laporan analisis vegetasi gulma
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan dan
biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat.
Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat baik
diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme
lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis.
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan
(komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan. Ada berbagai metode
yang dapat di gunakan untuk menganalisa vegetasi ini. Diantaranya dengan
menggunakan metode kuadran atau sering disebut dengan kuarter. Metode ini sering sekali disebut juga dengan
plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area
cuplikan hanya berupa titik. Metode ini cocok digunakan pada individu yang
hidup tersebar sehingga untuk melakukan analisa denga melakukan perhitungan
satu persatu akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Selain menggunakan metode
kuadran, analisis vegetasi juga dapat dilakukan dengan metode titik dan metode
garis.
Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui gulma -
gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang
hidup. Dalam hal ini, penguasaan sarana tumbuh pada umumnya menentukan gulma
tersebut penting atau tidak. Namun dalam hal ini jenis tanaman memiliki peran
penting, karena tanaman tertentu tidak akan terlalu terpengaruh oleh adanya
gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak.
B. Tujuan
1. Agar
mahasiswa dapat mengerti manfaat analisis vegetasi
2. Agar
mahasiswa dapat melaksanakan analisis vegetasi tersebut dengan menggunakan
metode yang umum dipakai
3. Untuk
mengetahui populasi gulma dalam satuan luas secara kuantitatif
4. Melatih
keterampilan mahasiswa untuk mengidentifikasi populasi gulma secara kuantitatif
5. Mengetahui
populasi gulma secara kuantitatif yang
mendominasi pada pertanaman tertentu
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Tanaman yang tumbuhnya
tidak diinginkan adalah gulma. Gulma di
suatu tempat mungkin berguna sebagai bahan pangan, makanan ternak atau sebagai
bahan obat-obatan. Dengan demikian, suatu spesies tumbuhan tidak dapat
diklasifikasikan sebagai gulma pada semua kondisi. Namun demikian, banyak juga
tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma
tersebut umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya (Sembodo,
2010).
Kebanyakan Gulma
merupakan tanaman yang cepat tumbuh dan dapat menghasilkan sejumlah besar biji
dalam waktu singkat perkembangbiakan gulma sangat mudah baik secara generatif
maupun secara vegetatif. Secara generatif, biji-biji gulma yang halus, ringan,
dan berjumlah sangat banyak dapat disebarkan oleh angin, air, hewan, maupun
manusia. Perkembangbiakan secara vegetatif terjadi karena bagian batang yang
berada di dalam tanah akan membentuk tunas yang nantinya akan membentuk
tumbuhan baru. Demikian juga, bagian akar tanaman, misalnya stolon, rhizomma,
dan umbi, akan bertunas dan membentuk tumbuhan baru (Barus, 2003).
Cara mempelajari
susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan merupakan pengertian dari analisa vegetasi. Analisis vegetasi
digunakan untuk mengetahui gulma-gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam
penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup. Dalam hal ini, penguasaan sarana tumbuh
pada umumnya menentukan gulma tersebut penting atau tidak. Namun dalam hal ini
jenis tanaman memiliki peran penting, karena tanaman tertentu tidak akan
terlalu terpengaruh oleh adanya gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak
(Adi, 2013).
Analisis vegetasi gulma
dengan menghitung nilai SDR pada setiap petak percobaan. Nilai SDR didapat-kan
dengan menghitung setiap jumlahspesies gulma yang terdapat pada petak contoh
(Tjitrosoedirdjo dkk.,1934). Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai
metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam
mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu
metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam
bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai
kendala yang ada (Syafei, 1990).
Pengamatan parameter
vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem
alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen
biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu
komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang,
semak belukar dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah
dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga
vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan
pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami
perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984).
Konsepsi dari metode
analisa vegetasi sesungguhnya sangat bervariasi, tergantung keadaan vegetasi
itu sendiri dan tujuannnya misalnya untuk mengevaluasi hasil pengendalian
gulma. Metode yang digunakan untuk analisa vegetasi harus disesuaikan dengan
struktur dan komposisi. Ada empat metode yang lazim dalam analisa vegetasi
yaitu metode estimasi visual, metode kuadrat, metode garis dan metode titik
(Syafei, 1990).
