keragaman sifat pada tanaman dan analisis korelasi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Setiap makhluk hidup memiliki ciri khas. Ciri khas tersebut ada yang sama dan ada yang berbeda degan makhluk hidup lain. Berdasarkan persamaan dan perbedaan yang dimiliki, beberapa jenis makhluk hidup dapat dikelompokkan menjadi satu kelompok. Perbedaan atau variasi dan persamaan yang tampak di antara makhluk hidup dalam kelompok itulah yang dijadikan dasar untuk pembagiannya menjadi beberapa kelompok yang lebih kecil.
Keragaman genetik adalah variasi karakteristik yang ada diwariskan pada populasi spesies yang sama. Ini melayani peran penting dalam evolusi dengan memungkinkan spesies untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan untuk melawan parasit. Hal ini berlaku untuk spesies peliharaan, yang biasanya memiliki tingkat rendah keragaman. Mempelajari keragaman genetik pada manusia dapat membantu para peneliti membentuk teori tentang asal-usul manusia.
Keanekaragaman gen adalah variasi atau perbedaan gen yang terjadi dalam suatu jenis atau spesies makhluk hidup. Contohnya, buah durian (Durio zibethinus) ada yang berkulit tebal, berkulit tipis, berdaging buah tebal, berdaging buah tipis, berbiji besar, atau berbiji kecil. Demikian pula buah pisang (Musa paradisiaca) memiliki ukuran, bentuk, warna, tekstur, dan rasa daging buah yang berbeda-beda. Pisang memiliki berbagai varietas, antara lain pisang raja sereh, pisang raja uli, pisang raja molo, dan pisang raja jambe. Varietas mangga (Mangifera indica), misalnya mangga manalagi, cengkir, golek, gedong, apel, kidang, dan bapang. Sementara keanekaragaman genetik pada spesies hewan, misalnya warna rambut pada kucing (Felis silvestris catus), ada yang berwarna hitam, putih, abu-abu, dan cokelat.
Tujuan dari pemuliaan tanaman adalah mendapatkan tanaman dengan sifat yang unggul. Tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul misalnya unggul dalam  produksi, unggul karena tahan terhadap hama dan penyakit tanaman tertentu tahanterhadap cekaman, seperti cekaman salin dan lain-lain. Cara untuk mencapaian tujuan tersebut diperlukan pengetahuan tanaman lebih mendalam. Pengetahuan tentang tanaman tersebut baik secara anatomi, morfologi dan fisiologi tanaman.Pengetahuan tentang sifat-sifat pada tanaman juga akan membantu dalam  pelaksanaan perbaikan sifat. Sifat-sifat tanaman dibagi menjadi dua, yaitu sifat kualitatif dan sifat kuantitatif. Sifat kualitatif merupakan sifat yang dipengaruhi oleh sedikit gen dan tidak atau sedikit dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sifat kuantitatif adalah sifat yang dipengaruhi oleh banyak gen, dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kenyataannya sifat-sifat pada tanaman menunjukan hubungan satu sama lain. Adanya sifat-sifat yang memiliki hubungan ini dapat membantu usaha-usaha dalam pemuliaan tanaman. hubungan antar Sifat-sifat pada tanaman dapat dihitung dengan koefisien korelasi. Selain itu, diperlukannya pengetahuan tentang derajad hububungan yang ada diantara sifat-sifat tersebut. !erajad hubungan antara sifat-sifat pada tanaman didukung dengan data yang akurat. "engetahui derajad hubungan pada suatu tanaman akan membantu langkah pemulia tanaman dalam melakukan usaha  pemuliaan tanaman. usaha pemuliaan tanaman tersebut missalnya dalam melakukan seleksi tananam untuk dijadikan sebagai tetua.
Koefisien korelasi digolongkan menjadi dua macam yaitu koefisien korelasi negatif dan koefisien korelasi positif. Koefisien korelasi negatif bila derajat hubungan antara dua sifat menunjukkan hal yang berlawanan. Artinya bertambahnya nilai sifat yang satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain. Koefisien korelatif positif bila derajat hubungan antara dua sifat tanaman menunjukkan hal yang nyata, artinya bertambahnya nilai sifat satu diikuti oleh bertambahnya nilai sifat yang lain. Sebaliknya, berkurangnya nilai sifat yang satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain. Sedangkan apabila koefisien korelasi = 0 berarti tidak ada hubungan sama sekali antara kedua sifat tersebut. Khusus sifat-sifat kualitatif pada koefisien korelatif = 1. Misal pada kedelai, apabila hipokotil ungu, maka warna bunga akan ungu. Sedangkan bila hipokotil hijau sebaliknya, maka bunganya akan berwarna putih.
Korelasi yang sempurna jarang terjadi pada sifat-sifat kuantitatif, karena lingkungan sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat tersebut. Contohnya, hubungan antar tinggi tanaman dengan bobot tanaman. Tanaman yang tinggi belum tentu bobotnya akan tinggi, sebaliknya yang pendek belum tentu bobotnya akan rendah.
Koefisien korelasi dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan (resemblance) dalam variabilitas antara tanaman induk dengan keturunannya, misal sifat daya hasil tinggi, jumlah anakan dan sebagainya. Analisis korelasi dari sifat-sifat tersebut akan dapat diketahui tingkat kemiripan antara tetua dan keturunannya.







