keragaman sifat pada tanaman dan analisis korelasi
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Setiap
makhluk hidup memiliki ciri khas. Ciri khas tersebut ada yang sama dan ada yang
berbeda degan makhluk hidup lain. Berdasarkan persamaan dan perbedaan yang
dimiliki, beberapa jenis makhluk hidup dapat dikelompokkan menjadi satu
kelompok. Perbedaan atau variasi dan persamaan yang tampak di antara makhluk
hidup dalam kelompok itulah yang dijadikan dasar untuk pembagiannya menjadi
beberapa kelompok yang lebih kecil.
Keragaman
genetik adalah variasi karakteristik yang ada diwariskan pada populasi spesies yang
sama. Ini melayani peran penting dalam evolusi dengan memungkinkan spesies
untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan untuk melawan parasit. Hal ini
berlaku untuk spesies peliharaan, yang biasanya memiliki tingkat rendah
keragaman. Mempelajari keragaman genetik pada manusia dapat membantu para
peneliti membentuk teori tentang asal-usul manusia.
Keanekaragaman
gen adalah variasi atau perbedaan gen yang terjadi dalam suatu jenis atau
spesies makhluk hidup. Contohnya, buah durian (Durio zibethinus) ada yang
berkulit tebal, berkulit tipis, berdaging buah tebal, berdaging buah tipis,
berbiji besar, atau berbiji kecil. Demikian pula buah pisang (Musa
paradisiaca) memiliki ukuran, bentuk, warna, tekstur, dan rasa daging buah
yang berbeda-beda. Pisang memiliki berbagai varietas, antara lain pisang raja
sereh, pisang raja uli, pisang raja molo, dan pisang raja jambe. Varietas
mangga (Mangifera indica), misalnya mangga manalagi, cengkir,
golek, gedong, apel, kidang, dan bapang. Sementara keanekaragaman genetik pada
spesies hewan, misalnya warna rambut pada kucing (Felis silvestris catus),
ada yang berwarna hitam, putih, abu-abu, dan cokelat.
Tujuan dari pemuliaan tanaman adalah mendapatkan tanaman dengan sifat yang
unggul. Tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul misalnya unggul dalam
produksi, unggul karena tahan terhadap hama dan penyakit tanaman tertentu
tahanterhadap cekaman, seperti cekaman salin dan lain-lain. Cara untuk
mencapaian tujuan tersebut diperlukan pengetahuan tanaman lebih mendalam.
Pengetahuan tentang tanaman tersebut baik secara anatomi, morfologi dan
fisiologi tanaman.Pengetahuan tentang sifat-sifat pada tanaman juga akan
membantu dalam pelaksanaan perbaikan sifat. Sifat-sifat tanaman dibagi
menjadi dua, yaitu sifat kualitatif dan sifat kuantitatif. Sifat kualitatif
merupakan sifat yang dipengaruhi oleh sedikit gen dan tidak atau sedikit
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sifat kuantitatif adalah sifat yang
dipengaruhi oleh banyak gen, dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Kenyataannya sifat-sifat pada tanaman menunjukan hubungan satu sama lain.
Adanya sifat-sifat yang memiliki hubungan ini dapat membantu usaha-usaha dalam
pemuliaan tanaman. hubungan antar Sifat-sifat pada tanaman dapat dihitung
dengan koefisien korelasi. Selain itu, diperlukannya pengetahuan tentang
derajad hububungan yang ada diantara sifat-sifat tersebut. !erajad hubungan
antara sifat-sifat pada tanaman didukung dengan data yang akurat.
"engetahui derajad hubungan pada suatu tanaman akan membantu langkah
pemulia tanaman dalam melakukan usaha pemuliaan tanaman. usaha pemuliaan
tanaman tersebut missalnya dalam melakukan seleksi tananam untuk dijadikan
sebagai tetua.
Koefisien korelasi digolongkan menjadi dua macam yaitu koefisien korelasi
negatif dan koefisien korelasi positif. Koefisien korelasi negatif bila derajat
hubungan antara dua sifat menunjukkan hal yang berlawanan. Artinya bertambahnya
nilai sifat yang satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain.
