sistem pengairan irigasi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Secara alami kebutuhan air untuk tanaman dapat dipenuhi dari air hujan. Namun dalam kenyataannya di beberapa tempat dan dalam waktu-waktu tertentu jumlah air hujan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman. Sedangkan infrastruktur, sarana prasarana irigasi masih merupakan permasalahan mendasar sektor pertanian. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi tidak optimal yang selanjutnya dapat mengganggu tingkat produktivitasnya.
Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Ratusan ribu hektare tanaman pangan, terutama padi di Aceh terancam. Luas lahan padi yang potensial gagal panen terus bertambah seiring dengan musim kemarau yang berubah pola. Perubahan iklim, para ahli mengaitkannya dengan gejala pemanasan global menyebabkan musim hujan dan kemarau di Indonesia bergeser. Musim kemarau yang biasanya terjadi pada periode April sampai Oktober, tahun ini baru dimulai pada Juli. Demikian juga dengan musim hujan yang bergeser dari November sampai Maret ke Februari hingga Juni. Total luas tanaman padi yang kekeringan selama Januari-Juli 2007 mencapai 268.518 hektare.



 

B.     TUJUAN
1.      Agar mahasiswa dapat mengetahui sistim pengairan untuk daerah pertanian


 




BAB II
TINJUAN PUSTAKA
Air adalah semua air yang terdapat di atas maupun di bawah permukaan tanah. Air dalam pengertian ini termasuk air permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yang dimanfaatkan di darat. Sedangkan pengertian sumberdaya air adalah air dan semua potensi yang terdapat pada air, sumber air, termasuk sarana dan prasarana pengairan yang dapat dimanfaatkan, namun tidak termasuk kekayaan hewani yang ada di dalamnya. (Sunaryo,2004).
Air merupakan elemen yang paling melimpah di atas bumi, yang meliputi 70 persen permukaannya dan berjumlah kira-kira 1.4 ribu juta kilometer kubik. Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003 persen. Sebagian besar air, kira-kira 97 persen, ada dalam samudera, laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi.
Menurut Sunaryo (2004) berbagai persoalan tentang sumberdaya air yang berkaitan dengan kuantitas dan kualitasnya menyadarkan semua pihak bahwa persoalan air perlu dilakukan dengan tindakan yang tepat sehingga menghasilkan solusi yang optimal. Diperlukan pengelolaan sumberdaya air terpadu, menyeluruh dan berwawasan lingkungan agar sumberdaya air dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Pengelolaan sumberdaya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumberdaya air, pendayagunaan sumberdaya air, dan pengendalian daya rusak air. Adapun visi dan misi pengelolaan sumberdaya air adalah mewujudkan kemanfaatan sumberdaya air bagi kesejahteraan seluruh rakyat dan konservasi sumberdaya air yang adil untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Salah satu tujuan pengelolaan sumberdaya air adalah mendukung pembangunan regional dan nasional yang berkelanjutan dengan mewujudkan keberlanjutan sumberdaya air (Sunaryo, 2004).
Dalam irigasi ada beberapa bentuk irigasi :
a.       Sumur renteng
Sumur renteng adalah teknologi irigasi yang cocok dikembangkan pada tanah tekstur berpasir. Tanah jenis ini memeiliki kemampuan yang sangat tinggi sehingga tidak mampu menyimpan air dalam waktu lama. Prinsip sumur renteng adalah menampung air untuk irigasi dalam sebuah bak penampungan yang terhubung dengan bak penampungan lain melalui pipa di bawah tanah, persis dengan prinsip kerja benjana berhubungan. Manfaat dari sumur renteng yaitu :
1.      Efisiensi air karena irigasi cukup diberikan pada bak penampungan utama;
2.      Resiko kehilangan air selama pendistrribusian dapat diminimalkan karena irigasi dari bak penampungan dapat menjangkau zona perakaran tanaman secara langsung;
3.      Mengurangi tenaga kerja, terutama pada saat pengangkutan air dari sumber air utama ke lahan.
b.       Irigasi Kapiler
Irigasi kapiler ccok dikembangakan di daerah yang memiliki topografi terjal dan sumber air yang relative terbatas. Prinsip dasar irigasi kapiler adalah memanfaatkan air dari sumber mata air atau sungai yang disalurkan menuju bak penampungan secara grafitasi menggunakan pipa PVC. Dari bak penampungan, kemudian didistribusikan menggunakan selang plastik kapiler.
c.        Irigasi Tetes
Sistem irigasi tetes merupakan system untuk memasok air dan pupuk tersaring ke dalam tanah melalui suatu pemancar. Sistem irigasi tetes bekerja dengan mengalirkan air dengan debit kecil, stabil serta tekanan.
Air akan menyebar di tanah baik ke samping maupun ke bawah karena gaya kapiler dan grafitasi. Bentuk sebarannya tergantung jenis tanah, kelembapan, dan jenis tanaman. Jenis tanaman yang dialiri dengan irigasi tetes biasanya yang ditanam dalam barisan, umumnya berupa tanaman holtikultura dan sayur-sayuran.
Sistem irigasi tetes ini bekerja dengan baik pada panjang baris tanaman bervariasi anatara 40 meter hingga 150 meter dengan ukuran per plot berkisar antara 0.2 sampai dengan 1 Ha, bentuk lahan bujur sangkar ataupun persegi pada topografi datar dan seragam atau kemiringan 3% dan laju infiltrasi <20mm jam.="" span="">
Keuntungan irigasi tetes antara lain :
1.      Efisiensi sangat tinggi (penguapan rendah, tidak ada gerakan air di udara, tidak ada    pembahasahan daun, aliran rendah, pengairan dibatasi disekitar tanaman pokok);