Metode kuadrat
merupakan bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran
yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan
bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang
menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel
kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Syafei, 1990).
Metode kauadrat adalah
metode yang dilakukan dengan melakukan pengamatan pada suatu areal dalam satuan
kuadrat (m2, cm2) dan bentuk petak contoh dapat berupa segi empat, segi panjang
atau lingkaran. Metode garis adalah dengan meletakkan petak contoh yang
memanjang diatas sebuah komunitas vegetasi (Yernelis.1995).
BAB III
METODELOGI PELAKSANAAN
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum
ini dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 03 November tahun 2018 dan
dilaksanakan di kebun gunung bulu Kampus 1 Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
B.
Alat dan Bahan
1. Tali
rafia
2. Penggaris
3. Gunting
4. Petak
berbentuk segi empat
5. Pena
6. Buku
C.
Cara Kerja
Adapun
cara kerja dari praktikum ini adalah
1. Diletakkan
kuadran pada 2 tempat yang berbeda (2 ulangan)
2. Dilakukan
pengamatan visual untuk menduga penutupan masing-masing spesies gulma (data
dominansi) yang terdapat pada kuadran
3. Dihitung
juga jumlah populasi masing-masing spesies gulma tersebut ( data kerapatan)
4. Berdasarkan
data 2 ulangan tersebut dilakukan perhitungan
5. Nilai
NP dan SDR semakin banyak perubahan yang digunakan makin mendekati nilai
kebenaran yang akan diduga.
6. SDR
menggambarkan kemampuan suatu jenis gulma tertentu untuk menguasai sarana
tumbuh yang ada. Semakin besar nilai SDR maka gulma tersebut semakin dominan.
7. Berdasarkan
hasil perhitungan dilakukan kebijakan pengendalian gulma utuk dapat menekan
populasi gulma pada daerah pengamatan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
1. Lahan
1
|
Gulma
|
Petak
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
Teki
|
31
|
68
|
9
|
|
Acalypha
|
1
|
-
|
-
|
|
Digitaria
|
10
|
5
|
14
|
|
Cleome
|
-
|
-
|
2
|
|
Meniran
|
1
|
1
|
-
|
|
Krokot
|
-
|
-
|
5
|
a. Kerapatan
Mutlak dan frekuensi mutlak
|
Gulma
|
Kerapatan
mutlak
|
Frekuensi
mutlak
|
|
teki
|
108
|
3
|
|
Acalypha
|
1
|
1
|
|
Digitaria
|
29
|
3
|
|
Cleome
|
2
|
1
|
|
Meniran
|
2
|
2
|
|
Krokot
|
5
|
1
|
|
Total
|
147
|
11
|
b. Kerapatan
nisbi dan Frekuensi Nisbi
|
Gulma
|
Kerapatan
mutlak
|
Frekuensi
mutlak
|
|
teki
|
|
|
|
Acalypha
|
|
|
|
Digitaria
|
|
|
|
Cleome
|
|
|
|
Meniran
|
|
|
|
Krokot
|
|
|
|
Total
|
100,66
|
99,99
|
SDR =
Teki =
= 50,36
Acalypha =
= 5,22
Digitaria =
= 23,49
Cleome =
= 5,22
Meniran =
= 9,77
Krokot =
= 6,24
Jadi total SDR adalah 100,3
2. Lahan
2
|
Gulma
|
Petak
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
Krokot
|
14
|
3
|
6
|
|
Teki
|
8
|
4
|
16
|
|
Centella
|
3
|
1
|
-
|
|
Digitaria
|
3
|
1
|
9
|
a. Kerapatan
Mutlak dan frekuensi mutlak
|
Gulma
|
Kerapatan
mutlak
|
Frekuensi
mutlak
|
|
Krokot
|
23
|
3
|
|
Teki
|
28
|
3
|
|
Centella
|
4
|
2
|
|
Digitaria
|
13
|
3
|
|
Total
|
68
|
11
|
b. Kerapatan
nisbi dan Frekuensi Nisbi
|
Gulma
|
Kerapatan
nisbi
|
Frekuensi
nisbi
|
|
Krokot
|
|
|
|
Teki
|
|
|
|
Centella
|
|
|
|
Digitaria
|
|
|
|
Total
|
104,98
|
99,99
|
SDR =
Krokot =
= 33,04
Teki =
= 34,22
Centella =
= 12,03
Digitaria =
= 23,19
Jadi total SDR adalah 102,48
Komposisi untuk kedua lahan ini adalah
C =
× 100 %
C =
× 100 %
C =
× 100 %
C = 62,77
Karna C dibawah 75% maka komposisis
berbeda
B.