B.     TUJUAN
1.      Mengetahui derajat hubungan antara dua sifat pada tanaman.
2.      Mengetahiu bentuk hubungan antara dua sifat tanaman.































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    KERAGAMAN SIFAT PADA TANAMAN
Setiap makhluk hidup memiliki ciri khas. Ciri khas tersebut ada yang sama dan ada yang berbeda degan makhluk hidup lain. Berdasarkan persamaan dan perbedaan yang dimiliki, beberapa jenis makhluk hidup dapat dikelompokkan menjadi satu kelompok. Perbedaan atau variasi dan persamaan yang tampak di antara makhluk hidup dalam kelompok itulah yang dijadikan dasar untuk pembagiannya menjadi beberapa kelompok yang lebih kecil. (Henny Riandari, 2009)
1.      Pengertian Keragaman
Keragaman adalah sifat yang ditunjukkan suatu tanaman namun berbeda-beda tiap tanaman (Djoemairi, 2008).
ü  Keragaman merupakan perbedaan antara tanaman satu dengan tanaman lainnya berdasarkan sifat yang dimiliki dan penampang tanaman (Mangoendidjojo, 2003).
ü  Plant diversity is one measure of botanical composition that can provide an indication of changes in habitat quality (Norton, L. 2009).
ü  Keragaman tumbuhan merupakan salah satu ukuran dari komposisi botani yang dapat memberikan indikasi perubahan kualitas habitat
ü  Plant diversity is important because various species come to depend on each other; therefore, eliminating one species can cause several other species to suffer (Gibson, J. Phil, 2007).
ü  Keragaman tumbuhan ini penting karena berbagai spesies datang bergantung pada satu sama lain, karena itu, menghilangkan satu spesies dapat menyebabkan beberapa spesies lain menderita
2.      Macam Keragaman
ü  Keragaman Yang Timbul Karena Faktor Lingkungan
Variasi ini tidak diwariskan pada keturunannya. Contohnya pada tanaman mangga yang berasal dari satu pohon induk. Lima pohon dipupuk dan lima pohon lainnya tidak dipupuk. Tanaman yang dipupuk tentu akan memberikan reaksi pertumbuhan yang lebih baik dan bagus. Apabila dicermati antara pohon yang satu dengan yang lain akan tampak perbedaan karena faktor lingkungan. Jadi perbedaan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi tampilan akhir suatu tanaman.  Selain itu bunga panca warna yang di tanam pada tanah yang bersifat basa akan memunculkan warna bunga merah,sedangkan yang di tanam pada tanah yang memiliki pH netral berwarna putih kebiru – biruan (Mangoendidjojo,2008).
ü  Keragaman Yang Timbul Karena Faktor Genetik
 Keragaman ini diwariskan kepada keturunannya. Apabila ada perbedaan atau variasi yang timbul dalam suatu populasi tanaman  yang ditanam dalam lingkungan yang sama maka keragaman yang muncul merupakan keragaman yang terjadi karena faktor genetik. Contoh pada tanaman mawar yang di tanam pada kondisi lingkungan yang sama tetapi menunjukkan adanya keragaman pada warna bunganya. Pada tanaman anggrek , tanaman yang di tanam pada lahan yang sama dan lingkungan yang sama  menghasilkan warna dan bentuk bunga yang beragam (Mangoendidjojo,2008).
ü  Macam – Macam Karakterisasi
Pada dasarnya fenotipe tanaman dapat dikategorikan atas dua bentuk karakter yaitu karakter kualitatif dan karakter kuantitatif.
Ø  Karakter Kualitatif
Karakter kualitatif merupakan wujud fenotipe yang saling berbeda tajam antara satu dengan yang lain secara kualitatif dan masing-masing dapat dikelompokkan dalam bentuk kategori. Karakter kualitatif biasanya dapat diamati dan dibedakan dengan jelas secara visual, karena umumnya bersifat diskret. Biasanya karakter ini dikendalikan oleh satu atau beberapa gen. Bila karakter ini dikendalikan oleh satu gen, maka disebut dengan karakter monogenik, dan bila beberapa gen disebut dengan oligogenik. Di samping itu karena besarnya peranan satu unit gen dalam mengekspresikan fenotipenya, maka sering juga disebut dengan gen mayor. Karakter kualitatif meliputi umur tanaman, kandungan minyak, warna, rasa, ketahanan terhadap organisme pengganggu, kandungan protein dalam biji, dan lain-lain.
Ø  Karakter Kuantitatif
Karakter kuantitatif umumnya dikendalikan oleh banyak gen dan merupakan hasil akhir dari suatu proses pertumbuhan dan perkembangan yang berkaitan langsung dengan karakter fisiologi dan morfologis. Diantara kedua karakter ini, karakter morfologis lebih mudah diamati, misalnya produksi tanaman sering dijadikan obyek pemuliaan tanaman. Sebagai contoh, komponen hasil tanaman biji-bijian meliputi jumlah tanaman per satuan luas, jumlah malai per tanaman, jumlah bulir per malai, berat bulir, berat biji kering, dan lain-lain. Untuk ubi jalar, komponen hasil meliputi jumlah dan ukuran umbi, ukuran dan efisiensi kanopi, rasio bagian atas dan umbi, lama masa dormansi, dan lain-lain. Umumnya dalam mempelajari pewarisan karakter kuantitatif digunakan pendekatan teori genetika kuantitatif. Sifat kuantitatif yang dipelajari dinyatakan dalam besaran kuantitatif atau satuan metrik yang selanjutnya digunakan pendekatan analisis untuk sejumlah ukuran karakter tersebut (Nasir, M. 2001).