Koefisien korelatif positif bila derajat hubungan antara dua sifat tanaman
menunjukkan hal yang nyata, artinya bertambahnya nilai sifat satu diikuti oleh
bertambahnya nilai sifat yang lain. Sebaliknya, berkurangnya nilai sifat yang
satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain. Sedangkan apabila koefisien
korelasi = 0 berarti tidak ada hubungan sama sekali antara kedua sifat
tersebut. Khusus sifat-sifat kualitatif pada koefisien korelatif = 1. Misal
pada kedelai, apabila hipokotil ungu, maka warna bunga akan ungu. Sedangkan
bila hipokotil hijau sebaliknya, maka bunganya akan berwarna putih.
Korelasi yang sempurna jarang terjadi pada sifat-sifat kuantitatif, karena
lingkungan sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat tersebut. Contohnya,
hubungan antar tinggi tanaman dengan bobot tanaman. Tanaman yang tinggi belum
tentu bobotnya akan tinggi, sebaliknya yang pendek belum tentu bobotnya akan
rendah.
Koefisien korelasi dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan
(resemblance) dalam variabilitas antara tanaman induk dengan keturunannya,
misal sifat daya hasil tinggi, jumlah anakan dan sebagainya. Analisis korelasi
dari sifat-sifat tersebut akan dapat diketahui tingkat kemiripan antara tetua
dan keturunannya.
B. TUJUAN
1.
Mengetahui derajat hubungan antara dua sifat pada
tanaman.
2.
Mengetahiu bentuk hubungan antara dua sifat tanaman.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KERAGAMAN
SIFAT PADA TANAMAN
Setiap
makhluk hidup memiliki ciri khas. Ciri khas tersebut ada yang sama dan ada yang
berbeda degan makhluk hidup lain. Berdasarkan persamaan dan perbedaan yang
dimiliki, beberapa jenis makhluk hidup dapat dikelompokkan menjadi satu
kelompok. Perbedaan atau variasi dan persamaan yang tampak di antara makhluk
hidup dalam kelompok itulah yang dijadikan dasar untuk pembagiannya menjadi
beberapa kelompok yang lebih kecil. (Henny Riandari, 2009)
1.
Pengertian Keragaman
Keragaman adalah sifat yang
ditunjukkan suatu tanaman namun berbeda-beda tiap tanaman (Djoemairi, 2008).
ü Keragaman merupakan perbedaan antara
tanaman satu dengan tanaman lainnya berdasarkan sifat yang dimiliki dan
penampang tanaman (Mangoendidjojo, 2003).
ü Plant diversity is one measure of
botanical composition that can provide an indication of changes in habitat
quality (Norton, L. 2009).
ü Keragaman tumbuhan merupakan salah
satu ukuran dari komposisi botani yang dapat memberikan indikasi perubahan
kualitas habitat
ü Plant diversity is important because
various species come to depend on each other; therefore, eliminating one
species can cause several other species to suffer (Gibson, J. Phil, 2007).
ü Keragaman tumbuhan ini penting
karena berbagai spesies datang bergantung pada satu sama lain, karena itu, menghilangkan
satu spesies dapat menyebabkan beberapa spesies lain menderita
2.
Macam Keragaman
ü Keragaman Yang Timbul Karena Faktor
Lingkungan
Variasi ini tidak diwariskan pada
keturunannya. Contohnya pada tanaman mangga yang berasal dari satu pohon induk.
Lima pohon dipupuk dan lima pohon lainnya tidak dipupuk. Tanaman yang dipupuk
tentu akan memberikan reaksi pertumbuhan yang lebih baik dan bagus. Apabila
dicermati antara pohon yang satu dengan yang lain akan tampak perbedaan karena
faktor lingkungan. Jadi perbedaan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi
tampilan akhir suatu tanaman. Selain itu bunga panca warna yang di tanam
pada tanah yang bersifat basa akan memunculkan warna bunga merah,sedangkan yang
di tanam pada tanah yang memiliki pH netral berwarna putih kebiru – biruan
(Mangoendidjojo,2008).
ü Keragaman Yang Timbul Karena Faktor
Genetik
Keragaman ini diwariskan kepada
keturunannya. Apabila ada perbedaan atau variasi yang timbul dalam suatu
populasi tanaman yang ditanam dalam lingkungan yang sama maka keragaman
yang muncul merupakan keragaman yang terjadi karena faktor genetik. Contoh pada
tanaman mawar yang di tanam pada kondisi lingkungan yang sama tetapi
menunjukkan adanya keragaman pada warna bunganya. Pada tanaman anggrek ,
tanaman yang di tanam pada lahan yang sama dan lingkungan yang sama
menghasilkan warna dan bentuk bunga yang beragam (Mangoendidjojo,2008).