Pembahasan
Dari
data yang diperoleh ada beberapa jenis gulma
yang tumbuh bukan hanya pada satu petak saja tetapi di setiap lahan yang di amati, populasi yang
paling dominan adalah teki (cyperus
rotandus) dengan SDR50,36. Urutan gulma dari yang dominan antara lain digitaria
(23,49), meniran (phyllanthus niruri)
(9.77), krokot (6,24), Acalypha (5,22), dan cleome (5,22).
Some
Dominance Ratio (SDR) atau Nisbah Jumlah Dominan (NJD) adalah satuan untuk menggambarkan hubungan jumlah dominansi
suatu jenis gulma dengan jenis gulma lainnya dalam suatu komunitas, sebab dalam
suatu komunitas sering dijumpai spesies gulma tertentu yang tumbuh lebih
dominan dari spesies yang lain. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum
pengendalian gulma dilakukan antara lain adalah jenis gulma dominan, tumbuhan
budidaya utama, alternatif pengendalian yang tersedia serta dampak ekonomi dan
ekologi (Mas’ud, 2009).
Menurut
Prawoto (2008) tujuan analisis vegetasi antara lain
1. Mengetahui
komposisi jenis gulma dan menetapkan jenis yang dominan.
Hal
ini dilakukan untuk keperluan perencanaan, misalnya untuk memilih
herbisida yang sesuai.
2. Untuk
mengetahui tingkat kesamaan atau perbedaan antara dua vegetasi. Hal ini penting
misalnya untuk membandingkan apakah terjadi perubahan komposisi vegetasi gulma
sebelum dan setelah dilakukan
pengendalian dengan cara tertentu.
Ada
beberapa metode yang digunakan untuk analisis vegetasi, antara lain:
a. Metode
estimasi visual
Pengamatan
dilakukan pada titik tertentu yang selalu tetap letaknya, misalnya selalu di
tengah atau di salah satu sudut yang tetap pada petak-contoh yang telah
terbatas. Besaran yang dihitung berupa
dominansi yang dinyatakan dalam persentase penyebaran (Tjitrosoedirdjo, 1984).
b. Metode
Garis
Metode
garis merupakan metode menggunakan cuplikan berupa garis. Pada vegetasi hutan penggunaan metode garis sangat
bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Apabila vegetasi sederhana maka
garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis
yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar,
garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi
yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 meter (Syafei, 1990).
c. Metode
Kuadrat
Metode kuadrat adalah ukuran luas dalam satuan
kuadrat (m2, cm2, dsb), dengan bentuk
berupa segi empat, persegi panjang dan lingkaran. Untuk vegetasi yang
pendek/rendah, menggunakan bentuk lingkaran karena ukurannya dapat diperluas
dengan cepat dan teliti dengan menggunakan seutas tali yang dikaitkan pada
titik pusat petak. Untuk gulma berbentuk herba rendah menggunakan metode
kuadrat persegi panjang karena kelompok tumbuhan berkembang membentuk sebuah
lingkaran. Dengan kuadrat segi panjang akan lebih memungkinkan memotong
kelompok tumbuhan dan lebih banyak kelompok yang bisa diamati. Jika yang ditinjau distribusi suatu kelompok
tumbuhan, kuadrat lingkaran kurang efiasien dibanding semua bentuk segi-empat,
tetapi lingkaran mempunyai keuntungan dibanding semua bentuk geometri lainnya
karena lingkaran mempunyai perbandingan terkecil antara tepi dan luasnya
(Tjitrosoedirdjo, 1984).
d. Metode
titik
Metode
titik merupakan suatu variasi metode kuadrat.