B.     ANALISIS KORELASI
Korelasi (Correlation) adalah salah satu teknik statistik yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih yang bersifat kuantitatif. Hubungan (relationship) antara dua variabel dapat hanya karena kebetulan saja (accidentil), dapat juga merupakan hubungan sebab akibat. Dua variabel dikatakan berkorelasi jika perubahan pada variabel yang satu akan diikuti perubahan variabel lain secara teratur, dengan arah yang sama atau arah yang berlawanan (Djarwanto dan Subagyo, 1981)
Masalah korelasi memandang variasi bersama dua pengukuran, yang tidak satu pun dibatasi oleh peneliti.(Dixon J.W, 1991).
Derajat hubungan antara dua sifat tanaman , biasanya dinyatakan dengan suatu bilangan yang disebut koefisien korelasi. Korelasi dinyatakan dengan koefisien ( r ) dan merentang dari –1 sampai +1. Koefisien 1, dengan tanda + atau – menunjukkan korelasi sempurna antara dua peubah. Sebaliknya, koefisien nol berarti tidak ada korelasi sama sekali. Keseragaman dalam derajat korelasi dinyatakan oleh koefisien yang merentang dari 0 sampai 1 dan dari –1 sampai 0. (Schefler, 1979)
Sudjana (1986) menyatakan bahwa jika terdapat data atas dua atau lebih variabel, maka dapat kita gunakan suatu cara yang menyatakan bagaimana variabel-variabel itu berhubungan. Hubungan yang didapat umumnya dinyatakan dalam bentuk persamaan matematika yang menyatakan hubungan fungsional antara variabel-variabel.
Kategori korelasi yang ‘baik’ jelas tergantung pada apa yang dilakukan peneliti atau apa yang diharapkannya dari uji kajinya. Jika ia berharap uji kajinya menunjukkan tidak terdapat kaitan antara dua peubah, maka koefisien sebesar nol akan sangat menggembirakan. Jika sebaliknya ia mengharapkan akan terlihat kaitan yang erat, maka harga r yang mendekati ±1 akan dipandang sebagai hasil yang optimum. Sebagaimana lazimnya, sistem yang hidup tidak membantu dengan menghasilkan bilangan bulat, keragaman lebih mungkin terjadi daripada perkecualian. (Soepomo, 1968).
Korelasi antara dua karakter dapat dibagi dalam Korelasi Fenotipik dan Korelasi Genotipik. Korelasi Fenotipik dapat dipisahkan menjadi korelasi Genotipik dan Korelasi Lingkungan. Oleh karena ini, Korelasi Fenotipik ini selanjutnya diharapkan dapat menunjukkan korelasi genotipik yang lebih berati dalam Program Pemuliaan Tanaman. Korelasi ini dapat diartikan sebagai korelasi nilai Pemuliaan dari dua karakter yang diamati. Sedangkan korelasi lingkungan merupakan sisaan galat yang juga memberikan konstribusi terhadap Fenotip (Nasir,2001).
Nilai korelasi antara dua sifat tanaman bervariasi, yaitu berkisar antara -1 sampai +1, sehingga dikenal dua macam koefisien korelasi yaitu Koefisien Korelasi Positif dan Koefisien Korelasi Negatif. Korelasi Positif bila bertambahnya sifat yang satu bersamaan dengan bertambahnya sifat yang lain. Korelasi Negatif, bila bertambahnya sifat yang satu bersamaan dengan berkurangnya sifat yang lain. Sedangkan apabila koefisien korelasi = 0 berarti tidak ada hubungan sama sekali antara kedua sifat tersebut (Sudjana1983: Soepomo,1968).
Perhitungan koefisien korelasi antara x dan y sebagai ukuran hubungan dapat dilihat dari dua segi. Pertama, koefisien korelasi dihitung untuk menentukan apakah ada korelasi antara x dan y dan jika ada apakah berarti atau tidak. Kedua, untuk menentukan derjat hubungan antara x dan y jika hubungan itu memang sudah ada atau barang kali diasumsikan ada (Sudjana, 1983).