ü Macam – Macam Karakterisasi
Pada dasarnya fenotipe tanaman dapat
dikategorikan atas dua bentuk karakter yaitu karakter kualitatif dan karakter
kuantitatif.
Ø Karakter Kualitatif
Karakter kualitatif merupakan wujud
fenotipe yang saling berbeda tajam antara satu dengan yang lain secara
kualitatif dan masing-masing dapat dikelompokkan dalam bentuk kategori.
Karakter kualitatif biasanya dapat diamati dan dibedakan dengan jelas secara
visual, karena umumnya bersifat diskret. Biasanya karakter ini dikendalikan
oleh satu atau beberapa gen. Bila karakter ini dikendalikan oleh satu gen, maka
disebut dengan karakter monogenik, dan bila beberapa gen disebut dengan
oligogenik. Di samping itu karena besarnya peranan satu unit gen dalam mengekspresikan
fenotipenya, maka sering juga disebut dengan gen mayor. Karakter kualitatif
meliputi umur tanaman, kandungan minyak, warna, rasa, ketahanan terhadap
organisme pengganggu, kandungan protein dalam biji, dan lain-lain.
Ø Karakter Kuantitatif
Karakter kuantitatif umumnya
dikendalikan oleh banyak gen dan merupakan hasil akhir dari suatu proses
pertumbuhan dan perkembangan yang berkaitan langsung dengan karakter fisiologi
dan morfologis. Diantara kedua karakter ini, karakter morfologis lebih mudah
diamati, misalnya produksi tanaman sering dijadikan obyek pemuliaan tanaman.
Sebagai contoh, komponen hasil tanaman biji-bijian meliputi jumlah tanaman per
satuan luas, jumlah malai per tanaman, jumlah bulir per malai, berat bulir,
berat biji kering, dan lain-lain. Untuk ubi jalar, komponen hasil meliputi
jumlah dan ukuran umbi, ukuran dan efisiensi kanopi, rasio bagian atas dan
umbi, lama masa dormansi, dan lain-lain. Umumnya dalam mempelajari pewarisan
karakter kuantitatif digunakan pendekatan teori genetika kuantitatif. Sifat
kuantitatif yang dipelajari dinyatakan dalam besaran kuantitatif atau satuan
metrik yang selanjutnya digunakan pendekatan analisis untuk sejumlah ukuran
karakter tersebut (Nasir, M. 2001).
B. ANALISIS
KORELASI
Korelasi (Correlation) adalah salah
satu teknik statistik yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel
atau lebih yang bersifat kuantitatif. Hubungan (relationship) antara dua
variabel dapat hanya karena kebetulan saja (accidentil), dapat juga merupakan
hubungan sebab akibat. Dua variabel dikatakan berkorelasi jika perubahan pada
variabel yang satu akan diikuti perubahan variabel lain secara teratur, dengan
arah yang sama atau arah yang berlawanan (Djarwanto dan Subagyo, 1981)
Masalah korelasi memandang variasi
bersama dua pengukuran, yang tidak satu pun dibatasi oleh peneliti.(Dixon J.W,
1991).
Derajat hubungan antara dua sifat
tanaman , biasanya dinyatakan dengan suatu bilangan yang disebut koefisien
korelasi. Korelasi dinyatakan dengan koefisien ( r ) dan merentang dari –1
sampai +1. Koefisien 1, dengan tanda + atau – menunjukkan korelasi sempurna
antara dua peubah. Sebaliknya, koefisien nol berarti tidak ada korelasi sama
sekali. Keseragaman dalam derajat korelasi dinyatakan oleh koefisien yang
merentang dari 0 sampai 1 dan dari –1 sampai 0. (Schefler, 1979)
Sudjana (1986) menyatakan bahwa jika
terdapat data atas dua atau lebih variabel, maka dapat kita gunakan suatu cara
yang menyatakan bagaimana variabel-variabel itu berhubungan. Hubungan yang
didapat umumnya dinyatakan dalam bentuk persamaan matematika yang menyatakan
hubungan fungsional antara variabel-variabel.
