analisis vegetasi gulma
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Vegetasi merupakan sekumpulan tumbuhan dan biasanya
terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama- sama pada suatu tempat. Analisa
vegetasi adalah cara mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan.
Vegetasi
menggambarkan perpaduan berbagai jenis tumbuhan di suatu wilayah atau daerah.
Suatu tipe vegetasi menggambarkan suatu daerah dari segi penyebaran tumbuhan
yang ada baik secara ruang dan waktu. Rawa-rawa, padang rumput dan hutan
merupakan suatu contoh vegetasi. Suatu vegetasi kadangkala dibagi menjadi
beberapa komunitas yang tumbuh bersama di suatu daerah. Beberapa komunitas
tersebut juga disebut assosiasi yaitu sekumpulan tumbuhan yang tumbuh bersama
pada lingkungan yang sama. Komunitas tumbuhan akan selalu di dominasi oleh jenis
tumbuhan tertentu sebagai gulma. Komunitas tumbuhan sering kali digunakan oleh
ahli ekologi untuk menjelaskan suatu vegetasi di suatu wilayah. Adapun
sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh komunitas tumbuhan adalah:
1. Mempunyai komposisi floristic yang tetap
2. Fisiognomi (struktur, tinggi, penutupan,
tajuk daun, dsb)
3. Mempunyai penyebaran yang karakteristik
dengan lingkungan habitatnya
Umumnya dipandang dari manfaat yang didapat,
tumbuhan dibagi menjadi dua yaitu, tanaman yaitu tumbuhan yang menguntungkan
dan dibudidayakan dan tumbuhan yang merugikan. Tumbuhan yang menguntungkan
disebut tanaman yaitu tumbuhan yang dibudidayakan oleh manusia atau sengaja
untuk ditanam karena mempunyai nilai ekonomis yang menjanjikan. Sedangkan
tumbuhan yang merugikan adalah tumbuhan yang tidak dikehendaki keberadaannya. Dalam
kegiatan budidaya atau dalam ilmu pertanian, tumbuhan tersebut sering disebut
dengan gulma (weed).
Kehadiran gulma sendiri secara langsung dapat
mempengaruhi produksi tanaman, baik secara kualitas maupun kuantitas, kemudian
juga dapatmenghambat praktek budidaya pertanian. seperti dengan adanya gulma
kualitasakan menurun, karena biji gulma tersebut tercampur pada saat pengolahan
tanah. Kemudian kuantitas juga akan menurun, karena terjadi kompetisi dalam
sarana tumbuh (hara, air, udara, cahaya, ruang gerak) dalam jumlah terbatas,
tergantung dari varietas, kesuburan, jenis, kerapatan, dan lamanya tumbuh.
Hal inilah
yang kemudian menimbulkan gagasan untuk mengendalikan gulma. Dengan tujuan untuk
meningkatkan atau mempertahankan produktifitas tanaman.
B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui spesies
gulma yang tumbuh mengganggu dan bersaing dengan tanaman budidaya dan
mengetahui komposisi jenis atau spesies gulma, dan dominasi pada suatu
vegetasi.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Gulma ialah tanaman
yang tumbuhnya tidak diinginkan. Gulma di suatu tempat mungkin berguna sebagai
bahan pangan, makanan ternak atau sebagai bahan obat-obatan. Dengan demikian,
suatu spesies tumbuhan tidak dapat diklasifikasikan sebagai gulma pada semua
kondisi. Namun demikian, banyak juga tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma
dimanapun gulma itu berada karena gulma tersebut umum tumbuh secara teratur
pada lahan tanaman budidaya (Sebayang, 2005).
