laporan praktikum dasar agroteknologi (tanam dan jarak tanam) pada tanaman kacang hijau





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Peranan Kacang Hijau (Vigna radiata L) dalam memenuhi permintaan kebutuhan masyarakat menduduki tempat ketiga dari tanaman kacang-kacangan di Indonesia, setelah kedelai dan kacang tanah. Tanaman ini dikenal sebagai salah satu tanaman leguminoceae yang cukup penting, tetapi sampai saat ini perhatian masyarakat terhadap budidaya tanaman kacang hijau masih kurang. Kurangnya perhatian ini diantaranya disebabkan oleh karena panen kacang hijau harus dilakukan beberapa kali sehingga petani beranggapan menanam kacang hijau dianggap kurang efektif (Soeprapto, 2000).
Salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil tanaman persatuan luas adalah meningkatkan populasi tanaman hingga batas optimum yaitu dengan cara pengaturan jarak tanam, dimana tindakan ini merupakan salah satu teknik budidaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi. Sitompul dan Guritno (1995) menyatakan bahwa pengaturan tanaman di lapangan juga merupakan salah satu faktor yang menentukan keragaman pertumbuhan tanaman. Jumlah populasi tanaman per hektar merupakan faktor penting untuk mendapatkan hasil maksimal. Produksi maksimal dapat dicapai bila menggunakan bjarak tanam yang sesuai. Semakin tinggi tingkat kerapatan suatu tanaman mengakibatkan semakin tinggi tingkat persaingan antara tanaman dalam hal mendapatkan unsur hara dan cahaya. Untuk meningkatkan hasil tanaman kacang hijau, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : kesuburan tanah, pengaturan jarak tanam yang tepat dan penggunaan pupuk yang berimbang (Sitompul dan Guritno, 1995).
Media tanaman merupakan media atau tempat tanaman dimana tanaman atau biji dapat tumbuh dan berkembang. Contohnya seperti tanah, air, kapas, dan jenis-jenis yang lain. Saat ini dalam kehidupan sehari-hari atau dalam perkebunaan, tanah selalu menjadi media tanam bagi benih yang akan ditanam. Tanah sendiri terbagi menjadi beberapa macam yang mulai dari tanah humus, tanah organosol, tanah liat atau lempung, tanah alluvial, tanah vulkanik, tanah latosol, tanah gromosol, dan lain sebagaianya.
Masing-masing tanah itu sendiri memiliki kandungan berbeda-beda, dimana kandungan-kandungan itu belum tentu dibutuhkan oleh tanaman, jadi ada tanah yang memerlukan pengolahan dan tidak memerlukan pengolahan sebelum digunakan sebagai media tanam. Selain tanah, air juga dapat digunakan sebagai media tanam, khususnya untuk tanaman hiproponik. Jadi dapat dilihat bahwa kegunaan antara berbagai media tanam itu juga berbeda-beda. Tidak hanya kegunaan saja yang berbeda tetapi juga pengaruhnya terhadap pertumbuhan. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena setiap media tanam mengandung unsure-unsur dan struktur yang berbeda-beda.
Selain media tanam kedalam tanam juga memiliki pengaruh terhadap tanaman. Pada pembibitan atau penanaman benih pengaturan posisi dan kedalam benih sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan awal bibit dan mentukan kualitas sistim perakaran. Demikian pula dengan kedalam media tanam yang berpengaruh pada perkecambahan dan keberhasilan tumbuhnya bibit.
Tanaman jagung sendiri memiliki syarat pertumbuhan, tanaman jagung berasal dari daerah tropis. Namun jagung dapat menyesuaikan  diri dengan lingkungan diluar daerah tersebut. Hal ini disebabkan variasi sifat pada sejumlah jenis jagung yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik.
Media tanam (tanah) disini harus mempunyai kandungan hara yang cukup. Tersedianya zat makan didalam tanah sangat menunjang proses pertumbuhan tanaman hingga mengahsilkan atau bereproduksi. Tanaman jagung tidak memerlukan tanah yang khusus, hampir berbagai  macam tanah dapat diusahakan untuk tanaman jagung. Tetapi jagung yang ditanam pada tanah gembur, subur, dan kaya akan humus dapat member hasil yang baik. Disamping itu drainase dan aerasi yang baik serta pengelolaan yang bagus akan membantu keberhasilan usaha penanaman jagung.
B.     Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk :
1.      Memahami cara tanam
2.      Mengkaji pengaruh kedalam tanaman terhadap pertumbuhan tanaman







