kadar lengas tanah
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR
BELAKANG
Tanah merupakan kumpulan dari benda-benda
alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horizon-haorizon , terdiri dari
campuran mineral, bahan organik, air, udara, dan merupakan media tumbuh
tanaman. Pengolahan tanah pada kandungan air yang tepat dapat meningkatkan
volume pori total air tanah atau dapat mendorong proses strukturisasi tanah
yang lebih baik . untuk itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui arti
penting dari tanah.
komponen
penting dari tanah adalah mineral, yaitu kombinasi unsur-unsur anorganik yang
berupa kristal dan amort, merupakan salah satu faktor yang menentukan sifat
tanah. Jenis mineral yang terdapat didalam tanah berkaitan erat dengan tingkat
kesuburan tanah. Jenis dan sifat-sifat mineral yang terdapat dalam tanah juga
erat kaitannya dengan pertumbuhan tanaman. Di dunia ini terdapat banyak jenis
tanah yang masing-masing memiliki kadar lengas yang berbeda-beda, yang
menyebabkan perbedaan tingkat kesuburannya. Yang pada akhirny akan menyebabkan
pembedaan cara mengolah tanah tersebut, Oleh karena itu sangat penting
mengadakan identifikasi kadar lengas dalam tanah agar tanah dapat diolah sesuai
dengan unsur yang dibutuhkan dan kesuburannya dapat tetap terjaga. Dalam
praktikum ini bertujuan untuk mengetahui kadar lengas tanah.
Salah satu sifat
fisik tanah yaitu kadar lengas. Kadar lengas menyatakan persen uap air
dalam tanah. Hal tersebut merupakan bagian dari spesifik lahan, yang akan
mempertahankan tanah terhadap gaya sentrifugal 1000 kali kekuatan gaya berat
selama 40 menit, nilainya bervariasi sesuai dengan keadaan lahan yang berbeda,
menjadi pasir rendah/ lahan berpasir tetapi tanah liat sangat tinggi. Pedoman
lengas mendekati kapasitas kapiler yang maksimum. Tanah merupakan lapisan
permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh berkembangnya
perakaran penampang tegak tumbuhnya tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan
udara. Lengas tanah disamping berguna bagi tanaman, juga berperan dalam proses
pergerakan hara dalam tanah sehingga dapat mempengaruhi keberhasilan dalam
pemupukan Perlakuan kandungan lengas
tanah pada tanaman hidroponik. Yaitu dengan cara menghentikan pengairan dan
kemudian kandungan lengas tersebut dipertahankan dengan berbagai aras.
1.2.TUJUAN
PRAKTIKUM
·
Menetapkan kadar lengas contoh tanah
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak
dipermukaan sampai kedalam tertentu yang dipengaruhi oleh faktor genetis
lingkungan yakni bahan induk, iklim. Organisme hidup, topografi dan waktu yang
sangat panjang. Tanah dapat dibedakan dari ciri-ciri bahan induk asalnya, baik
secara fisik kimia, biologi maupun morfologinya (Marbut, 2003).
Lengas tanah adalah air yang terdapat dalam tanah yang terikat berbagai
kakas (matrik, asmosis dan kapiler) kakas ini meningkat sejalan dengan
peningkatan permukaan jenis zahrah dan kerapatan, muatan elektrostatik zahrah
tanah. Tegangan tengas tanah juga menentukan beberapa banyak air yang dapat
diserap tumbuhan. Bagian lengas tanah yang tumbuhan mampu menyerap dinamakan
air ketersediaan (Notohadi prabowo, 2006).
Kadar tengas tanah sering disebut sebagai kandungan air yang terdapat dalam
pori tanah. Satuan untuk mengatakan kadar lengas tanah berupa persen berat atau
persen volume. Berkaitan dengan istilah air dalam tanah, secara umum dikenal 3
jenis yaitu lengas tanah adalah air dalam bentuk campuran gas (uap air) dan
cairan, air tanah yaitu air dalam bentuk cair dalam tanah sampai lapisan kedap
air, air tanah yaitu lapisan air tanah kontinu yaitu berada ditanah bagian
dalam (Handayani, 2009).
Tanah dengan kandungan bahan organic tinggi mempunyai kapasitas penyangga
yang rendah apabila basah. Kemampuan tanah untuk menyimpan air salah satunya
air hujan menentukan juga spesies apa yang tumbuh. Kadar lengas merupakan salah
satu sifat fisik tanah untuk mengatasi kemampuan penyerapan air dan
ketersediaan hara pada setiap jenis tanaman (Anonim, 2007).