Dalam pertanian gulma
tidak dikehendaki karena (a) menurunkan produksi akibat bersaing dalam
pengambilan unsur hara, air, sinar matahari, dan ruang tumbuh; (b) menurunkan
mutu hasil akibat kontaminasi dengan bagian-bagian gulma; (c) mengeluarkan senyawa
alelopati (zat penghambat pertumbuhan) yang dapat mengganggu pertumbuhan
tanaman; (d) menjadi inang bagi hama dan patogen yang menyerang tanaman; (e)
mengganggu tata-guna air; dan (f) secara umum meningkatkan biaya usaha tani
(Jumin, 1991). Pengamatan gulma dilakukan dengan
analisis vegetasi untuk penentuan nilai NJD atau SDR (Nisbah Jumlah Dominasi)
dengan perhitungan analisis vegetasi (Tjitrosoedirdjo et al. 1984).
Gulma dari golongan
monokotil pada umumnya disebut juga dengan istilah gulma berdaun sempit atau
jenis gulma rumput- rumputan. Sedangkan gulma dari golongan dikotil disebut
dengan istilah gulma berdaun lebar. Ada pula jenis gulma lain yang berasal dari
golongan teki- tekian (atau golongan sedges) (Moenandir, 1993).
Daun gulma daun lebar
dibentuk pada meristem apikal yang sangat sensitif pada senyawa kimia. Stomata
pada daun gulma daun lebar banyak terdapat pada daun bagian bawah yang
memungkinkan cairan herbisida dapat masuk. Gulma daun lebar memiliki bentuk
daun yang lebih luas, sehingga luas permukaan daun yang kontak dengan senyawa
limbah sagu lebih besar. Gulma daun sempit berkedudukan vertikal dan memiliki
luas permukaan daun lebih kecil. Analisis vegetasi gulma menunjukkan bahwa
gulma daun sempit merupakan gulma yang dominan dibandingkan gulma daun lebar.
Hal ini disebabkan karena gulma daun sempit umumnya bereproduksi secara
vegetatif dengan stolon dan rhizome yang mampu bertahan di dalam tanah dan akan
tumbuh kembali jika kondisi sudah baik (Syakir, 2008).
Pengamatan komposisi
gulma berguna untuk mengetahui ada tidaknya pergeseran jenis gulma yaitu
keberadaan jenis gulma pada suatu areal sebelum dan sesudah
percobaan/perlakuan. Some Dominance Ratio (SDR) atau Nisbah Jumlah Dominan
(NJD) berguna untuk menggambarkan hubungan jumlah dominansi suatu jenis gulma
dengan jenis gulma lainnya dalam suatu komunitas, sebab dalam suatu komunitas
sering dijumpai spesies gulma tertentu yang tumbuh lebih dominan dari spesies
yang lain. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma dilakukan
antara lain adalah jenis gulma dominan, tumbuhan budidaya utama, alternatif
pengendalian yang tersedia serta dampak ekonomi dan ekologi (Mas’ud, 2009).
Tujuan analisis
vegetasi adalah sebagai berikut (Prawoto, dkk, 2008) :
1.
Mengetahui komposisi jenis gulma dan menetapkan jenis yang dominan.
Biasanya hal ini dilakukan untuk
keperluan perencanaan, misalnya untuk memilih herbisida yang sesuai.
2.
Untuk mengetahui tingkat kesamaan atau perbedaan antara dua vegetasi.
Hal ini penting misalnya untuk membandingkan apakah terjadi perubahan komposisi
vegetasi gulma sebelum dan setelah dilakukan
pengendalian dengan cara tertentu.
BAB III
METODELOGI PELAKSANAAN
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum
ini dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 03 November tahun 2018 dan
dilaksanakan di kebun gunung bulu Kampus 1 Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
B.
Alat dan Bahan
1. Tali
rafia
2. Penggaris
3. Gunting
4. Petak
berbentuk segi empat
5. Pena
6. Buku
C.
Cara Kerja
Adapun
cara kerja dari praktikum ini adalah
1. Diletakkan
kuadran pada 2 tempat yang berbeda (2 ulangan)
2. Dilakukan
pengamatan visual untuk menduga penutupan masing-masing spesies gulma (data
dominansi) yang terdapat pada kuadran
3. Dihitung
juga jumlah populasi masing-masing spesies gulma tersebut ( data kerapatan)
4. Berdasarkan
data 2 ulangan tersebut dilakukan perhitungan
5. Nilai
NP dan SDR semakin banyak perubahan yang digunakan makin mendekati nilai
kebenaran yang akan diduga.