BAB II
TINJAUAN PSTAKA
A.    Botani kacang hijau ( vigna radiata L )
Kacang hijau termasuk tanaman satu musim, famili Leguminosae, sub famili Papilonaceae. Kacang hiaju (Vigna radiata ) yang juga disebut Phaceolus vulgaris juga dikenal sebagai green gram, golden gram, mungo dan mung (Samuel, 1974 dalam Suprapto HS dan Tatang Sutarman, 1986).
Tinggi tanaman dari varietas yang berbeda, bervariasi antara 30-110 cm. Umur kacang hijau berkisar 50-120 hari, tergantung dari lamanya penyinaran dan temperatur sekitar tanaman ini tumbuh.
Tanaman ini berbatang tegak dengan cabang menyebar. Daun bertangkai tiga, dengan bunga berwarna kuning. Polong mempunyai 6-16 biji yang berbentuk bulat agak memanjang. Umumnya lebih kecil dibanding dengan biji kacang-kacangan lainnya.
Warna biji pada beberapa varietas biasanya hijau, tetapi ada juga yang coklat atau kekuning-kuningan. Kacang hijau mempunyai akar dengan cabang-cabang sempurna dan meluas. Umur varietas berbeda-beda antara satu dengan lainnya, daya produksinya juga berbeda-beda walaupun ditanam dalam lingkungan yang sama. Dalam lingkungan yang baik, produksi maksimum mencapai 2500-2800 kg/ha (Samuel 1974 dalam Suprapto HS dan Tatang Sutarman, 1986).
B.     Peranan jarak tanaman terhadap pertumbuhan kacang hiaju (kedalaman tanam)
Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi atau hara, air, udara, dan kondisi klimatis tanah untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanah secara optimal. Sehingga, tanaman tersebut mampu melakukan proses fisiologis, vegetatif, dan generatif secara normal. Unsur hara atau nutrien adalah unsur, zat, atau senyawa yang penting (esensial) bagi tanaman. Unsur tersebut harus terdapat dan tersedia dalam tanah, terutama pada butir liat dan air tanah yang tersedia pada pori mikro atau pori kapiler. Selain itu, udara tanah yang harus terdapat dan tersedia pada pori mikro atau pori aerasi tanah
(Sutomo, 2005).
Tanah merupakan daerah peralihan antara yang hidup dan yang mati, tempat tumbuhan menggabungkan energi surya dan karbondioksida dari atmosfer dengan hara dan air dari tanah menjadi jaringan hidup. Kebanyakan hara terdapat dalam mineral dan bahan organik dan dalam keadaan demikian tidak larut serta tidak tersedia bagi tumbuhan. Hara menjadi tersedia melalui pelapukan mineral dan penguraian bahan organik. Memang jarang tanah yang mampu menyediakan semua unsur penting selama jangka waktu yang panjang dalam jumlah yang diperlukan untuk menghasilkan produk yang tinggi (Sumiati, 2000).
Agar kecambah mempunyai vigor dan kecepatan tumbuh yang baik dan seragam, maka media tanam yang digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan. Madia tanam harus bebas penyakit (steril), yang tidak cepat lapuk, mempunyai sifat kimia dan fisika yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman semai, yaitu mengandung unsur hara mikro dan makro esensial, memudahkan akar untuk menempel, media tanam harus berongga (porous) untuk sirkulasi udara (Anonim, 2010).
Salah satu faktor yang memegang peranan dalam percobaan rumah kaca adalah penggunaan tanah yang lebih seragam.  Hal tersebut penting agar data yang digunakan dapat sama. Selain itu juga agar variabel media tanamnya sama (Hidajat A, 2000).
Tanah adalah sistem hidup yang mengolah setiap pupuk buatan yang diberikan dalam bentuk tersedia atau tidak tersedia untuk tanaman. Pengatur utama proses ini adalah bahan organik tanah yang bertindak sebagai penyangga biologi yang mempertahankan penyediaan hara dalam jumlah yang cukup dan berimbang untuk tanaman. Penambahan bahan organik merupakan salah satu tindakan perbaikan lingkungan tumbuh tanaman untuk meningkatkan atau mengoptimalkan manfaat pupuk. Tanah yang miskin bahan organik akan berkurang daya penyangga dan keefisienan pupuk karena sebagian hilang dari lingkungan perakaran (Kristina D, 1996).
Faktor media tanam sangat berpengaruh terhadap ketersediaan pangan yaitu nutrisi bagi tanaman. Tanaman akan tumbuh dengan baik dan menghasilkan produk yang diminta jika media tanamnya sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman. Medium yang baik adalah medium yang dapat merembeskan air yang berlebihan dengan mudah, dapat menahan air untuk kebutuhan tanaman, subur, gembur, dan terdapat banyak unsur hara di dalamnya. Media tanam sering sekali diabaikan dalam usaha pertanian, padahal media tanam adalah pendukung utama terhadap hasil yang diperoleh (Sutomo, 2005).
BAB III
METODELOGI PELAKSANAAN
A.    Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 18 oktober tahun 2018, di laboratorim bawah tanah kampus 1 Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
B.     Bahan dan Alat
1.      Benih kacabg hajau
2.      Lidi
3.      Tanah
4.      Benih kacang hijau
5.      Alat tulis
6.      Air
7.      Alat penyiraman
8.      Gelas ukur
C.     Cara kerja
1.      Menyiapkan polibag, kemudian diis dengan media tanam
2.      Menyiram sampai kondisi kapasitas lapang
3.      Tanamamlah benih dengan kedalaman tanam berbeda
a.       Sedalam tiga kali ukuran benih
b.      Sedalam lima kali ukuran benih
c.       Sedalam sepuluh kali ukuran benih
d.      Dipermukaan media tanam
e.       Dipermukaan media tanam lalu tutup benih dengan selapistipis tanah atau media
4.      Memelihara atau melakukan penyiraman sesuai kebutuhan setiap hari
5.      Mengamati setiap 2 (hari) sekali
a.       Jumlah tanaman yang hidup
b.      Tinggi tanaman
c.       Jumlah daun
d.      Pengamatan dilakukan pada 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16,18, 20 hari setelah tanam
6.      Pada umur 20 hari setelah tanamtimbanglah bobot segar dan bobot kering tanaman.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil


