Jika sebuah kuadrat diperkecil sampai titik tidak terhingga, akan
menjadi titik. Sebagai tumbuhan, gulma juga memerlukan persyaratan tumbuh
seperti halnya tanaman lain misalnya kebutuhan akan cahaya, nutrisi, air, gas
CO2 dan gas lainnya, ruang dan lain sebagainya (Tjitrosoedirdjo, 1984).
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1. Dari
data yang diperoleh ada beberapa jenis gulma
yang tumbuh bukan hanya pada satu petak saja tetapi di setiap lahan yang di amati, populasi yang
paling dominan adalah teki (cyperus rotandus) dengan SDR50,36. Urutan gulma
dari yang dominan antara lain digitaria (23,49), meniran (phyllanthus niruri)
(9.77), krokot (6,24), Acalypha (5,22), dan cleome (5,22).
2. Komposisi
gulma pada dua lahan yang telah kami amati berbeda karena dari data yang telah
kami peroleh yaitu C dibawah 75 %
DAFTAR PUSTAKA
Adi.
2013. Vegetasi Gulma. http://arekpekalongan.blogspot.com/2018/10/vegetasi gulma.html diakses 20 November 2018 pukul
22:00 WIB
Barus,
Emanuel .2003. Pengendalian Gulma Perkebunan. Kanisius. Yogyakarta.
Mas’ud
dan Hidayati. 2009. Komposisi dan Efisiensi Pengendalian Gulma pada Pertanaman
Kedelai dengan Penggunaan Bokashi . Jurnal Agroland 16
(2)
: 118 – 123.\
Prawoto,
A. A., dkk. 2008. Panduan Lengkap Kakao : Manajenem Agribisnis dari Hulu hingga
Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sembodo,
D.R.J. 2010. Gulma dan Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Setiadi,
D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan
Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH
Purwakarta, Jawa Barat. Bogor: Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas
Pertanian IPB.
Syafei,
Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.
Tjitrosoedirdjo,
dkk. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan.
PT Gramedia. Jakarta
Yernelis.1995.
Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Pers, Jakarta.
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan dan
biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat.
Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat baik
diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme
lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis.
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan
(komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan. Ada berbagai metode
yang dapat di gunakan untuk menganalisa vegetasi ini. Diantaranya dengan
menggunakan metode kuadran atau sering disebut dengan kuarter. Metode ini sering sekali disebut juga dengan
plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area
cuplikan hanya berupa titik. Metode ini cocok digunakan pada individu yang
hidup tersebar sehingga untuk melakukan analisa denga melakukan perhitungan
satu persatu akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Selain menggunakan metode
kuadran, analisis vegetasi juga dapat dilakukan dengan metode titik dan metode
garis.
Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui gulma -
gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang
hidup. Dalam hal ini, penguasaan sarana tumbuh pada umumnya menentukan gulma
tersebut penting atau tidak. Namun dalam hal ini jenis tanaman memiliki peran
penting, karena tanaman tertentu tidak akan terlalu terpengaruh oleh adanya
gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak.
B. Tujuan
1. Agar
mahasiswa dapat mengerti manfaat analisis vegetasi
2. Agar
mahasiswa dapat melaksanakan analisis vegetasi tersebut dengan menggunakan
metode yang umum dipakai
3. Untuk
mengetahui populasi gulma dalam satuan luas secara kuantitatif
4. Melatih
keterampilan mahasiswa untuk mengidentifikasi populasi gulma secara kuantitatif
5. Mengetahui
populasi gulma secara kuantitatif yang
mendominasi pada pertanaman tertentu
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Tanaman yang tumbuhnya
tidak diinginkan adalah gulma. Gulma di
suatu tempat mungkin berguna sebagai bahan pangan, makanan ternak atau sebagai
bahan obat-obatan. Dengan demikian, suatu spesies tumbuhan tidak dapat
diklasifikasikan sebagai gulma pada semua kondisi. Namun demikian, banyak juga
tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma
tersebut umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya (Sembodo,
2010).