2.      Respon tanaman lebih baik sehingga produksi, kualitas, kan keseragaman produk;
3.      Tidak mengganggu aerasi tanah, dapat dipadu dengan unsure hara;
4.      Mengurangi perkembangan serangga, penyakit dan jamur;
5.      Lahan tidak terganggu karena pengolahan tanah, siraman, dll;
6.      Meningkatkan pengairan permukaan;
7.      Bias diletakkan di bawah mulsa plastic, bias diterapkan di daerah bergelombang.
Irigasi tetes bagi sebagian orang merupakan teknologi yang mahal, dan hanya diperuntukkan bagi tanaman yang bernilai ekonomi tinggi. Tetapi dewasa ini system irigasi tetes banyak diadaptasi dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedian di sekitar petani.
d.        Irigasi macak-macak
Irigasi macak-macak adalah teknik pemberian air yang bertujua membasahi lahan hingga jenuh, tanpa perlu lahan tersebut tergenangi hingga mencapai ketinggian tertentu. Teknik irigasi macak-macak akan berpengaruh pada penggunaan air yang sangat efisien. Genangan dalam (10-15cm) seperti yang dilakukan petani pada umumnya dapat menyebabkan tingginya kehilangan air yang di dalamnya juga terlarut unsure hara, sehingga tingkat kehilangan hara juga menjadi tinggi.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air irigasi macak-macak dan tidak secara terus-menerus (rotasi) hasilnya tidak berbeda nyata dengan genangan tinggi secara terus-menerus.
Efisiensi penggunaan air merupakan aspek penting berkenaan dengan upaya peningkatan nilai ekonomi produksi pertanian pada lahan beririgasi. Efisiensi penggunaan air pada lahan yang diirigasi secara macak-macak hamper 2-3kali lebih tinggi disbanding dengan lahan yang digenangi terus-menerus.
Penerapan teknologi macak-macak juga efektif untuk mengurangi serangan hama keong mas. Keong mas dapat bergerak cepat jika sebagian besar badannya berada di bawah permukaan air, namun sebaliknya sulit bergerak di tempat yang macak-macak.
e.       Teknologi irigasi curah
Mendistribusikan air dengan cara menyemprotkan air ke udara dan menjatuhkannya di sekitar tanaman seperti hujan. Penyemprotan dibuat dengan mengalirkan air bertekanan melalui orifice kecil atau nozzle. Tekanan biasanya dipadatkan dengan pemompaan dan untuk mendapatkan penyebaranair yang seragam diperlukan pemilihan ukuran nozzle, tekanan operasional, spasing sprinkler dan laju infiltrasi tanah yang sesuai.
Kesesuaian irigasi curah :
1.      Irigasi curah dapat digunakan hamper semua tanaman;
2.      Cocok pada hamper semua jenis tanah, kecuali untuk tanah bertekstur liat halus, dimana laju infiltrasi kurang dari 4 mm/ jam;
3.      Tidak cocok pada kondisi kecepatan angin lebih besar dari 13 km/ jam.
Keuntungan penerapan irigasi curah :
1.      Efisiensi dalam pemakaian air;
2.      Dapat digunakan untuk lahan dengan topografi bergelombang dan kedalaman tanah yang dangkal, tanpa diperlukan perataan lahan;
3.      Cocok untuk tanah berpasir di mana laju infiltrasi biasanya cukup tinggi;
4.      Aliran permukaan dapat dihindari sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya erosi;
5.      Pemupukan terlarut, herbisida dan fungisida dapat dilakukan bersama-sama dengan air irigasui;
6.      Biaya tenaga kerja untuk operasi biasanya lebih kecil daripada irigasi permukaan;
7.      Dengan tidak diperlukannya saluran terbuka, maka tidak banyak lahan yang tidak dapat ditanami;
8.      Tidak mengganggu operasi alat dan mesin pertanian
Berbagai factor pembatas penggunaan irigasi curah adalah :
1.      Kecepatan dan arah angin berpengaruh terhadap pola penyebaran air;
2.      Air irigasi harus cukup bersih bebas dari pasir dan kotoran lainnya;
3.      Investasi awal cukup tinggi;
4.      Diperlukan tenaga penggerak di mana tekanan air berkisar antara 0,5-10Kg/ cm2.
f.         Teknologi irigasi parit
Irigasi parit merupakan salah satu teknik irigasi lahan kering untuk tanaman palawija jagung, kedelai dan kacang tanah atau sayuran. Dibandingkan dengan irigasi konvensional (genangan) teknik ini membutuhkan air lebih efisien karena irigasi hanya disalurkan pada parit yang berada di samping baris tanaman. Parit berukuran lebar 35-40 cm pada bagian atas dan 15-20 cm pada bagian bawah dengan kedalaman 10-15 cm. Jarak antar parit anatara 80-100cm tergantung jarak tanam.
Sumber air irigasi parit dapat berasal dari saluran irigasi atau dari air tanah yang dinaikkan menggunakan pompa. Agar efisien, kebutuhan dosis irigasi dan interval pemberian irigasi harus mempertimbangkan karakteristik tekstur tanah, jenis dan tahap pertumbuhan tanaman, kedalaman perakaran, serta evapotranspirasi.
g.      Sistem irigasi kendi
Guna mendapatkan sistem irigasi yang hemat air untuk daerah lahan kering dan ancaman kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia setiap tahun Setiawan et al (1998) telah mengembangkan sistem irigasi kendi di Indonesia sejak tahun 1996. dengan sistem ini air irigasi diberikan langsung pada zona perakaran tanaman dan penanaman tanaman lain di sekitar zona pembasahan. Sistem Irigasi Kendi. Ini adalah salah satu bentuk pemberian air pada tanaman melalui zona per-akaran tanaman. Irigasi kendi ini dapat menghemat penggunaan air dengan cara mengatur melalui sifat porositas kendi.






























