bobot kering yang sama gulma mengandung kadar nitrogen dua kali lebih banyak dari jagung.
3.      Persaingan dalam memperoleh cahaya
Dalam keaadaan air dan hara yang cukup untuk pertumbuhan tanaman, maka faktor pembatas berikutnya adalah cahaya matahari. Bila musim hujan, maka berbagai tanaman akan berebut untuk memperoleh cahaya matahari.
4.      Pengeluaran senyawa beracun.
Tumbuhan juga dapat bersaing antara sesamanya dengan cara interaksi biokimia, yaitu salah satunya dengan mengeluarkan senyawa beracun, yang akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman lain. Interaksi biokimia antara gulma dan tanaman ini dapat menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal. Persaingan yang timbul akibat hal ini adalah dikeluarkannya zat racun dari suatu tumbuhan yang disebut allelopathy.
Terdapat beberapa metode/cara pengendalian gulma yang dapat dipraktekkan di lapangan, yaitu :
1)      Pengendalian dengan upaya preventif
Tindakan paling dini dalam upaya menghindari kerugian akibat infestasi gulma adalah pencegahan (preventif). Pencegahan dimaksud untuk mengurangi pertumbuhan gulma agar usaha pengendalian sedapat mungkin dikurangi. Pencegahan sebenarnya merupakan langkah yang paling tepat karena kerugian yang sebenarnya pada tanaman belum terjadi, dan pencegahan biasanya lebih murah.
2)      Pengendalian secara mekanis / fisik
Pengendalian mekanis merupakan usaha penekanan pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau pertumbuhannya terhambat.  Cara ini umumnya cukup baik dilakukan pada berbagai jenis gulma setahun, tetapi pada kondisi tertentu juga efektif bagi gulma-gulma tahunan. Pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara :
·         Pengolahan Tanah (land preparation)
·         Penyiangan (wedding)
·         Pencabutan (hand pulling)
·         Pembabatan (mowing)
·         Pembakaran (burning)
·         Penggenangan
·         Peralatan Pengendalian Mekanis
3)      Pengendalian Kultur Teknis
Pengendalian kultur teknis merupakan cara pengendalian gulma dengan menggunakan praktek-praktek budidaya. Penanamn jenis yang cocok untuk suatu tanah, penenamn rapat agar tajuk tanaman segera menutup ruang kosong, pemupukan yangtepat, dan pengaturan waktu tanam adalah cara yang sangat membantu untuk mengtasi masalah gulma.
Pengendalian ini disebut juga pengendalian secara ekologis karena menggunakan prinsip-prinsip ekologi untuk mengelola lingkungan. Pengendalian ini dilakukan dengan cara;  
·         Rotasi Tanaman (crop rotation)
·         Sistem Bertanam (croping system)
·         Pengaturan Jarak Tanam (crop desinty)
·         Pemulsaan (mulching)
·         Tanaman Penutup Tanah (legum cover crop-lcc)
4)      Pengendalian Hayati
Pengendalian hayati (Smith 1919) dengan arti sempit sebagi penggunaan musuh alami baik yang diintroduksikan maupun yang sudah ada di suatu daerah kemudian dikelola agar penekanan terhadap populasi organisme pengganggu yang menjadi sasaran meningkat.
Pengendalian pada gulma adalah suatu cara pengendalian dengan menggunakan musuh-musuh alami baik hama (insekta), penyakit (patogen), ternak ikan, dsb guna menekan pertumbuhan gulma. Cara-cara pengendalian hayati :
·         Pengendalian Alami dan Hayati
·         Landasan Pengendalian Hayati
·         Musuh-Musuh Alami Gulma
·         Pengembangan pengendalian Hayati
5)      Pengendalian Kimia
Pengendalian gulma dengan menggunakan senyawa kimia sangat diminati, senyawa kimia yang diguankan dikenal denga nama Herbisida. Herbisida merupakan alat yang canggih dalam pengendalian gulma, serta memberikan keuntungan lebih dalam pemakaiannya.














BAB III
METODELOGI PELAKSANAAN
A.    Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 24 bulan Noveember tahun 2018 bertteempat di Kampus 1, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
B.     Alat dan Bahan
·         Sprayer
·         Herbisida
·         Ember
·         Air
C.     Cara Kerja
1.      Mempersiapkan alat dan  bahan
2.      Mengkalibrasi alat dan bahan
3.      Melakukan penyemprotan dengan herbisida.













BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Kalibrasi Sprayer 1 , (500, 800cc, 800cc dengan rata-rata 700 cc) kalibrasi sprayer 2 ( 200cc,200cc, 600cc dengan rata-rata 333 cc
Pada sprayer 1 penyemprotan dengan waktu 14 detik sedangkan pada pada sprayer 2 waktu yang dibutuhkan sebanyak 12 detik
Vegetasi gulma setelah dilakukan pengendalian
1.       Lahan 1
Gulma
Petak
1
2
3
Teki
2
1
-
Acalypha
-
-
-
Digitaria
2
-
2
Cleome
-
-
-
Meniran
-
-
-
Krokot
-
-
-

a.       Kerapatan Mutlak dan frekuensi mutlak
Gulma
Kerapatan mutlak
Frekuensi mutlak
Teki
4
2
Acalypha
-
-
Digitaria
4
2
Cleome
-
-
Meniran
-
-
Krokot
-
-
Total
8
4

b.      Kerapatan nisbi dan Frekuensi Nisbi
Gulma
Kerapatan nisbi
Frekuensi nisbi
Teki
 × 100 % =50
 × 100 % = 50
Acalypha
0
0
Digitaria
 × 100 % = 50
 × 100 % = 50
Cleome
0
Meniran
Krokot
0
Total
100
100
SDR                      =  
Teki                       = = 50
Acalypha               =
Digitaria                = = 50
Cleome                  =
Meniran                 =
Krokot                   =
Jadi total SDR adalah 100
2.      Lahan 2
Gulma
Petak
1
2
3
Krokot
1
-
1
Teki
1
-
2
Centella
-
-
-
Digitaria
-
-
-

a.       Kerapatan Mutlak dan frekuensi mutlak
Gulma
Kerapatan mutlak
Frekuensi mutlak
Krokot
2
2
Teki 
3
2
Centella
-
0
Digitaria 
-
0
Total
5
4

b.      Kerapatan nisbi dan Frekuensi Nisbi
Gulma
Kerapatan nisbi
Frekuensi nisbi
Krokot
 × 100 % = 40
 × 100 % = 50
Teki
 × 100 % = 60
 × 100 %= 50
Centella
Digitaria
Total
100
100
SDR                      =  
Krokot                   = = 45
Teki                       = = 55
Centella                 =
Digitaria                =
Jadi total SDR adalah 100
Komposisi untuk kedua lahan ini adalah
C = × 100 %
C =  × 100 %
C =  × 100 %
C = 95 %
Karna C diatas 75% maka komposisi sama
B.     Pembahasan
Pada pengendalian gulma dosis yang diberikan harus sesuai sehingga tepat penggunan untuk kebutuhan pengendalian gulma.
Sebelum melakukan pengendalian gulma hal pertama yang dilakukan adalah mengkalibrasi alat. Kalibrasi alat adalah cara menghitung atau mengukur kebutuhan air suatu alat sempnprot (air) untuk luasan area tertentu. Tujuan melakukan kalibrasi adalah menghindari pemborosan herbisida, memperkecil terjadinya keracunan pada tanaman akibat penumpukan herbisida, dan memperkecil pencemaran lingkungan.
Dalam praktikum pertama analilis vegetasi yang telah kami lakukan komposisinya berbeda  di bawah yaitu C dibawah 75% , dan setelah meakukan pengendalian komposisinya dinyatakan sama yang diketahuib dari C diatas 75%.
Pada praktikum yang telah kami lakukan yaitu pengendalian gulma, pengendalian yang kami lakukan dikatakan tepat sasaran karena pertumbuhan gulam yang sebelumnya banyak menjadi sedikit. Hal ini dilihat dari data yang telah ada pada hasil praktikum.
Pada gulma jenis teki sebelum dilakukan pengendalian jumlah dalam 3 petak sebanyak 148 dan setelah dilakukan pengendalian gulma teki yang tersisa sebanyak 4 teki, pada gulam acaplypha yang jumlah sebelum pengendalian adalah 1 dan setelah pengendalian gulma tersebut berjumlah 0, pada digitaria sebelum pengendalian jumlahnya sebanyak 29 dan setelah pengendalian gulma yang tersisa 4, begitupula dengan semua jumlah gulma yang telah dilakukan pengendalian yang mana setelah dilakukan pengendalian populasinya berkurang.

















BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Dari praktikum yang telah kami lakukan dan dilihat dari hasil praktikumnya komposisi gulma yang telah dilakukan pengendalian C diatas 75 % yang artinya komposisi gulma berbeda.  
2.      Pengendalian gulma yang telah dilakukan tepat sasaran yang atrinya dosis yang diberikan sesuia dengan komposisi gulma yang ada dilahan.
















DAFTAR PUSTAKA
Astuti Siti, 2006. Petunjuk Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. STPP Jurusan Penyuluhan Pertanian, Yogyakarta.

Barus, Emanuel. 2003. Pengendalian Gulma Di Perkebunan. Kanisius. Yogyakarta.
Moenandir, J. 1986. Konsep Pengendalian Gulma. Balitus: Intercreated Pest Management.

Moenandar, Jody.  1993.  Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Jakarta: Rajawali Pers.

Triharso. 1994. Dasar-dasar perlindungan tanaman. Yogyakarta: UGM


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BENIH ACARA III UJI VIGOR BENIH

laporan praktikum Hibridisasi dan kastrasi pada tanaman padi

laporan praktikum kultur jaringan pengenalan laboratorium