6. SDR
menggambarkan kemampuan suatu jenis gulma tertentu untuk menguasai sarana
tumbuh yang ada. Semakin besar nilai SDR maka gulma tersebut semakin dominan.
7. Berdasarkan
hasil perhitungan dilakukan kebijakan pengendalian gulma utuk dapat menekan
populasi gulma pada daerah pengamatan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
1. Lahan
1
|
Gulma
|
Petak
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
Teki
|
2
|
1
|
-
|
|
Acalypha
|
-
|
-
|
-
|
|
Digitaria
|
2
|
-
|
2
|
|
Cleome
|
-
|
-
|
-
|
|
Meniran
|
-
|
-
|
-
|
|
Krokot
|
-
|
-
|
-
|
a. Kerapatan
Mutlak dan frekuensi mutlak
|
Gulma
|
Kerapatan
mutlak
|
Frekuensi
mutlak
|
|
Teki
|
4
|
2
|
|
Acalypha
|
-
|
-
|
|
Digitaria
|
4
|
2
|
|
Cleome
|
-
|
-
|
|
Meniran
|
-
|
-
|
|
Krokot
|
-
|
-
|
|
Total
|
8
|
4
|
b. Kerapatan
nisbi dan Frekuensi Nisbi
|
Gulma
|
Kerapatan
nisbi
|
Frekuensi
nisbi
|
|
Teki
|
|
|
|
Acalypha
|
0
|
0
|
|
Digitaria
|
|
|
|
Cleome
|
0
|
|
|
Meniran
|
|
|
|
Krokot
|
0
|
|
|
Total
|
100
|
100
|
SDR =
Teki =
= 50
Acalypha =

Digitaria =
= 50
Cleome =

Meniran =

Krokot =

Jadi total SDR adalah 100
2. Lahan
2
|
Gulma
|
Petak
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
Krokot
|
1
|
-
|
1
|
|
Teki
|
1
|
-
|
2
|
|
Centella
|
-
|
-
|
-
|
|
Digitaria
|
-
|
-
|
-
|
a. Kerapatan
Mutlak dan frekuensi mutlak
|
Gulma
|
Kerapatan
mutlak
|
Frekuensi
mutlak
|
|
Krokot
|
2
|
2
|
|
Teki
|
3
|
2
|
|
Centella
|
-
|
0
|
|
Digitaria
|
-
|
0
|
|
Total
|
5
|
4
|
b. Kerapatan
nisbi dan Frekuensi Nisbi
|
Gulma
|
Kerapatan
nisbi
|
Frekuensi
nisbi
|
|
Krokot
|
|
|
|
Teki
|
|
|
|
Centella
|
|
|
|
Digitaria
|
|
|
|
Total
|
100
|
100
|
SDR =
Krokot =
= 45
Teki =
= 55
Centella =

Digitaria = 
Jadi total SDR adalah 100
Komposisi untuk kedua lahan ini adalah
C =
× 100 %
C =
× 100 %
C =
× 100 %
C = 95 %
Karna C diatas 75% maka komposisi sama
B.
Pembahasan
Menurut
Radosevich (2007), gulma merupakan tanaman yang tumbuh bukan pada tempatnya,
atau disebut juga tanaman atau tumbuhan yang manfaatnya lebih sedikit
dibandingkan dengan kerugian yang diakibatkan pada lahan yang sedang
diusahakan. Pada dasarnya gulma didefinisikan sebagai tumbuhan yang telah
beradaptasi dengan habitat buatan dan menimbulkan gangguan terhadap segala
aktivitas manusia (Sastroutomo, 1990). Gulma tumbuh pada pada tempat yang tidak
dikehendaki manusia, sehingga keberadaan gulma baik secara langsung atau tidak
langsung merugikan. Pengaruh negatif gulma yang penting adalah mempunyai daya
kompetisi yang tinggi, sebagai inang penyakit atau parasit, mengurangi mutu
hasil peertanian, dan menghambat kelancaran aktivitas pertanian.