BAB III
PEMBAHASAN
Pada makalah ini saya akan bahas lebih detail tentang sistim irigasi kendi Guna mendapatkan sistem irigasi yang hemat air untuk daerah lahan kering dan ancaman kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia setiap tahun Setiawan et al (1998) telah mengembangkan sistem irigasi kendi di Indonesia sejak tahun 1996. dengan sistem ini air irigasi diberikan langsung pada zona perakaran tanaman dan penanaman tanaman lain di sekitar zona pembasahan. Sistem Irigasi Kendi. Ini adalah salah satu bentuk pemberian air pada tanaman melalui zona per-akaran tanaman. Irigasi kendi ini dapat menghemat penggunaan air dengan cara mengatur melalui sifat porositas kendi.
Mondal (1974) dan Stein (1990) memasukkan sistem irigasi kendi ke dalam sistem irigasi bawah permukaan. Selanjutnya Stein (1990) menggolongkannya lagi ke dalam irigasi lokal (Local Irrigation), karena rembesarn air irigasi terjadi secara lambat dengan volume yang rendah (kecil) pada zona perakaran tanaman, sehingga hanya sebagian tanah yang terbasahi, maka sistem irigasi ini mampu mengurangi evaporasi dan perkolasi (Modal, 1978).
Teknologi tersebut sudah pernah diujicobakan di lapangan dengan hasil memuaskan di beberapa daerah yaitu, NTB, NTT, Lombok Timur, Sukabumi, dan Bogor. Prof. DR. Budi Indra Setiawan yang melakukan penelitian tersebut, mengatakan bahwa lahan kering kini bisa menjadi lahan produktif terutama untuk budidaya hortikultura dengan menerapkan teknologi irigasi hemat air dan pupuk yaitu dengan teknologi irigasi kendi. Dijelaskan pula, penerapan teknologi tepat guna ini mampu meningkatkan pendapatan petani di desa-desa tertinggal yang pada umumnya berlokasi di lahan-lahan kering. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air dan pupuk pada budidaya tanaman di lahan terbuka, rumah kaca ataupun tanaman sela di antara tanaman perkebunan seperti cabai, lemon, melon, tomat dan lainnya. Dengan menggunakan kendi yang dirancang khusus agar dapat mengeluarkan keringat apabila diisi dengan air, bila kendi tersebut ditanam dalam tanah, maka air dalam kendi akan merembes melalui dindingnya kemudian membasahi tanah langsung ke daerah perakaran.
Sementara itu mengenai cara penggunanaanya, volume air dalam kendi dijaga agar selalu terisi air dengan menerapkan teknologi pemberian air bertekanan tetap yang dirancang khusus terbuat dari tangki air. Dengan demikian, pemberian air dan pupuk cair dapat dilakukan secara terpusat dan terkendali sehingga meringankan petani dalam mengairi tanamannya.
Secara operasional, kendi ditanam di bawah tanah dekat dengan zona perakaran tanaman. Jumlah kendi yang ditanam tergantung pada jenis tanaman, kebutuhan air tanaman, suplai air serta porositas tanah dan kendi.
Mekanisme pengisian air ke dalam kendi adalah dengan memasukkan air yang berasal dari air hujan atau sumber air lainnya melalui selang air. Pada waktu musim kering dimana ketersediaan air di dalam tanah berkurang, maka air dalam kendi akan mengalir ke luar melalui pori-pori kendi sesuai dengan prinsip hukum keseimbangan tekanan air di dalam tanah.




























BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN

Pada makalah ini dapat disimpulkan bahwa dalam sistim irigasi terdapat beberapa sistim irigasi :
1.      Sumur renteng
2.      Irigasi Kapiler
3.      Irigasi Tetes
4.        Irigasi macak-macak
5.      Teknologi irigasi curah
6.      Sistem irigasi kendi
Secara operasional, kendi ditanam di bawah tanah dekat dengan zona perakaran tanaman. Jumlah kendi yang ditanam tergantung pada jenis tanaman, kebutuhan air tanaman, suplai air sertaporositastanahdankendi.
      Mekanisme pengisian air ke dalam kendi adalah dengan memasukkan air yang berasal dari air hujan atau sumber air lainnya melalui selang air. Pada waktu musim kering dimana ketersediaan air di dalam tanah berkurang, maka air dalam kendi akan mengalir ke luar melalui pori-pori kendi sesuai dengan prinsip hukum keseimbangan tekanan air di dalam tanah.














DAFTAR PUSTAKA

Edward, Saleh dan Budi Indra Setiawan. 2001. Distribusi dan Profil Kelembaban Tanah pada sistem Irigasi Kensi pada tanaman sayuran di Daerah Kering. Jurnal ilmu-ilmu pertanian Indonesia vol.3 no.2. 2001. Hal. 94-98. PRIDA Indonesia. 2006.  Atasi Kekeringan Dengan Sistem Irigasi Kendi. http://www.pidra-indonesia.org/index2.php? [diakses pada tanggal 21 Mei2014].
Salman, Darajat. 2003. Artikel pada halaman utama Sinar Harapan : Embung, Irigasi Kendi, dan Dam Parit. Badan Ketahanan Pangan, Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan Aceh Timur. http://www.sinarharapan.co.id/index.html  [diakses pada tanggal 21 Mei 2014].
Sunaryo, D.Suharjito dan M Sirait. 2004. Model Pengelolaan Kawasan Permukiman Berkelanjutan Di. Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu Kabupaten Bogor World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Office.
Wiyono, Joko. 2006. Musim Kemarau Datang, Sistem Irigasi Mikro di Lahan Kering Jadi Pilihan. Tabloid Sinar Tani, Penulis dari BBP Mektan: Serpong.













Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BENIH ACARA III UJI VIGOR BENIH

laporan praktikum Hibridisasi dan kastrasi pada tanaman padi

laporan praktikum kultur jaringan pengenalan laboratorium