BAB III
METODELOGI PELAKSANAAN
A.    ALAT DAN BAHAN
ü  Alat
·         Penggaris
·         Jangka sorong
·         Neraca Ohous
ü  Bahan
·         Biji padi
·         Buncis
B.     CARA KERJA
ü  Menyiapkan biji padi dan buncis
ü  Mengambil biji padi sebanyak 30 sampel dengan 1 (satu) sampel terdiri dari 100 biji padi dan juga buncis sebanyak 30 sampel,
ü  Setelah itu menimbang dan mengukur panjang, lebar, masing sampel tersebut,
ü  Analisis korelasi.















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    HASIL
1.      Hasil pengamatan biji padi
NO
PANJANG
LEBAR
BOBOT
PANJANG    (mm)
LEBAR (mm)
BOBOT (gram)
(mm)
(mm)
Gram
(xi- )
     (xi- )2          
(xi- )              
  (xi- )2                  
(xi- )         
  (xi- )2
1
10
2
2,77
1,4
1,96
0,13333333
0,01777778
0,0975
0,00950625
2
9
2
2,39
0,4
0,16
0,13333333
0,01777778
-0,2825
0,07980625
3
10
1,5
2,67
1,4
1,96
-0,3666667
0,13444444
-0,0025
6,25E-06
4
10
2
2,8
1,4
1,96
0,13333333
0,01777778
0,1275
0,01625625
5
9
1,5
2,59
0,4
0,16
-0,3666667
0,13444444
-0,0825
0,00680625
6
12
2
2,72
3,4
11,56
0,13333333
0,01777778
0,0475
0,00225625
7
9
2
2,78
0,4
0,16
0,13333333
0,01777778
0,1075
0,01155625
8
11
2
2,66
2,4
5,76
0,13333333
0,01777778
-0,0125
0,00015625
9
8
2
-0,6
0,36
0,13333333
0,01777778
0
10
8
2
-0,6
0,36
0,13333333
0,01777778
0
11
11
2
2,4
5,76
0,13333333
0,01777778
0
12
8
2
-0,6
0,36
0,13333333
0,01777778
0
13
6
2
-2,6
6,76
0,13333333
0,01777778
0
14
9
2
0,4
0,16
0,13333333
0,01777778
0
15
8
2
-0,6
0,36
0,13333333
0,01777778
0
16
7
2
-1,6
2,56
0,13333333
0,01777778
0
17
7
1
-1,6
2,56
-0,8666667
0,75111111
0
18
9
2
0,4
0,16
0,13333333
0,01777778
0
19
7
2
-1,6
2,56
0,13333333
0,01777778
0
20
8
2
-0,6
0,36
0,13333333
0,01777778
0
21
9
2
0,4
0,16
0,13333333
0,01777778
0
22
9
2
0,4
0,16
0,13333333
0,01777778
0
23
7
1
-1,6
2,56
-0,8666667
0,75111111
0
24
8
1
-0,6
0,36
-0,8666667
0,75111111
0
25
7
2
-1,6
2,56
0,13333333
0,01777778
0
26
9
2
0,4
0,16
0,13333333
0,01777778
0
27
8
2
-0,6
0,36
0,13333333
0,01777778
0
28
9
2
0,4
0,16
0,13333333
0,01777778
0
29
8
2
-0,6
0,36
0,13333333
0,01777778
0
30
8
2
-0,6
0,36
0,13333333
0,01777778
0
8,6
1,86666667
2,6725
∑=53,2
∑=2,96666667
∑=0,12635