Konsepsi
dan metode analisis vegetasi
sesungguhnya sangat bervariasi, tergantung keadaan vegetasi itu sendiri dan
tujuannya. Misalnya apakah ditujukan untuk mempelajari tingkat suksesi, apakah
untuk evaluasi hasil suatu pengendalian gulma. Metode yang digunakan harus
disesuaikan dengan struktur dan komposisi vegetasi. Untuk areal yang luas
dengan vegetasi semak rendah misalnya, digunakan metode garis (line intersept),
untuk pengamatan sebuah contoh petak dengan vegetasi tumbuh menjalar (cpeeping)
digunakan metode titik (point intercept) dan untuk suatu survei daerah yang
luas dan tidak tersedia cukup waktu, estimasi visual (visual estimation)
mungkin dapat digunakan oleh peneliti yang sudah berpengalaman.
Juga
harus diperhatikan keadaan geologi, tanah, topografi, dan data vegetasi yang
mungkin telah ada sebelumnya, serta fasilitas kerja/keadaan, seperti peta
lokasi yang bisa dicapai, waktu yang tersedia, dan lain sebagainya; semuanya untuk
memperoleh efisiensi. Pengamatan gulma dilakukan dengan analisis vegetasi untuk
penentuan nilai NJD atau SDR (Nisbah Jumlah Dominasi) dengan perhitungan
analisis vegetasi (Tjitrosoedirdjo, dkk., 1984).
Dari
data yang diperoleh ada beberapa jenis gulma
yang tumbuh bukan hanya pada satu petak saja tetapi di setiap lahan yang di amati, populasi yang
paling dominan adalah teki (cyperus
rotandus) dengan SDR50,36. Urutan gulma dari yang dominan antara lain digitaria
(23,49), meniran (phyllanthus niruri)
(9.77), krokot (6,24), Acalypha (5,22), dan cleome (5,22).
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum ini adalah
sebagai berikut :
1.
Gulma ialah tanaman yang tumbuhnya tidak
diinginkan, tumbuh pada pada tempat yang tidak dikehendaki manusia, sehingga
keberadaan gulma baik secara langsung atau tidak langsung merugikan.
2.
Metode yang digunakan dalam analisis
vegetasi metode kuadrat.
3.
Dari data yang diperoleh ada beberapa
jenis gulma yang tumbuh bukan hanya pada
satu petak saja tetapi di setiap lahan
yang di amati, populasi yang paling dominan adalah teki (cyperus rotandus)
dengan SDR50,36. Urutan gulma dari yang dominan antara lain digitaria (23,49),
meniran (phyllanthus niruri) (9.77), krokot (6,24), Acalypha (5,22), dan cleome
(5,22).
DAFTAR PUSTAKA
Adi. 2010. Rumput Gajah (Pennisetum
purpureum). http://iqra5.blogspot.com/2010/07/rumput-gajah-pennisetum-purpureum.html. Diakses tanggal 19 november 2018.
Budiono, E. 2013. Rumput Gajah
(Deskripsi, Persebaran, Manfaat dan Cara Tanam). http://rumah2hijau.wordpress.com/2013/03/29/rumput-gajah-deskripsi-persebaran-manfaat-dan-cara-tanam/. Diakses tanggal 19 november 2018.
Dalimartha, S. 2008. Atlas
Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 5. Pustaka Bunda. Jakarta.
Lawrence, G. H. M. 1959. Taxonomy of Vascular Plant.
The Macmillan Co. New York.
Mas’ud,
hidayati. 2009. Komposisi dan Efisiensi
Pengendalian Gulma pada Pertanaman Kedelai dengan Penggunaan Bokashi . Jurnal
Agroland 16 (2) : 118 – 123.
Moenandir,
J. 1993. Ilmu Gulma Dalam Sistem Pertanian. PT Raja Grafindo
Persada. Jakarta.
Prawoto, A.
A., dkk. 2008. Panduan Lengkap Kakao : Manajenem Agribisnis dari Hulu
hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.
Komentar
Posting Komentar