Kategori korelasi yang ‘baik’ jelas
tergantung pada apa yang dilakukan peneliti atau apa yang diharapkannya dari
uji kajinya. Jika ia berharap uji kajinya menunjukkan tidak terdapat kaitan
antara dua peubah, maka koefisien sebesar nol akan sangat menggembirakan. Jika
sebaliknya ia mengharapkan akan terlihat kaitan yang erat, maka harga r yang
mendekati ±1 akan dipandang sebagai hasil yang optimum. Sebagaimana lazimnya,
sistem yang hidup tidak membantu dengan menghasilkan bilangan bulat, keragaman
lebih mungkin terjadi daripada perkecualian. (Soepomo, 1968).
Korelasi antara dua karakter dapat
dibagi dalam Korelasi Fenotipik dan Korelasi Genotipik. Korelasi Fenotipik
dapat dipisahkan menjadi korelasi Genotipik dan Korelasi Lingkungan. Oleh
karena ini, Korelasi Fenotipik ini selanjutnya diharapkan dapat menunjukkan
korelasi genotipik yang lebih berati dalam Program Pemuliaan Tanaman. Korelasi
ini dapat diartikan sebagai korelasi nilai Pemuliaan dari dua karakter yang
diamati. Sedangkan korelasi lingkungan merupakan sisaan galat yang juga
memberikan konstribusi terhadap Fenotip (Nasir,2001).
Nilai korelasi antara dua sifat
tanaman bervariasi, yaitu berkisar antara -1 sampai +1, sehingga dikenal dua
macam koefisien korelasi yaitu Koefisien Korelasi Positif dan Koefisien
Korelasi Negatif. Korelasi Positif bila bertambahnya sifat yang satu bersamaan
dengan bertambahnya sifat yang lain. Korelasi Negatif, bila bertambahnya sifat
yang satu bersamaan dengan berkurangnya sifat yang lain. Sedangkan apabila
koefisien korelasi = 0 berarti tidak ada hubungan sama sekali antara kedua
sifat tersebut (Sudjana1983: Soepomo,1968).
Perhitungan koefisien korelasi
antara x dan y sebagai ukuran hubungan dapat dilihat dari dua segi. Pertama,
koefisien korelasi dihitung untuk menentukan apakah ada korelasi antara x dan y
dan jika ada apakah berarti atau tidak. Kedua, untuk menentukan derjat hubungan
antara x dan y jika hubungan itu memang sudah ada atau barang kali diasumsikan
ada (Sudjana, 1983).
BAB III
METODELOGI PELAKSANAAN
A. ALAT DAN BAHAN
ü Alat
·
Penggaris
·
Jangka
sorong
·
Neraca Ohous
ü Bahan
·
Biji padi
·
Buncis
B. CARA KERJA
ü Menyiapkan biji padi dan buncis
ü Mengambil biji padi sebanyak 30
sampel dengan 1 (satu) sampel terdiri dari 100 biji padi dan juga buncis
sebanyak 30 sampel,
ü Setelah itu menimbang dan mengukur
panjang, lebar, masing sampel tersebut,
ü Analisis korelasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Hasil pengamatan biji padi
NO
|
PANJANG
|
LEBAR
|
BOBOT
|
PANJANG (mm)
|
LEBAR (mm)
|
BOBOT (gram)
|
|||
(mm)
|
(mm)
|
Gram
|
|||||||
(xi-
|
(xi-
|
(xi-
|
(xi-
|
(xi-
|
(xi-
|
||||
1
|
10
|
2
|
2,77
|
1,4
|
1,96
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0,0975
|
0,00950625
|
2
|
9
|
2
|
2,39
|
0,4
|
0,16
|
0,13333333
|
0,01777778
|
-0,2825
|
0,07980625
|
3
|
10
|
1,5
|
2,67
|
1,4
|
1,96
|
-0,3666667
|
0,13444444
|
-0,0025
|
6,25E-06
|
4
|
10
|
2
|
2,8
|
1,4
|
1,96
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0,1275
|
0,01625625
|
5
|
9
|
1,5
|
2,59
|
0,4
|
0,16
|
-0,3666667
|
0,13444444
|
-0,0825
|
0,00680625
|
6
|
12
|
2
|
2,72
|
3,4
|
11,56
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0,0475
|
0,00225625
|
7
|
9
|
2
|
2,78
|
0,4
|
0,16
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0,1075
|
0,01155625
|
8
|
11
|
2
|
2,66
|
2,4
|
5,76
|
0,13333333
|
0,01777778
|
-0,0125
|
0,00015625
|
9