B.     Pembahasan
Pada praktikum ini ada beberapa hal yang diamati diantaranya Jumlah tanaman yang hidup, Tinggi tanaman, Jumlah daun, Pengamatan dilakukan pada 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16,18, 20 hari setelah tanam. Dari hasil praktikum yang telah penulis lakukan pada pengamatan jumlah tanaman yang hidup dengan beeberapa variabel  Sedalam tiga kali, ukuran benih Sedalam lima, kali ukuran benih Sedalam sepuluh kali ukuran benih, Dipermukaan media tanam,Dipermukaan media tanam lalu tutup benih dengan selapistipis tanah atau media.
Dari pengamatan dan hasil yang telah penulis lakukan dengan jumlah hari setelah tanam yang diukur dari jumlah daun dan tinggi tanaman pada hari kedua dan keempat tanaman yang hidup yaitu 1 tanaman dan tanaman tumbuh semuanya pada hari ke 20. hal ini terjadi pada semua variabel pengamatn. Sedangkan pada beberapa perlakuan yaitu dengan kedalaman tanam dengan ukuran benih sedalam lima dan ukuran benih sedalam sepuluh tanamannya pertumbuhannya tidak optimal. Hal ini terjadi karena pada penamana dengaan kedalaman tanah yang terlalu dalam dapat menghampat perkecambahan benih.
   











BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari praktikum yang telah penulis lakukan dan hasilpraktikum yang telah diamati maka penulis dapat  menyimpulkan bahwa :
Kedalaman tanaman sangat mempengaruhi pertumbuhan tanmanan


















DAFTAR PUSTAKA
Hidajat, A. 2000. Pedoman Bertani di Rumah Kaca. Vol V. Erlangga. Jakarta.
Kristina. D. 1996. Budidaya Pertanian. Jurnal Tropika.
Parnata, Ayub.S. 2004. Pupuk Organik Cair. Jakarta. PT Agromedia Pustaka.   Hal 15-18
Santoso, Bambang B. Bambang S. Purwoko. 2008. Pertumbuhan Bibit Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) pada Berbagai Kedalaman dan Posisi Tanam Benih. Bul. Agron. (36) (1) 70 – 77 (2008).
Subroto, H. dan Awang Yusrani. 2005. Kesuburan dan Pemanfaatan Tanah. Bayumedia Publishing. Malang.
Suriadikarta, Didi Ardi., Simanungkalit, R.D.M. 2006.Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Jawa Barat:Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Sutanto, Rachman. 2002. Pertanian organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Jakarta. Kanisius.
Sutomo, Hadi. 2005. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. UGM Press. Yogyakarta










Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BENIH ACARA III UJI VIGOR BENIH

laporan praktikum Hibridisasi dan kastrasi pada tanaman padi

laporan praktikum kultur jaringan pengenalan laboratorium