        i.            Analisis data
a.       Panjang
Simpangan baku          =                   koefesien keragaman   = ×100%
                                    =                                                               =
                                    =                                                            = 17,56
                                    = 1,35

b.      Lebar
Simpangan baku          =                   koefesien keragaman   = ×100%
                                    =                                                               = ×100%
                                    =                                                         = 17,2
                                    = 0,32
c.       Bobot
Simpangan baku          =                   koefesien keragaman   = ×100%
                                    =                                                             = ×100%
                                    =                                                         = 4,44
                                    = 0,12











































































2.      Tabel  hasil pengamatan buncis

a.       Panjang
Simpangan baku          =                   koefesien keragaman   = ×100%
                                                                                                            = ×100%
=                                                             =13,33%
=
= 1,93
b.      Lebar
Simpangan baku          =                   koefesien keragaman   = ×100%
                                    =                                                               = ×100%
                                    =                                                            = 14,75%
                                    =0,9
c.       Bobot
Simpangan baku          =                   koefesien keragaman   = ×100%
                                    =                                                             = ×100%
                                    =                                                            = 25,42%
                                    = 0,9
d.      Jumlah biji
Simpangan baku          =                   koefesien keragaman   = ×100%

                                    =                                                            = ×100%                                                   
                                    =                                                            = 46,24 %                                                       
                                    = 2,65
      ii.            Analisis korelasi
Dalam analisis ini perlu diketahui terlebih dahulu hal-hal berikut ini :
Korelasi antar variabel x vs y :
·         Panjang biji     vs         bobot biji
·         Lebar               vs         bobot
·         Jumlah biji       vs         bobot
            Rumus analisis korelasi sebagai berikut :
·        
·         HO      = 0
·         HA      ≠ 0
·         T tabel    =5 %
·         Db       = n-2
·         T hitung =
a.       Biji padi
ü  Panjang           vs         bobot
·         r×y =
      =
      =
      = 1,002
·         r×y       ≠ 0
·         db         = 30-2 =28
·         T hitung   =            
=
= 91,09
ü  Lebar               vs         bobot
·         r×y       =
=  4,21
·         r×y       ≠ 0
·                    =  
=  5,47
b.      Buncis.
ü  Panjang           vs         bobot.
r×y       =
= 0
r×y       = 0
           =  
= 0
ü  Lebar               vs         bobot
r×y       =
r×y       = 0
           =  
=  0
ü  Jumlah biji                   vs         bobot.
·           r×y     =
=  0
·         r×y       = 0
·                    =  
= 0