|
8
|
2
|
-0,6
|
0,36
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
10
|
8
|
2
|
-0,6
|
0,36
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
11
|
11
|
2
|
2,4
|
5,76
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
12
|
8
|
2
|
-0,6
|
0,36
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
13
|
6
|
2
|
-2,6
|
6,76
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
14
|
9
|
2
|
0,4
|
0,16
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
15
|
8
|
2
|
-0,6
|
0,36
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
16
|
7
|
2
|
-1,6
|
2,56
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
17
|
7
|
1
|
-1,6
|
2,56
|
-0,8666667
|
0,75111111
|
0
|
||
18
|
9
|
2
|
0,4
|
0,16
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
19
|
7
|
2
|
-1,6
|
2,56
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
20
|
8
|
2
|
-0,6
|
0,36
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
21
|
9
|
2
|
0,4
|
0,16
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
22
|
9
|
2
|
0,4
|
0,16
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
23
|
7
|
1
|
-1,6
|
2,56
|
-0,8666667
|
0,75111111
|
0
|
||
24
|
8
|
1
|
-0,6
|
0,36
|
-0,8666667
|
0,75111111
|
0
|
||
25
|
7
|
2
|
-1,6
|
2,56
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
26
|
9
|
2
|
0,4
|
0,16
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
27
|
8
|
2
|
-0,6
|
0,36
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
28
|
9
|
2
|
0,4
|
0,16
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
29
|
8
|
2
|
-0,6
|
0,36
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
30
|
8
|
2
|
-0,6
|
0,36
|
0,13333333
|
0,01777778
|
0
|
||
8,6
|
1,86666667
|
2,6725
|
∑=53,2
|
∑=2,96666667
|
∑=0,12635
|
||||
i.
Analisis
data
a. Panjang
Simpangan baku =
koefesien
keragaman =
×100%
=
=
=
=
17,56
=
1,35
b. Lebar
Simpangan baku =
koefesien keragaman =
×100%
=
=
×100%
=
=
17,2
=
0,32
c. Bobot
Simpangan baku =
koefesien
keragaman =
×100%
=
=
×100%
=
=
4,44
=
0,12
2. Tabel hasil pengamatan buncis
a. Panjang
Simpangan baku =
koefesien keragaman =
×100%
=
×100%
=
=13,33%
=
= 1,93
b. Lebar
Simpangan baku =
koefesien keragaman =
×100%
=
=
×100%
=
=
14,75%
=0,9
c. Bobot
Simpangan baku =
koefesien
keragaman =
×100%
=
=
×100%
=
=
25,42%
=
0,9
d. Jumlah biji
Simpangan baku =
koefesien keragaman =
×100%
=
=
×100%
=
=
46,24 %
= 2,65
ii.
Analisis korelasi
Dalam
analisis ini perlu diketahui terlebih dahulu hal-hal berikut ini :
Korelasi
antar variabel x vs y :
·
Panjang biji vs bobot biji
·
Lebar vs bobot
·
Jumlah biji vs bobot
Rumus
analisis korelasi sebagai berikut :
·
·
HO = 0
·
HA ≠ 0
·
T tabel =5
%
·
Db = n-2
·
T hitung =
a. Biji padi
ü Panjang vs bobot
·
r×y =
=
=
= 1,002
·
r×y ≠ 0
·
db = 30-2 =28
·
T hitung =
=
= 91,09
ü Lebar vs bobot
·
r×y =
= 4,21
·
r×y ≠ 0
·
=
= 5,47
b. Buncis.
ü Panjang vs bobot.
r×y =
= 0
r×y = 0
=
= 0
ü Lebar vs bobot
r×y =
r×y = 0
=
= 0
ü Jumlah biji vs bobot.
·
r×y =
= 0
·
r×y = 0
·
=
= 0
B. PEMBAHASAN
a.
Padi
Pada praktikum yang dilakukan
diketahui bahwa koefesien keragamanan dari setiap istilah ukuran berbeda yaitu
panjang :17,56%, lebar : 17,2% dan bobot dari biji padi 4,44%. anlisis korelasi
dilakukan dimana nilai dari dari setiap korelasi yaitu pangjang vs bobot dari
padi yaitu 1,002 , korelasi dari lebar vs bobot yaitu 4,21. Artinya pada
analisis korelasi pada biji padi HA yang artinya nilai dari r*y tidak sama
dengan nol (0).