Dalam kaitannya dengan daya penyimpanan air, tanah pasiran mempunyai daya
pengikat terhadap lengas tanah yang relatif rendah karena permukaan kontak
antara tanah pasiran didominasi oleh pori-pori mikro satu. Oleh karena itu, air
yang jatuh ketanah pasiran akan segera mengalami perkolasi dan air kapiler akan
mudah lepas karena evaporasi
A. TENTANG
TANAH VERTISOL
Tanah
yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih
dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau
kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah
mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk
tanah Grumusol atau Margalit.
Pembentukan Tanah
Pembentukan
tanah vertisol terjadi melalui dua proses, yaitu terakumulasinya mineral liat 2
: 1 dan proses mengembang dan mengkerut yang terjadi secara periodik, sehingga
membentuk slinckenside atau relief mikro gilgai. Lebih lanjut dikatannya bahwa
ketika basah tanah menjadi sangat lekat dan plastis, tetapi kedap air. Namun,
saat kering tanah menjadi sangat keras dan masif, atau membentuk pola prisma
yang terpisahkan oleh rekahan. Hardjowigeno 1993) menyatakan bahwa faktor
penting dalam pembentukan tanah ini adalah adanya musim kering di setiap tahun,
meskipun lama musim kering tersebut bervariasi. Di daerah yang paling kering,
tanah hanya paling basah tanah hanya kering selama beberapa minggu setiap
tahun.
Karakteristik/Sifat Tanah
Tanah
Vertisol memiliki kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi
tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkaline lemah; nilai pH antara 6,0
sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi
(Munir, 1996).
Vertisol
menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur liat dan mempunyai warna
gelap, pH yang relatif tinggi serta kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa
yang juga relatif tinggi. Vertisol tersebar luas pada daratan dengan iklim
tropis dan subtropis (Munir, 1996).
Dalam
perkembangan klasifikasi ordo Vertisol, pH tanah dan pengaruhnya tidak cukup
mendapat perhatian. Walaupun hampir semua tanah dalam ordo ini mempunyai pH
yang tinggi, pada daerah-daerah tropis dan subtropis umumnya dijumpai Vertisol
dengan pH yang rendah. Dalam menilai potensi Vertisol untuk pertanian hendaknya
diketahui bahwa hubungan pH dengan Al terakstraksi berbeda disbanding dengan
ordo lainnya. pH dapat tukar nampaknya lebih tepat digunakan dalam menentukan
nilai pH Vertisol masam dibanding dengan kelompok masam dari ordo-ordo lainnya.
Perbedaan tersebut akan mempunyai implikasi dalam penggunaan tanah ini untuk pertumbuhan
tanaman. Batas-batas antara antara kelompok masam dan tidak masam berkisar pada
pH 4,5 dan sekitar 5 dalam air (Lopulisa, 2004).
Pengelolaan Tanah
o Potensi
Prospek
pemanfaatan vertisol relatif lebih sesuai jika dimanfaatkan sebagai areal persawahan,
hanya saja pembuatan jaringan irigasi harus dibuat terlebih dahulu jika
disekitarnya ada sumber air atau sungai. Dengan mengatur drainase, irigasi dan
pengelolaan tanah disertai pemupukan bahan organik untukmemperbaiki struktur
tanh, jenis tanah ini dapat memberikan hasil padi, jagung, kapas, kacang tanah
dan tebu dan bebarapa tanaman perdagangan dataran rendah yang cukup baik
seperti singkong dan pepaya.
o Permasalahan
Vertisol
merupakan tanah prospek pemanfaatannya cukup baik, akan tetapi yang menjadi
kendala adalah dalam hal pengelolaan tanahnya yang relatif cukup sulit. Tanah
ini bersifat lekat dan liat bila basah dan sangat keras dalam keadaan kering.