Kebanyakan Gulma
merupakan tanaman yang cepat tumbuh dan dapat menghasilkan sejumlah besar biji
dalam waktu singkat perkembangbiakan gulma sangat mudah baik secara generatif
maupun secara vegetatif. Secara generatif, biji-biji gulma yang halus, ringan,
dan berjumlah sangat banyak dapat disebarkan oleh angin, air, hewan, maupun
manusia. Perkembangbiakan secara vegetatif terjadi karena bagian batang yang
berada di dalam tanah akan membentuk tunas yang nantinya akan membentuk
tumbuhan baru. Demikian juga, bagian akar tanaman, misalnya stolon, rhizomma,
dan umbi, akan bertunas dan membentuk tumbuhan baru (Barus, 2003).
Cara mempelajari
susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan merupakan pengertian dari analisa vegetasi. Analisis vegetasi
digunakan untuk mengetahui gulma-gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam
penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup. Dalam hal ini, penguasaan sarana tumbuh
pada umumnya menentukan gulma tersebut penting atau tidak. Namun dalam hal ini
jenis tanaman memiliki peran penting, karena tanaman tertentu tidak akan
terlalu terpengaruh oleh adanya gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak
(Adi, 2013).
Analisis vegetasi gulma
dengan menghitung nilai SDR pada setiap petak percobaan. Nilai SDR didapat-kan
dengan menghitung setiap jumlahspesies gulma yang terdapat pada petak contoh
(Tjitrosoedirdjo dkk.,1934). Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai
metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam
mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu
metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam
bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai
kendala yang ada (Syafei, 1990).
Pengamatan parameter
vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem
alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen
biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu
komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang,
semak belukar dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah
dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga
vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan
pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami
perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984).
Konsepsi dari metode
analisa vegetasi sesungguhnya sangat bervariasi, tergantung keadaan vegetasi
itu sendiri dan tujuannnya misalnya untuk mengevaluasi hasil pengendalian
gulma. Metode yang digunakan untuk analisa vegetasi harus disesuaikan dengan
struktur dan komposisi. Ada empat metode yang lazim dalam analisa vegetasi
yaitu metode estimasi visual, metode kuadrat, metode garis dan metode titik
(Syafei, 1990).
Metode kuadrat
merupakan bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran
yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan
bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang
menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel
kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Syafei, 1990).
Metode kauadrat adalah
metode yang dilakukan dengan melakukan pengamatan pada suatu areal dalam satuan
kuadrat (m2, cm2) dan bentuk petak contoh dapat berupa segi empat, segi panjang
atau lingkaran. Metode garis adalah dengan meletakkan petak contoh yang
memanjang diatas sebuah komunitas vegetasi (Yernelis.1995).
BAB III
METODELOGI PELAKSANAAN
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum
ini dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 03 November tahun 2018 dan
dilaksanakan di kebun gunung bulu Kampus 1 Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
B.
Alat dan Bahan
1. Tali
rafia
2. Penggaris
3. Gunting
4. Petak
berbentuk segi empat
5. Pena
6. Buku
C.
Cara Kerja
Adapun
cara kerja dari praktikum ini adalah
1. Diletakkan
kuadran pada 2 tempat yang berbeda (2 ulangan)
2. Dilakukan
pengamatan visual untuk menduga penutupan masing-masing spesies gulma (data
dominansi) yang terdapat pada kuadran
3. Dihitung
juga jumlah populasi masing-masing spesies gulma tersebut ( data kerapatan)
4. Berdasarkan
data 2 ulangan tersebut dilakukan perhitungan
5. Nilai
NP dan SDR semakin banyak perubahan yang digunakan makin mendekati nilai
kebenaran yang akan diduga.
6. SDR
menggambarkan kemampuan suatu jenis gulma tertentu untuk menguasai sarana
tumbuh yang ada. Semakin besar nilai SDR maka gulma tersebut semakin dominan.