Jika diantara keempat varietas
diseleksi, maka yang mempunyai kemungkinan lolos dalam penyeleksian , karena
antar sifat- sifat yang diujikan itu mempunyai korelasi yang positif, artinya
antara panjang malai, jumlah bulir, jumlah biji, dan bobot malai adalah saling
mempengaruhi, sehingga jika varietas ini ditanam pada kondisi lingkungan yang
sesuai, varietas ini akan dapat mempertinggi hasil produksinya.
Ditinjau dari sifat yang berhubungan
maka korelasi dan percobaan yang dilakukan adalah termasuk sederhana. Karena
hanya mengukur keeratan dua sifat / peubah misalnya panjang malai dengan bobot
malai. Ada hubungan antara korelasi dengan persamaan regresi karena
perhitungan koefisien korelasi dengan rumus didasarkan pada studi matematika
dari garis regresi. Garis regresi diperoleh dari persamaan regresi. Selain itu
korelasi membicarakan hubungan antara dua ciri atau lebih, sedangkan regresi
kita menduga bentuk hubungan antar ciri-ciri tersebut sehingga keduanya punya
hubungan yang sangat erat.
Dalam statistik, koefisien korelasi
ituberhubungan dengan persamman regresi karena persamaan regresi menunjukkan
bentuk persamaan hubungan antara 2 variabel atau lebih. Sedang koefisien
korelasi menunjukkan erat tidaknya hubungan antar variabel tersebut
(Sudjana,1983).
b.
Buncis
Ditinjau dari sifat yang berhubungan
maka korelasi dan percobaan yang dilakukan adalah termasuk sederhana. Karena
hanya mengukur keeratan dua sifat / peubah misalnya panjang malai dengan bobot
malai. Ada hubungan antara korelasi dengan persamaan regresi karena perhitungan
koefisien korelasi dengan rumus didasarkan pada studi matematika dari garis
regresi. Garis regresi diperoleh dari persamaan regresi. Selain itu korelasi
membicarakan hubungan antara dua ciri atau lebih, sedangkan regresi kita
menduga bentuk hubungan antar ciri-ciri tersebut sehingga keduanya punya
hubungan yang sangat erat.
Dalam statistik, koefisien korelasi
ituberhubungan dengan persamman regresi karena persamaan regresi menunjukkan
bentuk persamaan hubungan antara 2 variabel atau lebih. Sedang koefisien
korelasi menunjukkan erat tidaknya hubungan antar variabel tersebut
(Sudjana,1983).
Pada praktikum yang dilakukan
diketahui bahwa koefesien keragamanan dari setiap istilah ukuran berbeda yaitu
panjang :13,33%, lebar : 14,75% dan bobot dari biji padi 25,42%, jumlah biji
:46,24%. anlisis korelasi dilakukan dimana nilai dari dari setiap korelasi
yaitu pangjang vs bobot dari padi yaitu 0 , korelasi dari lebar vs bobot yaitu
0, jumlah biji vs bobot 0. Artinya pada analisis korelasi pada biji padi HO yang
artinya nilai dari r*y sama dengan nol
(0).
BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang dilaksanakan penulis
menyimpilkan bahwa :
a. Pada padi
koefesien keragamannya berbeda dan pada analisis korelasi HA atau r*y tidak
sama dengan nol
b. Pada buncis
koefesien keragaman berbeda analisis korelasinya adalah HO atau r*y sama dengan
nol.
DAFTAR PUSTAKA
Nasir, M.
2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Soepomo, R.
1968. Ilmu Seleksi dan Teknik Kebun Percobaan. Jakarta : Soeroengan
Sudjana.
1983. Teknik Analisis Regresi Dan Korelasi. Bandung : Tarsito
Suryati, Dotti. 2007. Penuntun
Pratikum Genetika Dasar. Bengkulu: Lab. Agronomi Universitas Bengkulu.
Syamsuri, Istamar, dkk. 2004. Biologi.
Jakarta: Erlangga.
Welsh, James R.. 1991.
Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Jakarta: Erlangga..
Komentar
Posting Komentar