Walaupun demikian tekstur tanah sangat halus, derajat kerut yang nyata dan
pengembungannya yang merupakan ciri mereka menyebabkan mereka kurang sesuai
untuk pertanaman daripada daerah disekitarnya. Kalau mereka mengering sehabis
hujan, waktu untuk dibajak atau diolah sangat pendek. Untuk pengelolaannya
tidak dapat dilaksanakan tepat pada waktunya dan mereka terbataas pada
penggunaan alat kecil, sederhana karena hewan mereka tidak dapat menarik alat
besar ditanah berat.Selain pengelolaan yang berat, tanah ini miskin unsur hara
N dan K, karena kedua unsur hara tersebut terjepit dalam interlayer, yaitu
merupakan ruang antara dua lembaran tetrahedral dengan octahedral (2:1) yang
mempunyai diameter sama dengan diameter N dan K, sehingga N dan K akan terjepit
didalamnya, akibatnya tanah ini menjadi kahat N dan K.
o Perbaikan
Dalam
pengolahan tanahnya yang relatif cukup sulit, maka harus diketahui keadaan
kelengasan tanah paa lapisan permukaan yang memungkinkan untuk dilakukan
pengolahan tanah, karena sifat fisik tanah vertisol yang jelas adalah
konsistensi yang keras, sehingga untuk mengolah tanah tidak dapat menggunakan
cangkul. Penggunaan traktor dan lain-lain peralatan mekanik memungkinkan untuk
melakukan persiapan lahan baik untuk pembibitan maupun penanaman.
B. TENTANG
KADAR LENGAS TANAH
Lengas tanah adalah air yang terdapat
dalam tanah yang terikat dalam berbagai kakas ikat, yaitu kakas ikat matrik,
osmosis, dan kapiler (Masganti dkk, 2002). Menurut Prawiro (1998) , tegangan
lengas digunakan untuk mengklasifikasikan air dalam tanah, yaitu kaoasitas
tambat maksimum, kapasitas lapang, tara lengas, titik layu tetap, koefisien
higrokopis, kering angin, dan kering tungku.
Kandungan
uap air sangat penting dalam pembentukan tanah, tanah dapat dikatakan terbentuk
bila pada tanah tersebut ditemukan lempung, koloid organik, atau garam terlarut
yang terakumulasi larut dalam air. Tingkat pergerakan koloid dan kedalaman
sebagian ditentukan oleh jumlah dan pola pengendapan yang menimbulkan tindakan
pelepasan
BAB III
METODELOGI
PELAKSANAAN
A. ALAT
DAN BAHAN
ü ALAT
o
9 buah botol timbang kuningan
o
Timbangan analitis (ketelitian 0,001 gr)
o
Alat pengering (oven)
o
Eksikator
ü BAHAN
o
Contoh tanah kering angin, halus 2 mm
dan halus 0,5 mm
B. CARA
KERJA
ü Menimbang
botol kosong yang bersih, kering, bertutup dan berlabel misalnya a gr.
ü Memasukkan
contoh tanah kedalam botol timbang masing-masing 3 ulangan sampai separuh
penuh, timbang beratnya misal b gr.
ü Dengan
tutup terbuka masukkan botol timbang berisi tanah selama paling sedikit 4 jam
dengan suhu 105 0C - 110 0C,
lebih lama lebih baik untuk mencapai berat konstan.
ü Mengambil
botol timbang berisi tanah kering ditutup rapat lalu lalu dinginkan dalam
eksikator selama 15 menit, kemudian di timbang misal b gram. Untuk membuka atau
menutup eksikator cukup dengan mengeser tutupnya.
ü Kemudian
memasukkan lagi botol timbang berisisi tanah kering ke dalam oven selama 1 jam.
Ambil dinginkan seperti langkah keempat untuk mendapatkan berat konstan kering
mutlak misal c gram.