7. Berdasarkan
hasil perhitungan dilakukan kebijakan pengendalian gulma utuk dapat menekan
populasi gulma pada daerah pengamatan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
1. Lahan
1
|
Gulma
|
Petak
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
Teki
|
31
|
68
|
9
|
|
Acalypha
|
1
|
-
|
-
|
|
Digitaria
|
10
|
5
|
14
|
|
Cleome
|
-
|
-
|
2
|
|
Meniran
|
1
|
1
|
-
|
|
Krokot
|
-
|
-
|
5
|
a. Kerapatan
Mutlak dan frekuensi mutlak
|
Gulma
|
Kerapatan
mutlak
|
Frekuensi
mutlak
|
|
teki
|
108
|
3
|
|
Acalypha
|
1
|
1
|
|
Digitaria
|
29
|
3
|
|
Cleome
|
2
|
1
|
|
Meniran
|
2
|
2
|
|
Krokot
|
5
|
1
|
|
Total
|
147
|
11
|
b. Kerapatan
nisbi dan Frekuensi Nisbi
|
Gulma
|
Kerapatan
mutlak
|
Frekuensi
mutlak
|
|
teki
|
|
|
|
Acalypha
|
|
|
|
Digitaria
|
|
|
|
Cleome
|
|
|
|
Meniran
|
|
|
|
Krokot
|
|
|
|
Total
|
100,66
|
99,99
|
SDR =
Teki =
= 50,36
Acalypha =
= 5,22
Digitaria =
= 23,49
Cleome =
= 5,22
Meniran =
= 9,77
Krokot =
= 6,24
Jadi total SDR adalah 100,3
2. Lahan
2
|
Gulma
|
Petak
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
Krokot
|
14
|
3
|
6
|
|
Teki
|
8
|
4
|
16
|
|
Centella
|
3
|
1
|
-
|
|
Digitaria
|
3
|
1
|
9
|
a. Kerapatan
Mutlak dan frekuensi mutlak
|
Gulma
|
Kerapatan
mutlak
|
Frekuensi
mutlak
|
|
Krokot
|
23
|
3
|
|
Teki
|
28
|
3
|
|
Centella
|
4
|
2
|
|
Digitaria
|
13
|
3
|
|
Total
|
68
|
11
|
b. Kerapatan
nisbi dan Frekuensi Nisbi
|
Gulma
|
Kerapatan
nisbi
|
Frekuensi
nisbi
|
|
Krokot
|
|
|
|
Teki
|
|
|
|
Centella
|
|
|
|
Digitaria
|
|
|
|
Total
|
104,98
|
99,99
|
SDR =
Krokot =
= 33,04
Teki =
= 34,22
Centella =
= 12,03
Digitaria =
= 23,19
Jadi total SDR adalah 102,48
Komposisi untuk kedua lahan ini adalah
C =
× 100 %
C =
× 100 %
C =
× 100 %
C = 62,77
Karna C dibawah 75% maka komposisis
berbeda
B.
Pembahasan
Dari
data yang diperoleh ada beberapa jenis gulma
yang tumbuh bukan hanya pada satu petak saja tetapi di setiap lahan yang di amati, populasi yang
paling dominan adalah teki (cyperus
rotandus) dengan SDR50,36. Urutan gulma dari yang dominan antara lain digitaria
(23,49), meniran (phyllanthus niruri)
(9.77), krokot (6,24), Acalypha (5,22), dan cleome (5,22).
Some
Dominance Ratio (SDR) atau Nisbah Jumlah Dominan (NJD) adalah satuan untuk menggambarkan hubungan jumlah dominansi
suatu jenis gulma dengan jenis gulma lainnya dalam suatu komunitas, sebab dalam
suatu komunitas sering dijumpai spesies gulma tertentu yang tumbuh lebih
dominan dari spesies yang lain. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum
pengendalian gulma dilakukan antara lain adalah jenis gulma dominan, tumbuhan
budidaya utama, alternatif pengendalian yang tersedia serta dampak ekonomi dan
ekologi (Mas’ud, 2009).
Menurut
Prawoto (2008) tujuan analisis vegetasi antara lain
1. Mengetahui
komposisi jenis gulma dan menetapkan jenis yang dominan.
Hal
ini dilakukan untuk keperluan perencanaan, misalnya untuk memilih
herbisida yang sesuai.
2. Untuk
mengetahui tingkat kesamaan atau perbedaan antara dua vegetasi. Hal ini penting
misalnya untuk membandingkan apakah terjadi perubahan komposisi vegetasi gulma
sebelum dan setelah dilakukan
pengendalian dengan cara tertentu.