B.     PEMBAHASAN
a.       Padi
Pada praktikum yang dilakukan diketahui bahwa koefesien keragamanan dari setiap istilah ukuran berbeda yaitu panjang :17,56%, lebar : 17,2% dan bobot dari biji padi 4,44%. anlisis korelasi dilakukan dimana nilai dari dari setiap korelasi yaitu pangjang vs bobot dari padi yaitu 1,002 , korelasi dari lebar vs bobot yaitu 4,21. Artinya pada analisis korelasi pada biji padi HA yang artinya nilai dari r*y tidak sama dengan nol (0).
Jika diantara keempat varietas diseleksi, maka yang mempunyai kemungkinan lolos dalam penyeleksian , karena antar sifat- sifat yang diujikan itu mempunyai korelasi yang positif, artinya antara panjang malai, jumlah bulir, jumlah biji, dan bobot malai adalah saling mempengaruhi, sehingga jika varietas ini ditanam pada kondisi lingkungan yang sesuai, varietas ini akan dapat mempertinggi hasil produksinya.
Ditinjau dari sifat yang berhubungan maka korelasi dan percobaan yang dilakukan adalah termasuk sederhana. Karena hanya mengukur keeratan dua sifat / peubah misalnya panjang malai dengan bobot malai. Ada hubungan antara korelasi dengan persamaan regresi  karena perhitungan koefisien korelasi dengan rumus didasarkan pada studi matematika dari garis regresi. Garis regresi diperoleh dari persamaan regresi. Selain itu korelasi membicarakan hubungan antara dua ciri atau lebih, sedangkan regresi kita menduga bentuk hubungan antar ciri-ciri tersebut sehingga keduanya punya hubungan yang sangat erat.
Dalam statistik, koefisien korelasi ituberhubungan dengan persamman regresi karena persamaan regresi menunjukkan bentuk persamaan hubungan antara 2 variabel atau lebih. Sedang koefisien korelasi menunjukkan erat tidaknya hubungan antar variabel tersebut (Sudjana,1983).
b.      Buncis
Ditinjau dari sifat yang berhubungan maka korelasi dan percobaan yang dilakukan adalah termasuk sederhana. Karena hanya mengukur keeratan dua sifat / peubah misalnya panjang malai dengan bobot malai. Ada hubungan antara korelasi dengan persamaan regresi  karena perhitungan koefisien korelasi dengan rumus didasarkan pada studi matematika dari garis regresi. Garis regresi diperoleh dari persamaan regresi. Selain itu korelasi membicarakan hubungan antara dua ciri atau lebih, sedangkan regresi kita menduga bentuk hubungan antar ciri-ciri tersebut sehingga keduanya punya hubungan yang sangat erat.
Dalam statistik, koefisien korelasi ituberhubungan dengan persamman regresi karena persamaan regresi menunjukkan bentuk persamaan hubungan antara 2 variabel atau lebih. Sedang koefisien korelasi menunjukkan erat tidaknya hubungan antar variabel tersebut (Sudjana,1983).
Pada praktikum yang dilakukan diketahui bahwa koefesien keragamanan dari setiap istilah ukuran berbeda yaitu panjang :13,33%, lebar : 14,75% dan bobot dari biji padi 25,42%, jumlah biji :46,24%. anlisis korelasi dilakukan dimana nilai dari dari setiap korelasi yaitu pangjang vs bobot dari padi yaitu 0 , korelasi dari lebar vs bobot yaitu 0, jumlah biji vs bobot 0. Artinya pada analisis korelasi pada biji padi HO yang artinya nilai dari r*y  sama dengan nol (0).






















BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang dilaksanakan penulis menyimpilkan bahwa :
a.       Pada padi koefesien keragamannya berbeda dan pada analisis korelasi HA atau r*y tidak sama dengan nol
b.      Pada buncis koefesien keragaman berbeda analisis korelasinya adalah HO atau r*y sama dengan nol.


























DAFTAR PUSTAKA
Nasir, M. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Soepomo, R. 1968. Ilmu Seleksi dan Teknik Kebun Percobaan. Jakarta : Soeroengan

Sudjana. 1983. Teknik Analisis Regresi Dan Korelasi. Bandung : Tarsito
Suryati, Dotti. 2007. Penuntun Pratikum Genetika Dasar. Bengkulu: Lab. Agronomi Universitas Bengkulu.
Syamsuri, Istamar, dkk. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Welsh, James R.. 1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Jakarta: Erlangga..








 














Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BENIH ACARA III UJI VIGOR BENIH

laporan praktikum Hibridisasi dan kastrasi pada tanaman padi

laporan praktikum kultur jaringan pengenalan laboratorium