ü Menghitung
kadar lengas
Kadar lengas =
Nilai (c-a) merupakan
berat contoh tanah kering mutlak.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A. HASIL
a) Hasil
penimbangan dapat dilihat pada tabel berikut :
2
mm
|
0,5
mm
|
gumpalan
|
||||||||||
U1
|
U2
|
U3
|
U
|
U1
|
U2
|
U3
|
U
|
U1
|
U2
|
U3
|
U
|
|
A
|
20,9
|
19,7
|
17,4
|
19,3
|
18,4
|
18,4
|
18,2
|
18,3
|
19,1
|
15,1
|
23,4
|
19,2
|
B
|
30
|
27,4
|
27,3
|
28,2
|
28,8
|
26,6
|
26
|
27,1
|
26,1
|
24,9
|
30,5
|
27,2
|
C
|
30
|
28,4
|
25,9
|
28,1
|
27,4
|
27
|
25,5
|
26,8
|
27,1
|
24,2
|
30,5
|
27,2
|
Keterangan
: A =
berat botol kosong
B
= berat tanah + tanah sebelum oven
C =
berta botol + tanah setelah di oven
U1-3 = botol ulangan
U = rata rata ulangan
setiap botol
b) Perhitungan
kadar lengas tanah
1. Ukuran
2 mm
Kadar lengas = 
=
= 
= 1,13 %
Berat tanah mutlak =
(c-a) = 8,8 gram
2. Ukuran
0,5 mm
Kadar lengas =
= 
= 
= 3,52 %
Berat tanah mutlak =
8,5 gram
3. Tanah
gumpalan
Kadar lengas = 
= 
= 
= 1,26 %
Berat tanah mutlak =7,9
gram
B. PEMBAHASAN
Pada praktikum penentuan kadar lengas tanah kami menggunakan tanah vertisol
sebagai media percobaan. Dan pada penentuan kadar lengas tanah yang dilakukan
dengan menggunakan tiga ukuran tanah yaitu tanah 2mm, 0,5mm dan tanah
gumpalan.pada praktikum ini kami melakukan dengan masing ukuran tanah sebanyak
tiga kali ulangan atau dalam satu ukuran tahan kami melakukan dengan percobaan
menggunakan tiga botol. Masing-masing dari ukurun tanah tersebut mempunyai
prensentase kadar lengas yang berbeda yaitu :
o Tanah dengan
ukuran 2 mm berat rata-rata tanah sebelum di oven adalah 28,2 gram dan berat
rata-rata tanah setelah di oven adalah 28,1 gram, dengan presentase kadar
lengas tanah sebesar 1,13% dan berat mutlak tanah yang dihitung dengan rumus
(c-a) adalah 8,8 gram.
o Tanah dengan
ukuran 0,5 mm berat rata-rata tanah sebelum di oven adalah 27,1 gram dan berat
rata-rata tanah setelah dioven adalah 26,8 gram, dengan presentase kadar lengas
tanah sebesar 3,52 %, dan berat mutlak tanah adalah 8,5 gram.
o Tanah dengan
ukuran gumpalan berat rata-rata tanah sebelum dioven 27,2 gram dan berat tanah
setelah dioven adalah 27,2 gram dengan presentase kadar lengas tanah sebesar
1,26 % dan berat mutlak tanah adalah 7,9 gram.
Dari penjelasan hasil praktikum diatas dapat di
simpulkan bahwa kadar lengas tanah yang semulanya sebelum dioven menpunyai
berat tanah lebih besar dari setelah dioven, artinya tanah tersebut mengalami
penurunan kadar lengas pada saat dioven akibat suhu dalam oven.
BAB
V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pada praktikum ini, kami akan mengetahui kadar
lengas. Kadar lengas adalah kandungan air yang terdapat pada pori tanah. Untuk
menentukan kadar lengas kering angin pada suatu tanah kami mengggunakan metode
gravimetri.
Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat
disimpulkan bahwa tanah pada dasarnya mempunyai kadar air tertentu yang jika
terdapat suhu dengan jumlah tertentu akan mengalami penurunan kadar lengas.
DAFTAR PUSTAKA
Besson, A., I. Causin, H. Bourrenae, B. Nicouland, C.
Pasquier, G. Richard, A. Dosigny, D. King. 2010. The spatial and temporal
organization of soil water at the filed scale as described by dectrical
resistivity measurements. Europan Journal of Soil Science 61 : 120-132.
Donuhue, R.L. 1958. Soil, An Introduction to Soil
and Plant Growth. Prentecehall Internaional, Inc. Engle Wood Cliffs, New
Jersey.
Hakim, N, M. Yusuf, Nyakpa, A.M. Lubis, Sutopo, M.
Amin, D. Gobh, HH, Balley. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas
Lampung, Lampung.
Mawardi, M. 2011. Tanah, Air, Tanaman Asas Irigasi
Dan Konservasi Air. Bursa Ilmu. Yogyakarta.
Putra A, Edi.S, Nazif.L. 2013 Kajian Laju
Infiltrasi Tanah Pada Berbagai Penggunaan Dilahan Di Desa Tongkoh Kec. Dolat
Kab. Karo. Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian. Vol.1
Komentar
Posting Komentar