Ada
beberapa metode yang digunakan untuk analisis vegetasi, antara lain:
a. Metode
estimasi visual
Pengamatan
dilakukan pada titik tertentu yang selalu tetap letaknya, misalnya selalu di
tengah atau di salah satu sudut yang tetap pada petak-contoh yang telah
terbatas. Besaran yang dihitung berupa
dominansi yang dinyatakan dalam persentase penyebaran (Tjitrosoedirdjo, 1984).
b. Metode
Garis
Metode
garis merupakan metode menggunakan cuplikan berupa garis. Pada vegetasi hutan penggunaan metode garis sangat
bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Apabila vegetasi sederhana maka
garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis
yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar,
garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi
yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 meter (Syafei, 1990).
c. Metode
Kuadrat
Metode kuadrat adalah ukuran luas dalam satuan
kuadrat (m2, cm2, dsb), dengan bentuk
berupa segi empat, persegi panjang dan lingkaran. Untuk vegetasi yang
pendek/rendah, menggunakan bentuk lingkaran karena ukurannya dapat diperluas
dengan cepat dan teliti dengan menggunakan seutas tali yang dikaitkan pada
titik pusat petak. Untuk gulma berbentuk herba rendah menggunakan metode
kuadrat persegi panjang karena kelompok tumbuhan berkembang membentuk sebuah
lingkaran. Dengan kuadrat segi panjang akan lebih memungkinkan memotong
kelompok tumbuhan dan lebih banyak kelompok yang bisa diamati. Jika yang ditinjau distribusi suatu kelompok
tumbuhan, kuadrat lingkaran kurang efiasien dibanding semua bentuk segi-empat,
tetapi lingkaran mempunyai keuntungan dibanding semua bentuk geometri lainnya
karena lingkaran mempunyai perbandingan terkecil antara tepi dan luasnya
(Tjitrosoedirdjo, 1984).
d. Metode
titik
Metode
titik merupakan suatu variasi metode kuadrat.
Jika sebuah kuadrat diperkecil sampai titik tidak terhingga, akan
menjadi titik. Sebagai tumbuhan, gulma juga memerlukan persyaratan tumbuh
seperti halnya tanaman lain misalnya kebutuhan akan cahaya, nutrisi, air, gas
CO2 dan gas lainnya, ruang dan lain sebagainya (Tjitrosoedirdjo, 1984).
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1. Dari
data yang diperoleh ada beberapa jenis gulma
yang tumbuh bukan hanya pada satu petak saja tetapi di setiap lahan yang di amati, populasi yang
paling dominan adalah teki (cyperus rotandus) dengan SDR50,36. Urutan gulma
dari yang dominan antara lain digitaria (23,49), meniran (phyllanthus niruri)
(9.77), krokot (6,24), Acalypha (5,22), dan cleome (5,22).
2. Komposisi
gulma pada dua lahan yang telah kami amati berbeda karena dari data yang telah
kami peroleh yaitu C dibawah 75 %
DAFTAR PUSTAKA
Adi.
2013. Vegetasi Gulma. http://arekpekalongan.blogspot.com/2018/10/vegetasi gulma.html diakses 20 November 2018 pukul
22:00 WIB
Barus,
Emanuel .2003. Pengendalian Gulma Perkebunan. Kanisius. Yogyakarta.
Mas’ud
dan Hidayati. 2009. Komposisi dan Efisiensi Pengendalian Gulma pada Pertanaman
Kedelai dengan Penggunaan Bokashi . Jurnal Agroland 16
(2)
: 118 – 123.\
Prawoto,
A. A., dkk. 2008. Panduan Lengkap Kakao : Manajenem Agribisnis dari Hulu hingga
Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sembodo,
D.R.J. 2010. Gulma dan Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Setiadi,
D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan
Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH
Purwakarta, Jawa Barat. Bogor: Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas
Pertanian IPB.
Syafei,
Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.
Tjitrosoedirdjo,
dkk. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan.
PT Gramedia. Jakarta
Yernelis.1995.
Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Pers, Jakarta.
Komentar
Posting Komentar